Inovasi Teknologi PHM Berhasil Dongkrak Produksi Minyak Lapangan Handil

Jumat, 30 Januari 2026 | 09:09:10 WIB
Inovasi Teknologi PHM Berhasil Dongkrak Produksi Minyak Lapangan Handil

JAKARTA - Mengawali tahun 2026, sektor hulu migas nasional mendapatkan kabar baik dari Kalimantan Timur. PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) membuktikan bahwa status lapangan yang sudah matang (mature field) bukanlah penghalang untuk mencapai produktivitas tinggi. Melalui penerapan inovasi teknologi pada sumur-sumur dengan karakteristik menantang, anak usaha Pertamina ini berhasil mencatatkan lonjakan produksi yang signifikan, sekaligus melampaui target yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Keberhasilan ini menjadi angin segar bagi upaya swasembada energi nasional, di mana PHM mampu mengekstraksi potensi tersembunyi dari sumur-sumur yang sebelumnya dianggap memiliki kompleksitas teknis sangat tinggi. Fokus utama kali ini tertuju pada Lapangan Handil, yang kini menjadi salah satu pilar penguat produksi di Wilayah Kerja Mahakam.

Melampaui Target Produksi di Awal Tahun 2026

PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) mencatatkan pencapaian positif pada awal tahun 2026 ini melalui tambahan produksi minyak sebesar 2.000 barel per hari (bph) dari dua sumur High Pour Point Oil (HPPO) di Lapangan Handil, Kalimantan Timur. Pencapaian ini tergolong fenomenal mengingat angka tersebut melampaui perkiraan awal yang tertuang dalam Work Program & Budget (WP&B) 2026, yaitu sekitar 400 bph.

Lonjakan ini secara otomatis memperkuat posisi PHM dalam kontribusi energi nasional. Tambahan ini meningkatkan total kontribusi produksi sumur HPPO di operasi PHM menjadi 3.000 bph, termasuk produksi dari satu sumur di Lapangan Tambora yang telah beroperasi sejak 2024.

Mengatasi Tantangan Teknis Minyak Titik Tuang Tinggi

Keberhasilan di Lapangan Handil tidak didapatkan dengan mudah. Kedua sumur HPPO tersebut memiliki karakteristik khusus, di mana minyak yang diproduksikan memiliki titik tuang (pour point) lebih tinggi dibandingkan temperatur operasi pipa sebesar 25 derajat celcius. Dalam dunia perminyakan, kondisi ini merupakan tantangan besar; tanpa penanganan khusus, minyak berpotensi menjadi padat dan menghambat aliran pipa produksi (clogging).

Guna mengatasi hambatan fisik tersebut, PHM menerapkan solusi kimiawi yang presisi. Senior Manager Production PHM, Robert Roy Antoni, menjelaskan bahwa PHM menerapkan chemical treatment Pour Point Depressant (PPD) yang mampu menurunkan titik tuang minyak hingga 21 derajat celcius, sehingga minyak tetap cair dan dapat dialirkan dengan lancar.

Komitmen Optimalisasi Lapangan Mature yang Menantang

Penerapan teknologi PPD tersebut merupakan bagian dari strategi besar PHM dalam mengelola blok yang sudah berumur. Robert Roy Antoni menegaskan bahwa kerumitan geologis dan teknis justru menjadi pemacu inovasi bagi tim di lapangan.

"Blok Mahakam merupakan lapangan mature dengan karakteristik sumur yang semakin menantang. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan komitmen kami untuk terus mencari solusi agar sumur-sumur challenging, atau sumur yang memiliki kompleksitas tinggi dan sebelumnya belum tersentuh, dapat diproduksikan secara optimal," ujar Robert dalam siaran tertulisnya.

Senada dengan hal tersebut, General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menambahkan bahwa keberhasilan memproduksikan sumur-sumur dengan tantangan operasional dan teknikal yang semakin kompleks telah menjadi bagian dari pengalaman dan kompetensi PHM dalam industri migas global.

Integrasi Fasilitas dan Produksi Kumulatif Sumur Emulsi

Rekam jejak PHM dalam melakukan efisiensi dan inovasi fasilitas sudah terlihat dari keberhasilan sebelumnya. PHM tercatat sukses mengoperasikan 17 sumur minyak beremulsi dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah tersedia di berbagai lapangan gas seperti Tunu, Tambora, Sisi Nubi, Peciko, dan South Mahakam. Secara kumulatif, langkah integrasi ini menghasilkan tambahan produksi hingga 5.200 bph berdasarkan pengukuran di kepala sumur.

Inovasi-inovasi inilah yang membawa PHM memasuki tahun 2026 dengan performa di atas rata-rata. Dengan tambahan dari sumur HPPO dan sumur beremulsi, rata-rata produksi minyak PHM mencapai 25 ribu bph. Angka ini sekitar 20 persen lebih tinggi dibandingkan target WP&B yang ditetapkan oleh Pemerintah.

Mendukung Asta Cita dan Target Produksi Nasional 2029

Keberlanjutan produksi migas dari Wilayah Kerja Mahakam dipandang sebagai instrumen vital dalam mendukung agenda besar pemerintah, khususnya terkait ketahanan dan swasembada energi sesuai dengan visi Asta Cita. PHM percaya bahwa investasi berkelanjutan pada kegiatan eksplorasi maupun eksploitasi adalah kunci utama.

"Kami meyakini bahwa keberlanjutan operasi dan bisnis merupakan kunci dalam mendukung kebijakan transisi energi Pertamina, sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian target produksi nasional sebesar 1 juta barel minyak dan 12 miliar standar kaki kubik gas pada tahun 2029 atau lebih cepat," tegas Setyo Sapto Edi.

Sebagai anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) di Zona 8, PHM tetap berkomitmen menjalankan roda bisnisnya dengan menjunjung tinggi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Keberhasilan teknologi di Lapangan Handil ini menjadi bukti bahwa sinergi antara keahlian manusia dan inovasi teknologi mampu memperpanjang usia produktif lapangan minyak nasional demi kemandirian energi Indonesia.

Terkini