PLN Memperkuat Kolaborasi IBC dengan Mitra untuk Hilirisasi Industri Baterai

Senin, 02 Februari 2026 | 14:34:00 WIB

JAKARTA— Upaya hilirisasi industri baterai di Indonesia memasuki babak baru setelah PT PLN (Persero) menyatakan dukungan kuat terhadap kolaborasi antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dan mitra strategisnya. Dukungan tersebut menjadi sorotan utama dari berbagai pihak yang menilai bahwa pengembangan industri baterai terintegrasi dapat mempercepat transformasi energi nasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru yang signifikan.

Sinergi Pemegang Saham untuk Hilirisasi Baterai Terintegrasi

Sebagai salah satu pemegang saham utama dari PT Industri Baterai Indonesia atau yang dikenal sebagai Indonesia Battery Corporation (IBC), PLN secara resmi mendukung langkah IBC dalam membentuk kolaborasi strategis bersama mitra industri. Dukungan ini muncul setelah penandatanganan framework agreement antara IBC, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTAM), dan Konsorsium HYD Investment Limited (HYD) pada 30 Januari 2026 di Jakarta.

Kerja sama ini menandai titik awal yang penting dalam usaha memperkuat pengembangan industri baterai yang terintegrasi dari hulu hingga hilir di Indonesia. Konsep terintegrasi ini mencakup pengolahan bahan baku, manufaktur sel baterai, hingga integrasi produk jadi yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai sektor, baik kendaraan listrik maupun sistem energi terbarukan.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, penandatanganan ini menjadi salah satu tonggak penting dalam percepatan proses hilirisasi nasional, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Proyek ini diperkirakan memiliki nilai investasi mencapai USD 6 miliar, dengan kapasitas produksi baterai listrik hingga 20 gigawatt hour (GWh) dan potensi menciptakan sekitar 10 ribu lapangan kerja baru.

Prioritas Tenaga Kerja Lokal dan Kepentingan Nasional

Dalam pidatonya, Bahlil menekankan bahwa dalam pengelolaan sumber daya alam, kepentingan negara harus menjadi prioritas utama. Ia menambahkan bahwa harus ada keterlibatan aktif dari perusahaan dan tenaga kerja lokal pada seluruh tahap pengembangan — mulai dari ekosistem baterai dan katoda di Jawa Barat hingga pembangunan fasilitas tambang, smelter, dan pabrik hilirisasi di Halmahera Timur, Maluku Utara.

“Yang bisa dikerjakan dalam negeri, pakai tenaga kerja dalam negeri. Yang tidak bisa dikerjakan, baru ambil dari luar. Karena ini adalah bagian daripada komitmen kita,” tegas Bahlil dalam kesempatan tersebut.

Selain itu, Bahlil juga menegaskan bahwa proyek ini tidak hanya akan mendukung industri kendaraan listrik, tetapi juga mendukung pembangkit listrik hijau, termasuk kebutuhan baterai untuk program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt (GW). “Jadi ini tidak hanya untuk baterai mobil (listrik), tapi ini juga didesain untuk baterai panel surya,” tambahnya.

Langkah Awal IBC dan Mitra Global

Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menyatakan bahwa penandatanganan framework agreement ini merupakan langkah awal dari perjalanan strategis IBC. Menurut Aditya, fase kerja sama ini tidak hanya berfokus pada menarik investasi, tetapi juga pada penguasaan teknologi dan pengembangan kapasitas industri dalam negeri.

“Melalui kemitraan dengan pelaku industri global terkemuka, kami ingin memastikan terjadinya transfer pengetahuan dan teknologi yang akan memperkuat fondasi industri baterai terintegrasi nasional dalam jangka panjang, sekaligus mendukung agenda transisi energi Indonesia,” jelas Aditya.

Ia menambahkan bahwa proyek ini akan memasuki tahap berikutnya melalui pelaksanaan studi kelayakan bersama yang akan mengkaji seluruh aspek terkait teknis, ekonomi, dan potensi pasar. IBC bersama ANTAM dan Konsorsium HYD berkomitmen memastikan seluruh tahapan pengembangan berjalan sesuai dengan prinsip tata kelola yang baik serta tetap menjaga kepentingan strategis nasional.

Aditya juga menegaskan bahwa proyek ini masih di tahap awal, dan setelah studi kelayakan selesai, langkah selanjutnya adalah menyusun definitive agreement dan melanjutkan implementasi lebih lanjut sepanjang tahun ini.

Peran PLN dalam Mendorong Ekosistem Energi Nasional

Sementara itu, langsung dari manajemen PLN, Direktur Utama Darmawan Prasodjo menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif ini sebagai langkah strategis dalam mendukung pembangunan ekosistem kendaraan listrik nasional sekaligus meningkatkan kapabilitas sistem pembangkit listrik nasional.

Darmawan menekankan bahwa industri baterai terintegrasi menjadi elemen kunci dalam membangun sistem kelistrikan yang lebih adaptif, andal, dan berkelanjutan. Bagi PLN, penguatan ekosistem baterai domestik tidak hanya dapat mempercepat adopsi teknologi energi bersih, tetapi juga memperkuat ketahanan pasokan energi nasional.

“Industri baterai terintegrasi menjadi elemen kunci dalam membangun sistem kelistrikan yang lebih adaptif dan andal. Bagi PLN, penguatan ekosistem baterai dalam negeri mendukung pemanfaatan energi terbarukan secara optimal, mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik, serta memperkuat ketahanan pasokan energi nasional,” tutup Darmawan.

Potensi Dampak Luas bagi Ekonomi dan Energi Indonesia

Dengan dukungan penuh dari PLN sebagai pemegang saham dan pihak-pihak strategis lainnya, kolaborasi ini dipandang sebagai salah satu peluang penting dalam mendukung transformasi industri nasional ke era teknologi bersih (clean energy) dan hambatan impor komponen baterai. Ke depan, percepatan hilirisasi industri baterai terintegrasi ini juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan nilai tambah bagi ekonomi dalam negeri serta meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global — semua ini menjadi bagian dari visi besar transisi energi Indonesia yang lebih berkelanjutan.

Terkini