JAKARTA - Perjalanan melintasi batas negara sering kali bukan sekadar ajang rekreasi, melainkan ruang untuk melakukan kontemplasi mendalam atas kondisi tanah air. Penulis ternama Asma Nadia baru-baru ini membagikan catatan emosionalnya saat kembali menginjakkan kaki di Korea Selatan. Melalui kacamata seorang sastrawan, ia menarik benang merah yang unik namun tajam antara ketangguhan industri agrikultur di Negeri Gingseng dengan realitas ekonomi yang tengah dihadapi masyarakat Indonesia saat ini.
Sebuah pertanyaan retoris yang menggugah nalar mengawali catatan perjalanannya: Apa hubungan antara Ginseng Korea yang legendaris dengan langkanya minyak sayur di dapur kita? Sekilas memang tidak ada sangkut pautnya secara teknis, namun jika kita membedah filosofi di baliknya, kita akan menemukan sebuah tamparan keras bagi kebijakan bangsa kita. Hal ini menjadi titik awal bagi sebuah renungan tentang bagaimana sebuah bangsa menghargai proses dan kekayaan alamnya sendiri.
Menelusuri Jejak Industri Ginseng Bersama Penulis Diamond KBM
Kunjungan Asma Nadia kali ini terasa istimewa karena ia tidak sendirian. Saat mengunjungi pusat industri ginseng di Korea Selatan bersama para penulis Diamond KBM App—Bunga BTP, Dwi Indrawati, Majarani, Ka_Umay, Yazmin_Aisyah, FebriYthi, Julli_Nobasa, hingga Lebah Ratih—saya menemukan sebuah fakta yang menggetarkan hati. Kebersamaan para penulis ini menjadi saksi bagaimana Korea Selatan membangun reputasi produk unggulannya melalui dedikasi yang luar biasa dan proteksi terhadap kualitas yang tidak bisa ditawar.
Di sana, mereka melihat secara langsung bagaimana integrasi antara tradisi kuno dan manajemen industri modern dapat berjalan beriringan. Bagi Asma, melihat keberhasilan Korea dalam menjaga marwah ginsengnya menimbulkan kerinduan sekaligus kritik terhadap pengelolaan komoditas serupa di Indonesia yang sering kali terjebak dalam masalah distribusi dan kelangkaan.
Kesabaran di Balik Akar Ajaib dan Kualitas Tanah
Keunggulan ginseng Korea bukan didapat dari cara yang instan, melainkan dari sebuah proses yang sangat menghargai alam. Ginseng bukan tumbuhan sembarangan. Ia adalah tanaman yang "manja" sekaligus "perkasa". Tidak semua tanah bisa menampungnya; butuh ketinggian dan tingkat kesuburan yang presisi. Proses penanamannya memerlukan ketelatenan tingkat tinggi, jauh dari logika industri yang hanya mengejar keuntungan cepat dalam waktu singkat.
Faktanya, ginseng terbaik baru bisa dipanen setelah 6 tahun. Selama masa itu, ginseng menyerap seluruh saripati tanah tanpa sisa. Fenomena alamiah ini menunjukkan betapa kuatnya daya serap tanaman ini terhadap nutrisi bumi. Inilah yang menjadikan ginseng tersebut memiliki khasiat yang mendunia, namun di sisi lain, tanah yang digunakannya harus membayar harga yang mahal atas nutrisi yang telah diberikan.
Pengorbanan Petani dan Manajemen Lahan Jangka Panjang
Hal yang paling mengagumkan bagi Asma Nadia adalah bagaimana sistem pertanian di sana berani mengambil jeda demi keberlanjutan. Akibatnya, setelah panen, tanah tersebut menjadi "lelah" dan harus diistirahatkan selama 8 hingga 10 tahun. Selama masa itu, tanah tidak boleh ditanami apapun agar nutrisinya pulih kembali. Ini adalah sebuah bentuk penghormatan terhadap alam yang mungkin sulit dipahami oleh sistem ekonomi yang serba cepat.
Bayangkan, petani harus menunggu total belasan tahun hanya untuk satu siklus panen terbaik! Kesabaran kolektif ini merupakan kunci mengapa kualitas ginseng Korea sulit ditandingi oleh negara mana pun. Filosofi menunggu dan membiarkan alam memulihkan diri inilah yang dipandang Asma sebagai pelajaran berharga yang bisa dipetik untuk memperbaiki tata kelola komoditas pangan di tanah air agar tidak lagi terjadi ironi kelangkaan di negeri yang subur.
Perubahan Zaman: Dari Rasisme hingga Keramahan Fasilitas
Mengingat kembali memori dua dekade silam, Asma Nadia juga merasakan perubahan atmosfer sosial yang drastis di Korea Selatan. Catatan pilu 20 tahun lalu yang diwarnai oleh sorakan rasis kini telah berganti dengan wajah yang jauh lebih inklusif. Transformasi ini terlihat dari fasilitas-fasilitas yang semakin ramah terhadap pendatang, termasuk fasilitas ibadah bagi umat Muslim.
Dulu, identitas diri mungkin menjadi tantangan di ruang publik Korea, namun kini, perhatian terhadap kebutuhan spiritual pengunjung sudah sangat manis terlihat. Keberadaan fasilitas wudhu yang layak dan tempat ibadah yang mudah ditemukan adalah simbol dari kedewasaan sebuah bangsa dalam menyambut masyarakat global. Perjalanan ini pada akhirnya menjadi sebuah mosaik pengalaman yang menyentuh hati—antara belajar dari ketangguhan akar ginseng dan mengamati kelembutan peradaban yang terus tumbuh.