JAKARTA – Pengamatan BMKG menunjukkan Sinyal El Nino Menguat di akhir April 2026 yang ditandai dengan intensitas hujan mulai berkurang di sebagian besar wilayah Indonesia.
Perubahan pola cuaca ini menjadi sinyal penting bagi pengelolaan sumber daya air dan sektor energi nasional.
"Berdasarkan pemantauan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik, indeks El Nino kini menunjukkan tren kenaikan yang signifikan menuju kategori moderat," ujar Dwikorita Karnawati, sebagaimana dilangsir dari kompas.tv, Jumat (24/4/2026).
Penurunan curah hujan diperkirakan akan terjadi secara bertahap dimulai dari wilayah bagian selatan khatulistiwa.
Fenomena ini dipicu oleh pelemahan angin pasat yang biasanya membawa massa udara lembap ke wilayah kepulauan Indonesia.
Sutedjo berpendapat bahwa penguatan sinyal iklim ini harus segera direspons dengan langkah mitigasi kebakaran hutan dan lahan, terutama di area lahan gambut yang rawan kekeringan.
Sektor pertanian diimbau untuk segera menyesuaikan pola tanam guna menghindari risiko gagal panen akibat kekurangan pasokan air irigasi.
Kondisi cuaca yang lebih kering juga dapat berdampak pada peningkatan suhu udara harian di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.
BMKG memprediksi bahwa durasi musim kemarau kali ini mungkin akan lebih panjang dibandingkan dengan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir.
Koordinasi antara lembaga penyedia data cuaca dan kementerian terkait terus diperkuat untuk memantau titik panas di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Meskipun hujan berkurang, potensi cuaca ekstrem dalam skala lokal masih mungkin terjadi selama masa transisi atmosfer ini berlangsung.
Pemantauan rutin terhadap perkembangan anomali iklim tetap dilakukan guna memberikan peringatan dini yang akurat bagi masyarakat luas.