JAKARTA – Mantan Komisaris PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI Riza Primadi mengatakan, kecelakaan kereta di Bekasi Timur lebih mencerminkan persoalan sistem operasional dan infrastruktur dibanding kesalahan individu di lapangan.
Analisis mendalam terhadap insiden maut tersebut menunjukkan adanya risiko tinggi ketika perjalanan kereta jarak jauh dipaksakan berbagi jalur dengan layanan komuter.
Riza Primadi berpendapat, bahwa secara operasional perjalanan KA dengan mencampur dua jenis KA yang berbeda sangat berpotensi terjadinya kecelakaan karena perbedaan kecepatan dan pola berhenti.
Ketimpangan bobot rangkaian serta jarak pengereman yang dibutuhkan menjadi variabel teknis yang sering luput dari pengamatan publik.
“Pada prinsipnya secara operasional perjalanan KA dengan mencampur dua jenis KA yang berbeda (KAJJ dan KRL) sangat berpotensi terjadinya KKA,” kata Riza Primadi saat dihubungi di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Indikasi upaya pengereman yang dilakukan masinis terlihat dari dampak benturan yang tidak menghancurkan seluruh rangkaian gerbong di depannya.
Tanpa tindakan pengereman tersebut, diprediksi jumlah kerusakan dan korban jiwa pada rangkaian KRL akan jauh lebih besar.
Penyelesaian jalur double-double track dianggap sebagai solusi mendesak untuk memisahkan lalu lintas kereta yang memiliki karakteristik berbeda.
Selain pembenahan fisik jalur, integrasi teknologi canggih kini mulai disuarakan oleh para praktisi transportasi nasional.
Darmaningtyas berpendapat, bahwa penggunaan teknologi Intelligent Transportation System berbasis GPS dapat memberikan peringatan dini kepada masinis mengenai gangguan di lintasan.
Deteksi otomatis dalam radius 1 hingga 2 kilometer ke depan dapat meminimalisir kemungkinan terjadinya tabrakan antar rangkaian.
Kombinasi antara infrastruktur yang memadai dan perangkat sensor pintar diharapkan mampu menekan angka kecelakaan kereta api secara signifikan di masa depan.