JAKARTA – Menteri Mendukbangga Wihaji menegaskan komitmen pemerintah dalam menyediakan layanan trauma healing bagi korban dan keluarga pasca kecelakaan KRL di Bekasi Timur.
Dukungan emosional kini menjadi perhatian serius selain penanganan medis yang sedang berjalan di rumah sakit.
Menteri Wihaji berpendapat, bahwa kewajiban instansinya adalah turun tangan memberikan konsultasi keluarga dan pemulihan psikis apabila dibutuhkan oleh para penyintas.
Fokus saat ini diarahkan pada penyelesaian penanganan fisik sebelum melangkah ke tahap rehabilitasi mental yang lebih mendalam.
“Terkait penanganan korban tentu nanti kita akan tindaklanjuti kalau butuh, dalam tanda petik beberapa hal yang berkenaan dengan konsultasi, berkenaan dengan keluarga. Trauma healing, biasanya kewenangan kita di situ. Tentu yang penting yang hari ini adalah fokus penanganan korban biar sampai selesai, kalau nanti membutuhkan trauma healing pasti kita turun, karena itu bagian dari kewajiban kita” ungkap Menteri Wihaji, (4/5).
Kunjungan khusus telah dilakukan oleh tim BKKBN Jawa Barat untuk menemui korban yang dirawat di RSUD Kota Bekasi sejak 29 April 2026.
Sasaran utama pendampingan ini adalah kelompok rentan seperti ibu menyusui, ibu hamil, serta orang tua yang memiliki balita.
Pihak kementerian juga memperkenalkan Satyagatra sebagai wadah konsultasi yang dapat diakses tanpa biaya oleh keluarga terdampak.
Layanan tersebut dirancang khusus untuk memastikan kesehatan mental masyarakat tetap terjaga setelah mengalami peristiwa traumatis.
Selain bantuan moril, penyaluran dukungan nutrisi juga diberikan guna menunjang kesehatan fisik korban selama masa perawatan.
Kehadiran negara dalam situasi darurat ini diharapkan mampu meringankan beban emosional yang dirasakan oleh para keluarga.
Langkah responsif ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam melindungi kesejahteraan keluarga Indonesia di tengah musibah.