SURABAYA - Dugaan kasus investasi bodong dengan skema arisan fiktif kembali terjadi di wilayah Jawa Timur dan memakan banyak korban.
Kali ini, sebanyak 84 penyanyi dangdut dilaporkan menjadi korban penipuan dengan total nilai kerugian yang mencapai Rp 2,2 miliar.
Kasus tersebut menyeret seorang perempuan berinisial NS, yang dikenal luas di dunia hiburan dengan nama panggung NA.
Para korban yang berdomisili di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, hingga Mojokerto mendatangi Rumah Aspirasi guna melapor kepada Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, pada Selasa (12/5/2026).
Dea Bonita, salah satu korban, menceritakan bahwa dirinya mengalami kerugian materi hingga mencapai Rp 40 juta.
Ia menjelaskan bahwa pelaku menawarkan sistem jual beli "slot" arisan melalui grup percakapan yang dilakukan secara rutin setiap hari.
"Awalnya kelihatan seperti jual beli arisan biasa. Katanya ada orang butuh uang lalu menjual slot arisan. Ternyata semuanya fiktif. Tidak ada arisan sama sekali," ujar Dea di hadapan Armuji.
Modus pelaku adalah dengan mengiming-imingi keuntungan besar antara 20 hingga 50 persen dalam periode waktu yang sangat singkat.
Peserta diminta menyetor uang sebesar Rp 1 juta sampai Rp 3 juta dengan janji dana akan kembali sebesar Rp 1,2 juta hingga Rp 4,5 juta.
"Korban total 84 orang. Nilai pokok kerugiannya sekitar Rp 1,8 miliar, kalau dihitung dengan bunga yang dijanjikan bisa sampai Rp 2,2 miliar," tambah Dea.
Jihan Savita, korban lainnya, mengaku sempat mendapatkan keuntungan kecil di awal keikutsertaannya yang membuatnya semakin yakin untuk menambah setoran.
"Pertama setor Rp 1 juta dapat kembali Rp 1,3 juta. Setelah itu saya percaya dan terus masuk lagi sampai total Rp 16 juta. Tapi yang terakhir itu tidak kembali sama sekali," kata Jihan.
Menanggapi hal itu, Wakil Wali Kota Surabaya Armuji atau Cak Ji menegaskan bahwa pola yang dilakukan pelaku adalah skema penipuan klasik.
Uang dari anggota yang baru bergabung digunakan pelaku untuk membayar anggota lama sebagai upaya membangun kepercayaan publik.
"Orang mau menipu, awalan pasti lancar. Awal-awale mesti (awal-awalnya pasti) dibayar supaya dapat kepercayaan. Tapi begitu korbannya banyak, bablas wis," tegas Cak Ji.
Ia mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudah tergoda oleh tawaran keuntungan besar yang tidak masuk akal dalam waktu cepat.
"Yang dipakai bayar itu ya uangmu sendiri. Itu model-model penipuan seperti ini jangan sampai terus makan korban. Kenapa tidak dijadikan pelajaran?" tandasnya.
Berdasarkan keterangan para korban, terduga pelaku NA saat ini sudah tidak diketahui keberadaannya dan rumahnya di Driyorejo, Gresik, sudah kosong.
Meski begitu, para korban menduga keluarga pelaku berada di wilayah Sememi dan Benowo, Surabaya, serta menemukan bukti aliran dana ke rekening keluarga dekat pelaku.
"Masih ada bukti transferan uang itu yang masuk ke rekening kakaknya," sebut Jihan.
Cak Ji langsung memerintahkan timnya untuk mendampingi korban melakukan inspeksi mendadak ke lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian keluarga pelaku.
"Wis, parani sing Sememi (Sudah, datangi yang di Sememi). Tapi pelakunya enggak perlu diberitahu, biar nanti langsung digeruduk, biar orangnya enggak kabur lagi," ujar politisi PDI Perjuangan tersebut.
Sekretaris For Justice, Yudistira Eka Putra, menyebutkan bahwa sekitar 70 persen korban merupakan warga Surabaya dan pihaknya masih menunggu itikad baik pelaku.
"Harapannya kami nanti dengan tenggat waktu sampai 17 Mei. Setelah itu langkah selanjutnya kalau tidak ada itikad baik, kami akan melanjutkan ke laporan polisi," pungkas Yudistira.
Yudistira menambahkan bahwa pelaku sempat mengakui dalam grup percakapan bahwa arisan tersebut fiktif dan hanya memutar uang anggota sebelum akhirnya mengalami kolaps.