Hubungan Memanas, Trump Damprat Netanyahu Terkait Serangan Beirut

Netanyahu dan Trump. (Sumber: NET)
Rabu, 03 Juni 2026 | 14:36:48 WIB

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan tengah sangat murka kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Trump menganggap tindakan yang diambil oleh Netanyahu ke area Lebanon telah melampaui batas kewajaran.

Merujuk informasi dari Axios pada Selasa (2/6/2026), kemarahan Trump tersebut pecah dalam sebuah sambungan telepon pada Senin (1/6) waktu setempat, seperti yang diungkapkan oleh dua orang pejabat AS beserta satu sumber lainnya.

Meluapnya amarah itu disebabkan oleh kebijakan militer Israel yang terus meningkatkan intensitas serangannya ke wilayah Lebanon.

Aksi Israel yang membidik kelompok milisi Hizbullah di Lebanon tersebut dipandang oleh Trump berisiko merusak proses diplomasi yang tengah dijalin AS bersama Iran.

Bukan hanya itu, gempuran Israel tersebut juga dinilai berpotensi merusak upaya pertahanan gencatan senjata regional yang kondisinya saat ini tengah sangat ringkih.

"Anda benar-benar gila (You are fucking crazy). Apa yang Anda lakukan?" cetus Trump kepada Netanyahu menurut laporan tersebut.

Kalimat keras itu diucapkan oleh Trump setelah dirinya menerima laporan terkait pergerakan pasukan militer Israel di Lebanon.

Axios pun mengabarkan bahwa di dalam pembicaraan telepon tersebut, Trump sempat menyentil isu hukum yang kini tengah membelit Netanyahu.

Trump mengingatkan sang PM Israel tersebut bahwa selama ini dirinya selalu pasang badan untuk Netanyahu secara terbuka serta menyokong posisi politiknya.

Ketegangan tersebut mencuat tepat sesudah Trump mengklaim bahwa Israel dan Hizbullah telah bersepakat untuk menyetop kontak senjata.

Dirinya juga mengutarakan bahwa proses dialog dengan pihak Iran kembali berjalan setelah sebelumnya sempat tersendat akibat agresi Israel di Lebanon.

Melansir laporan dari AFP dan Anadolu Agency pada Selasa (2/6), Trump lewat media sosial miliknya menyatakan bahwa Netanyahu telah berjanji untuk tidak mengirimkan pasukannya ke wilayah pinggiran selatan Beirut seperti yang pernah diancamkan, sementara di sisi lain Hizbullah sepakat menyetop segala bentuk aksi penembakan.

Kebijakan ini diambil setelah kantor berita Iran, Tasnim, melansir kabar bahwa pihak Teheran sempat menghentikan dialog dengan mediator sebagai bentuk protes atas perluasan operasi militer Israel di Lebanon terhadap Hizbullah yang berstatus sekutu mereka.

"I did a very productive call with Prime Minister Bibi Netanyahu, of Israel, and there will be no troops going into Beirut, and any troops that were on their way have been sent back," tulis Trump.

"Likewise, through high-ranking representation, I did a very good call with Hezbollah, and they agreed that all shelling will stop—that Israel will not attack them, and they will not attack Israel," lanjut Trump.

Melalui unggahan berikutnya yang berjarak beberapa menit, Trump mengimbuhkan bahwa proses negosiasi dengan Republik Islam Iran terus bergulir dengan cepat, sembari mengutarakan apresiasinya atas perhatian publik terhadap persoalan ini.

Netanyahu Ngotot Serang Lebanon

Netanyahu tetap kukuh pada pendiriannya bahwa pasukannya akan terus melancarkan gempuran ke wilayah Lebanon bagian selatan demi membidik kelompok milisi Hizbullah.

Pernyataan tegas dari Netanyahu ini keluar kendati Trump sebelumnya telah mengumumkan keberhasilan dirinya dalam meyakinkan kedua belah pihak untuk menghentikan pertempuran.

"I spoke tonight with President Trump and told him that if Hezbollah does not stop attacking our cities and citizens, Israel will strike terror targets in Beirut," tutur Netanyahu dalam pernyataan yang dikutip harian Israel, Yedioth Ahronoth, dan dilansir Anadolu Agency.

"Our position remains unchanged. At the same time, the military will continue to operate according to plan in southern Lebanon," tambahnya.

Sejumlah media Israel sebelumnya mengabarkan bahwa kedua tokoh tersebut saling bertelepon guna membahas situasi terkini di Lebanon dan Iran.

Kontak lewat telepon itu terjadi di tengah meningkatnya tensi militer Israel di Lebanon, berselang beberapa jam sesudah Netanyahu memerintahkan pasukannya untuk menggempur Beirut, ibu kota Lebanon.

Stasiun penyiaran publik Israel, KAN, menyebutkan bahwa Tel Aviv sejatinya telah menjadwalkan aksi pengeboman di pinggiran selatan Beirut pada Senin (1/6) pagi, namun rencana tersebut ditangguhkan lantaran adanya intervensi dari pihak AS.

Lonjakan aksi militer Israel di Lebanon ini pun langsung memicu peringatan keras dari pihak Iran selaku sekutu erat Hizbullah.

Mohsen Rezaei, penasihat dari pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, menegaskan kepada Israel bahwa eskalasi yang semakin parah di Lebanon tidak akan didiamkan begitu saja.

Lewat akun media sosial X kepunyaannya, Rezaei mengingatkan bahwa batas kesabaran dari Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran ada batasnya.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati