Mexico City: Sejarah Baru Piala Dunia di Tengah Ancaman Tenggelam

Stadion Mexico City.(Sumber:NET)
Selasa, 09 Juni 2026 | 15:44:57 WIB

MEXICO CITY - Kawasan Mexico City berhasil mencetak sejarah baru sebagai kota pertama yang diberi kepercayaan memegang status tuan rumah kompetisi Piala Dunia sampai tiga kali.

Bukan cuma mengenai catatan sejarahnya, karakteristik geografis yang dipunyai wilayah ini pun tergolong sangat luar biasa.

Dalam peta sepak bola sejagat, nama Mexico City pastinya sudah tidak asing lagi.

Kawasan ini menjadi saksi nyata tempat pesepak bola megabintang seperti Pelé mengangkat trofi pada tahun 1970 serta momen Diego Maradona melayangkan gol "Tangan Tuhan" yang sangat melegenda di tahun 1986.

Kini, menyambut kompetisi Piala Dunia 2026, pusat pemerintahan Meksiko ini bersiap kembali mengukir sejarah sebagai satu-satunya kota di dunia yang pernah menggelar turnamen Piala Dunia sebanyak tiga kali.

Namun di balik kemeriahan yel-yel suporter di tribun, Mexico City menyimpan kisah sedih.

Berada pada posisi ketinggian melewati 2.200 meter dari permukaan laut, Mexico City menjelma menjadi salah satu kota dengan tingkat kepadatan tertinggi sekaligus paling unik di dunia.

Menengok kembali ke masa 500 tahun silam, para penjelajah dari Spanyol mendirikan kota ini tepat di atas reruntuhan wilayah Tenochtitlan, yang merupakan ibu kota megah peradaban suku Aztec yang dahulunya mengapung di atas area Danau Texcoco.

Kondisi geologis warisan masa lampau tersebut menyisakan sebuah kenyataan yang mengejutkan: akibat struktur tanah yang gembur serta aktivitas penyedotan air tanah secara masif, Mexico City secara bertahap kian tenggelam.

Hasil tangkapan gambar dari sistem radar kepunyaan NASA memperlihatkan tingkat penurunan muka tanah menyentuh angka lebih dari 1,27 cm pada tiap bulannya.

Kondisi tersebut menempatkan metropolitan ini sebagai salah satu ibu kota dengan percepatan penurunan tanah paling parah di muka bumi.

Sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di dunia, Mexico City terpaksa merelakan pasokan air di dalam tanahnya dikuras habis hingga mengakibatkan penurunan permukaan.

Proses pembangunan infrastruktur kota yang bergulir tanpa henti ikut andil dalam mempercepat laju amblesnya tanah, seperti dilaporkan oleh CNN.

Gejala penurunan dataran di wilayah Mexico City sejatinya mulai tercatat sejak era tahun 1920-an.

Semenjak periode tersebut, warga lokal sudah merasakan efeknya secara langsung, mulai dari kondisi aspal jalanan yang retak-retak, posisi bangunan yang menjadi miring, hingga gangguan pada fasilitas moda transportasi kereta api.

Potret paling baru dari satelit NISAR, yang merupakan proyek kemitraan bentukan NASA bersama Organisasi Penelitian Luar Angkasa India (ISRO), membongkar skala keparahan persoalan geologis ini lewat rincian yang mencengangkan.

Satelit NISAR sendiri disiapkan secara khusus untuk memetakan deretan dinamika paling rumit di planet Bumi serta mempunyai kapabilitas memantau pergeseran skala kecil seperti halnya penurunan tanah.

Wahana antariksa ini merupakan salah satu perangkat radar paling modern yang pernah diorbitkan ke ruang angkasa.

Di antara periode Oktober 2025 sampai Januari 2026, tepat pada momen musim kering di Mexico City, NISAR merekam data pergeseran tanah di wilayah bawah kota tersebut.

Dari pantauan itu terungkap bahwa sejumlah sektor wilayah kota mengalami penurunan posisi dengan kecepatan berkisar 2 cm per bulan atau menembus 24 cm di setiap tahunnya.

Sektor yang ditemukan mengalami kerusakan paling parah meliputi area Bandara Internasional Benito Juarez, yang berstatus sebagai lapangan terbang utama di kota itu.

Situs historis Monumen Angel of Independence dengan tinggi 34,7 meter, yang didirikan pada tahun 1910 demi memperingati satu abad kemerdekaan negara Meksiko, bahkan terpaksa ditambahkan 14 buah anak tangga pada bagian tapak bawahnya seiring dengan terus merosotnya permukaan tanah di area tersebut.

"Mexico City adalah titik rawan yang sangat dikenal dalam hal penurunan tanah dan citra seperti ini hanya permulaan bagi NISAR," ujar David Bekaert, manajer proyek Institut Penelitian Teknologi Flemish.

Satelit tersebut diklaim mempunyai kemampuan untuk memonitor dinamika geologi lain di dunia seperti pergerakan aliran gletser ataupun fase pertumbuhan vegetasi tanaman, hingga peristiwa bencana alam layaknya aktivitas erupsi gunung berapi.

Gejala amblesnya lapisan tanah di kawasan Mexico City sebenarnya sudah terekam sejak era dekade 1920-an.

Semenjak masa tersebut pula, penduduk setempat terpaksa berkompromi dengan efek nyatanya yang membayangi keseharian, mulai dari permukaan jalan yang terbelah, struktur arsitektur gedung yang tampak condong miring, hingga kendala operasional pada sistem angkutan kereta api.

Kini, visualisasi terbaru dari satelit NISAR, sebuah proyek kemitraan berskala besar antara NASA dan Organisasi Penelitian Luar Angkasa India (ISRO), sukses memaparkan derajat keparahan krisis lingkungan ini dengan tingkat ketepatan yang sangat luar biasa.

Satelit NISAR pada dasarnya dirancang khusus demi membaca fenomena-fenomena paling pelik di permukaan bumi, termasuk memonitor pergerakan tanah yang teramat tipis sekalipun.

Berbekal kemampuan canggih tersebut, satelit ini didapuk sebagai salah satu perangkat radar paling perkasa yang pernah dikirim ke luar angkasa.

Lewat pantauan berkala yang dilangsungkan sepanjang masa kemarau di Mexico City, khususnya dari bulan Oktober 2025 sampai Januari 2026, NISAR mendeteksi aktivitas pergeseran tanah di kawasan urban tersebut.

Data yang dikumpulkan memperlihatkan bahwa beberapa sudut kota mengalami penurunan vertikal sebesar kurang lebih 2 cm pada setiap bulannya, atau setara dengan lebih dari 24 cm dalam jangka waktu setahun.

Di antara kawasan yang mencatatkan dampak paling merusak adalah zona Bandara Internasional Benito Juarez, yang bertindak sebagai gerbang transportasi udara utama bagi kota tersebut.

Contoh ikonis lainnya dapat dijumpai pada bangunan Monumen Angel of Independence.

Menara setinggi 34,7 meter yang dibangun pada tahun 1910 guna memperingati momen seratus tahun kemerdekaan Meksiko ini bahkan mesti direnovasi melalui penambahan 14 undakan tangga baru di bagian bawahnya, demi menyiasati kondisi tanah di sekelilingnya yang kian melosot ke bawah.

"Mexico City adalah titik rawan yang sangat dikenal dalam hal penurunan tanah dan citra seperti ini hanya permulaan bagi NISAR," ungkap David Bekaert, selaku manajer proyek dari Institut Penelitian Teknologi Flemish.

Ia juga menambahkan bahwa ke depannya, satelit canggih ini juga memiliki kapasitas untuk memantau fenomena alam lainnya di bumi, mulai dari pergerakan bongkahan gletser, fase pertumbuhan vegetasi, hingga deteksi bencana alam seperti aktivitas erupsi gunung berapi.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati