Anak Usaha Telkom Diciutkan Jadi 19, BP BUMN Buka Suara Nasib Pekerja
JAKARTA - Anak perusahaan kepunyaan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk direncanakan bakal dirampingkan hingga cuma menyisakan 19 korporasi inti.
Kondisi tersebut memicu tanda tanya berkaitan dengan kelanjutan nasib para pekerja yang berada di unit usaha terdampak.
Menanggapi problem ini, Dony Oskaria selaku Kepala Badan Pengaturan BUMN membeberkan kondisi para pekerja di perusahaan yang terimbas kebijakan tersebut.
Ia menerangkan bahwa penyatuan perusahaan bakal lebih mendominasi di dalam ekosistem Telkom Indonesia.
Oleh sebab itu, para pekerja di unit anak usaha dijamin bakal tetap memperoleh tempat bernaung.
"Kan banyak konsolidasi. Misalkan kayak fiber optic, itu nanti terkonsol ada beberapa perusahaan yang jadi satu, kan size-nya jadi besar, karyawannya ikut. Kan banyaknya merger," ungkap Dony, di Kompleks Parlemen, Jakarta, dikutip Selasa (9/6/2026).
Ia mengutarakan bahwa terdapat puluhan anak perusahaan Telkom yang dimasukkan dalam daftar perampingan.
Regulasi ini diambil selaku bagian dari strategi efisiensi operasional pada badan usaha milik negara di sektor telekomunikasi tersebut.
"Jadi semua konsolidasi itu terjadi semua. Nah ini dari 67 kurang lebih jadi 19 perusahaan," ucap Dony.
Ke depan, operasional bisnis Telkom bakal dikonsentrasikan pada sektor-sektor tertentu yang krusial.
Beberapa di antaranya mencakup pusat data (data center), jaringan fiber optik, serta aspek infrastruktur dan menara yang menopang bisnis utama mereka.
Sebelumnya, BP BUMN bersama pihak Danantara tengah memacu program penyederhanaan atau streamlining di dalam struktur Telkom Group.
Sasarannya, jumlah anak perusahaan yang semula menyentuh 67 bakal dipangkas menjadi 19 entitas menjelang penutupan tahun 2026.
Langkah strategis ini diterapkan guna memperkokoh posisi Telkom selaku strategic holding digital di tingkat nasional.
Proses transformasi ini pun dirancang supaya Telkom bisa lebih berkonsentrasi dalam memperluas bisnis digital serta memperkuat infrastruktur telekomunikasi domestik di tengah iklim kompetisi yang kian ketat.
Kepala BP BUMN yang sekali waktu mengemban tugas sebagai Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menilai bahwa restrukturisasi ini merupakan bagian krusial bagi skema jangka panjang korporasi.
“Transformasi ini penting untuk memperkuat fokus bisnis dan memastikan Telkom Group bergerak lebih agile dalam menjawab kebutuhan ekosistem digital nasional,” ujar Dony dalam keterangan tertulis, Selasa (26/5/2026).
Pembahasan mengenai progres transformasi di tubuh Telkom ini bergulir dalam agenda pertemuan antara Dony dengan Seno Soemadji selaku Direktur Strategic Business Development & Portfolio PT Telkom Indonesia di Wisma Danantara, Jakarta.
Pada kesempatan tatap muka tersebut, pihak Telkom menjabarkan serangkaian tindakan strategis yang sedang dijalankan demi mempercepat perampingan ini.
Opsi strategi yang dipaparkan oleh manajemen Telkom meliputi skema merger, pelepasan saham (divestasi), penutupan (likuidasi), penyatuan bisnis, hingga pilihan pembentukan enterprise holding yang baru.
Seluruh langkah itu disusun sedemikian rupa supaya korporasi mempunyai tata kelola bisnis yang jauh lebih efisien serta fokus membidik sektor dengan potensi pertumbuhan yang masif.
Dony memberikan penegasan bahwa pembenahan di Telkom Group bukan sekadar urusan memotong rantai struktur perusahaan.
Target besarnya adalah melejitkan kapabilitas perusahaan untuk bersaing di tengah dinamika industri digital yang bergulir sangat cepat.
Sebagai representasi dari peta jalan transformasi ini, sejumlah program yang menjadi prioritas utama juga ikut dipacu perjalanannya.
Program-program tersebut mencakup penyatuan FiberCo BUMN, ekspansi Data Center, pengelolaan TowerCo, InfraCo, hingga pengaturan kembali lisensi-lisensi di internal Telkom Group.
Pihak BP BUMN dan Danantara melihat kebijakan ini sangat vital demi menyokong evolusi Telkom menuju sebuah strategic holding digital yang lebih fleksibel sekaligus mempunyai daya saing di kancah global.