Catat Waktu Paling Ideal Menyaksikan Fenomena Embun Upas Dieng
BANJARNEGARA - Para pelancong yang berminat untuk melihat langsung fenomena embun upas di kawasan Dieng disarankan agar tiba di lokasi sebelum fajar menyingsing.
Pasalnya, lapisan kristal es yang membeku di area dataran tinggi tersebut cuma sanggup bertahan dalam durasi yang relatif pendek sebelum akhirnya meleleh lantaran sengatan sinar fajar.
Pengamat dari Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Zauyik, memaparkan bahwa golden time paling pas guna menikmati panorama embun upas ialah selepas fajar subuh hingga kisaran pukul 06.00 WIB.
"Waktu terbaik saat embun upas sehabis subuh hingga jam 6 pagi, seiring dengan mulai bersinarnya Matahari, maka embun upas akan hilang kembali karena kenaikan suhu udara dari radiasi Matahari," ujar Zauyik kepada Kompas.com, Rabu (10/6/2026).
Berdasarkan penjelasannya, pemandangan embun upas tidak serta-merta hadir setiap waktu sepanjang bergulirnya siklus kemarau.
Anomali alam bersangkutan cuma mewujud tatkala situasi cuaca serta lapisan atmosfer berada dalam kondisi yang mendukung, khususnya saat temperatur udara merosot hingga batas yang sangat ekstrem.
"Embun upas di Dieng tidak terjadi terus-menerus sepanjang musim kemarau, tetapi biasanya muncul pada periode tertentu ketika kondisi atmosfer sangat mendukung, terutama pada puncak musim kemarau (Juli-Agustus)," jelas Zauyik.
Dirinya menjabarkan bahwa kehadiran fenomena embun upas ini memiliki sifat yang insidental.
Kejadian unik tersebut berpeluang menampakkan diri selama beberapa hari secara beruntun, namun dapat pula lenyap seketika walaupun siklus kemarau sebetulnya masih berjalan.
"Bisa berlangsung beberapa hari berturut-turut lalu menghilang ketika kondisi atmosfer berubah, meskipun musim kemarau masih berlangsung," jelasnya.
Kehadiran kristal es embun upas di teritori Dieng konsisten memikat atensi dari kalangan turis di tiap tahunnya kala musim kering tiba.
Musababnya, lapisan beku berupa butiran kristal putih menyerupai salju bakal membalut hamparan rumput, dedaunan, tidak terkecuali kompleks situs Candi Arjuna saat fajar menyingsing.
Merujuk pada paparan Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto, eksistensi embun upas di wilayah Dieng terikat erat dengan kondisi gersang yang melanda dalam kurun beberapa waktu ke belakang.
Tingkat curah hujan di zona Dieng terdata berada di angka 0 milimeter terhitung sejak hari Sabtu (6/6/2026) sampai dengan Selasa (9/6/2026).
"Curah hujan nol milimeter menunjukkan atmosfer berada dalam kondisi sangat kering. Selain itu, langit cenderung cerah tanpa awan pada malam hingga pagi hari," jelas Goeroeh dikutip dari Antara Jateng, Rabu.
Di sudut pandang lain, kemunculan fenomena embun upas berkorelasi kuat dengan ketiadaan lapisan penghalang berupa awan.
Situasi ini memicu energi panas yang diserap oleh permukaan Bumi sewaktu siang hari terlepas secara total menuju ke ruang atmosfer serta luar angkasa saat malam hari tiba.
Maka dari itu, fase penurunan suhu berlangsung secara kilat yang berujung pada merosotnya temperatur area permukaan secara drastis.
Proses pembentukan embun upas juga didukung oleh kondisi topografi wilayah Dieng yang membentuk cekungan serta diapit oleh jajaran pegunungan.
"Berdasarkan data, suhu udara minimum di Dieng pada 9 Juni 2026 mencapai 1,05 derajat Celsius pada pukul 01.01 WIB. Sementara suhu rumput atau permukaan tanah tercatat lebih rendah, yakni 0,60 derajat Celsius pada pukul 08.30 WIB," jelas Goeroeh.
"Udara dingin dari lereng pegunungan bergerak turun pada malam hari dan terperangkap di dasar lembah sehingga suhu di kawasan tersebut menjadi jauh lebih rendah dibandingkan daerah sekitarnya," tambahnya.