IHSG Ditutup Menguat Tajam, ASII Siap Kucurkan Rp8 T untuk Buyback

Ilustrasi pergerakan harga saham (IHSG) (FOTO: NET)
Kamis, 11 Juni 2026 | 16:17:45 WIB

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyudahi sesi perdagangan dengan lonjakan sebesar 2,71 persen menuju ke posisi 5.902,38 pada hari Rabu (10/6).

Laju penguatan indeks domestik tersebut disokong oleh apresiasi harga saham BBCA yang melesat sebesar 9,71 persen, TLKM yang tumbuh 7,25 persen, serta BBRI yang naik sebesar 3,23 persen.

Di sisi lain, saham SMMA bertindak sebagai penekan utama pergerakan setelah anjlok sebesar 10,42 persen, diikuti oleh pelemahan EMAS sebesar 4,05 persen dan AMMN yang terkoreksi sebanyak 2,93 persen.

Kendati IHSG melaju dengan nyaman di zona hijau, para pemodal asing terdata masih membukukan aksi jual bersih senilai Rp2,93 triliun pada pasar reguler dan menyentuh angka Rp3,13 triliun di seluruh pasar.

Melihat dari sektor perdagangan, seluruh 11 sektor mendarat di area positif, dengan lini transportasi memimpin penguatan tertinggi sebesar 4,51 persen.

Kondisi yang bertolak belakang melanda bursa saham Amerika Serikat (AS) yang justru menyudahi perdagangan di zona merah.

Indeks Dow Jones terpangkas sebesar 1,87 persen menuju posisi 49.918, disusul oleh S&P 500 yang melemah 1,62 persen ke 7.266 dan Nasdaq yang merosot 1,98 persen menuju level 25.169.

Saat ini, fokus dari para pelaku pasar sedang tertuju pada strategi pemerintah dalam mengawal ketahanan nilai tukar rupiah.

Selain itu, publikasi data omzet penjualan ritel domestik diproyeksikan turut bertindak sebagai motor penggerak sentimen pasar selanjutnya.

Di tengah besarnya tekanan arus modal asing yang masih keluar, kedua faktor tadi diperkirakan bakal menentukan arah pergerakan IHSG dalam rentang waktu yang pendek.

Pada instrumen keuangan yang lain, indeks ETF EIDO dan MSCI Indonesia masing-masing mencatatkan penguatan sebesar 4,48 persen dan 5,04 persen.

Beralih menuju kabar emiten, PT Menthobi Karyatama Raya Tbk (MKTR) mematok target pendapatan senilai Rp1,39 triliun pada tahun 2026.

Angka tersebut mencerminkan eskalasi sebesar 12,09 persen jika dikomparasikan dengan target tahun sebelumnya yang berada di angka Rp1,24 triliun.

Pencapaian target tersebut disokong oleh rencana pemrosesan tandan buah segar (TBS) yang diproyeksikan menyentuh 336.400 ton sepanjang tahun depan.

Pihak manajemen perseroan memproyeksikan volume produksi crude palm oil (CPO) menyentuh 73.292 ton dan palm kernel (PK) sebesar 15.031 ton hingga penghujung 2026.

Pihak manajemen memakai asumsi harga jual rata-rata untuk komoditas CPO sebesar Rp14.750 per kilogram.

Kendati demikian, hingga periode Mei 2026, realisasi harga jual rata-rata CPO perseroan terpantau masih bertahan di atas level Rp15.000 per kilogram.

Meninjau pergerakan sahamnya, MKTR terpantau masih bergerak dalam rentang konsolidasi dengan potensi penguatan menuju level Rp130.

Sementara itu, PT Astra International Tbk (ASII) berencana melancarkan aksi pembelian kembali saham dengan alokasi dana maksimal Rp8 triliun.

Sumber pendanaan aksi korporasi tersebut bakal diambil dari kas internal perusahaan yang per kuartal I-2026 berada di posisi Rp49,05 triliun.

Apabila seluruh program buyback ini dirampungkan, akumulasi aset ASII diproyeksikan menyusut dari Rp517,80 triliun menjadi Rp509,80 triliun.

Sejalan dengan hal itu, total ekuitas perusahaan juga diperkirakan tergerus dari Rp293,12 triliun menjadi Rp285,12 triliun.

Meski nilai aset dan ekuitasnya menyusut, tingkat laba per saham atau earnings per share (EPS) diproyeksikan menguat dari Rp146 ke angka Rp149 per saham karena berkurangnya volume saham yang beredar di publik.

Perseroan membatasi volume saham yang akan dibeli kembali tersebut paling banyak 10 persen dari modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh.

Adapun kepemilikan saham publik pasca-buyback dipastikan akan tetap dipertahankan di atas batas minimum regulasi yaitu 15 persen.

Agenda besar ini bakal diajukan untuk memperoleh persetujuan dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 17 Juli 2026.

Jika mengantongi restu dari para pemegang saham, periode eksekusi buyback akan dilaksanakan mulai 20 Juli 2026 hingga 16 Juli 2027.

Pada laporan emiten lain, PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) berniat menerbitkan saham baru sebanyak 219,48 billion lembar lewat skema Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD I).

Memakai harga pelaksanaan sebesar Rp126 per lembar saham, dana segar yang bisa dihimpun berpotensi menyentuh Rp27,65 triliun jika seluruh hak terserap secara penuh.

Porsi sebesar 76,81 persen dari dana hasil aksi korporasi tersebut, setelah dikurangi ongkos emisi, bakal dialokasikan untuk mengambil alih 49 persen saham Borneo Prima kepunyaan IMR Asia Holding Pte Ltd dengan nilai Rp21,24 triliun lewat jalur inbreng.

Sedangkan sisa dana bersihnya akan digulirkan sebagai pinjaman bagi Borneo Prima untuk menyokong kebutuhan modal kerja operasional tambang serta aktivitas produksi.

Selaras dengan langkah taktis ini, FORU juga bakal menggeser core bisnisnya dari sektor media dan percetakan menjadi sebuah perusahaan holding.

Selaku pemegang saham pengendali, IMR Asia Holding Pte Ltd bakal mengeksekusi penyertaan modal atas 168,58 miliar lembar saham baru lewat mekanisme inbreng berupa 10.780 saham seri A Borneo Prima atau setara 49 persen porsi kepemilikan.

Rangkaian rencana aksi korporasi besar ini masih harus menanti keputusan final dari para pemegang saham dalam RUPSLB yang sedianya dihelat pada 16 Juli 2026.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati