NAVIGASI.CO.ID — Program Studi D3 Farmasi Universitas Muhammadiyah Lamongan menggelar edukasi ke siswa SMAN 1 Sidayu soal bahaya ikut-ikutan membeli kosmetik viral. Kegiatan ini menyasar remaja yang kerap tergoda tren kecantikan di media sosial tanpa membaca kandungan produk.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pengabdian masyarakat dari kampus tersebut. Sasaran utamanya adalah remaja yang mulai aktif menggunakan produk perawatan kulit dan makeup.
Mengapa Remaja Jadi Sasaran Edukasi
Remaja disebut sebagai kelompok yang paling mudah terpapar promosi kosmetik lewat unggahan influencer dan konten review di platform digital. Tawaran produk dengan klaim instan sering kali tidak diimbangi pemahaman soal komposisi dan efek sampingnya.
Melalui edukasi ini, siswa diajak mengenali bahan berbahaya yang kerap disisipkan ke kosmetik tanpa izin edar. Mereka juga diberi pemahaman soal pentingnya mengecek nomor registrasi BPOM sebelum membeli produk.
Materi yang Disampaikan ke Siswa
Tim pengajar D3 Farmasi Umla memaparkan sejumlah zat yang dilarang digunakan dalam kosmetik, seperti merkuri dan hidrokuinon dalam dosis berlebih. Kedua bahan ini kerap ditemukan pada produk pemutih yang dijual murah di pasaran.
Pemakaian jangka panjang bahan-bahan tersebut bisa memicu masalah kulit serius. Mulai dari iritasi, hiperpigmentasi, hingga kerusakan permanen pada lapisan kulit.
Siswa juga diberi contoh kasus nyata dari temuan BPOM terhadap produk kosmetik ilegal yang beredar di masyarakat. Pendekatan ini dipakai agar peserta lebih mudah memahami risikonya.
Respons Siswa dan Harapan Sekolah
Para siswa mengikuti sesi edukasi dengan antusias, terutama saat sesi tanya jawab soal cara memilih produk yang aman. Beberapa di antaranya mengaku baru tahu bahwa kosmetik viral belum tentu terdaftar resmi.
Pihak SMAN 1 Sidayu menyambut baik kegiatan ini sebagai bekal tambahan bagi siswanya. Sekolah berharap edukasi serupa bisa rutin digelar agar pelajar lebih kritis sebelum membeli produk kecantikan.
D3 Farmasi Umla sendiri menyatakan kegiatan semacam ini akan terus dilakukan ke sekolah-sekolah lain di wilayah Lamongan dan sekitarnya. Tujuannya, menekan angka penggunaan kosmetik berbahaya di kalangan remaja.