Jasindo Syariah Tetap Optimistis Kelola SBSN Seiring Arah Suku Bunga BI

Jasindo Syariah Tetap Optimistis Kelola SBSN Seiring Arah Suku Bunga BI
Jasindo Syariah Tetap Optimistis Kelola SBSN Seiring Arah Suku Bunga BI

JAKARTA - Arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu faktor penting yang terus dicermati pelaku industri keuangan, termasuk perusahaan asuransi berbasis syariah. 

Perubahan tingkat suku bunga acuan tidak hanya memengaruhi likuiditas dan pembiayaan, tetapi juga berdampak langsung pada kinerja instrumen investasi pendapatan tetap yang menjadi tulang punggung portofolio investasi.

Dalam konteks tersebut, potensi lanjutan penurunan suku bunga BI pada tahun ini dinilai membawa konsekuensi yang beragam bagi investasi Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). 

Baca Juga

Investasi EBT Triliunan Buka Peluang Asuransi Energi Hijau bagi ACA

Di satu sisi, kebijakan moneter yang lebih longgar dapat menjaga stabilitas harga instrumen pendapatan tetap. Namun di sisi lain, penyesuaian imbal hasil menjadi tantangan yang perlu dikelola secara cermat oleh investor institusi.

PT Asuransi Jasindo Syariah menjadi salah satu pelaku industri yang aktif mencermati dinamika tersebut. Sebagai perusahaan asuransi syariah, SBSN memegang peran penting dalam portofolio investasi karena karakteristiknya yang sesuai prinsip syariah dan memiliki tingkat risiko yang relatif terukur.

Kebijakan Suku Bunga Jadi Faktor Penentu Investasi

Sepanjang tahun 2025, Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan sebesar 125 basis poin (bps) menjadi 4,75%. Kebijakan ini ditempuh sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan di tengah tantangan global.

Penurunan suku bunga acuan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi kinerja instrumen pendapatan tetap, termasuk SBSN. 

Dalam kondisi suku bunga yang menurun, harga obligasi umumnya cenderung menguat, sehingga dapat memberikan keuntungan dari sisi valuasi. Namun, imbal hasil yang diterima investor berpotensi mengalami penyesuaian seiring perubahan tingkat suku bunga pasar.

Situasi ini membuat perusahaan asuransi perlu lebih adaptif dalam mengelola portofolio investasinya, agar tetap mampu menjaga keseimbangan antara imbal hasil dan risiko.

Jasindo Syariah Nilai Dampak Penurunan Suku Bunga BI

PT Asuransi Jasindo Syariah menilai potensi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) pada tahun ini dapat memberikan dampak yang beragam terhadap investasi di instrumen Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Sekretaris Perusahaan PT Asuransi Jasindo Syariah, Wahyudi, mengatakan bahwa penurunan suku bunga pada dasarnya dapat memberikan dukungan terhadap stabilitas nilai instrumen pendapatan tetap. Kondisi ini dinilai mampu menjaga daya tarik SBSN sebagai salah satu instrumen investasi utama bagi perusahaan asuransi syariah.

“Namun, di sisi lain, penurunan suku bunga juga berpotensi berdampak pada penyesuaian tingkat imbal hasil investasi yang diperoleh,” ujar Wahyudi.

Menurutnya, dinamika tersebut menjadi bagian dari siklus pasar yang perlu direspons dengan strategi pengelolaan investasi yang tepat. Oleh karena itu, perusahaan tidak hanya berfokus pada potensi keuntungan jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan portofolio investasi dalam jangka panjang.

Pengelolaan Portofolio Dilakukan Secara Aktif

Untuk mengantisipasi berbagai dampak dari perubahan kebijakan suku bunga, Jasindo Syariah terus melakukan pengelolaan portofolio investasi secara aktif dan selektif. Langkah ini dilakukan agar peluang yang muncul dapat dimanfaatkan secara optimal, sekaligus memastikan risiko tetap berada dalam batas yang dapat diterima.

Pendekatan aktif ini mencakup evaluasi berkala terhadap komposisi aset investasi, pemilihan tenor yang sesuai, serta penyesuaian strategi berdasarkan kondisi pasar dan kebutuhan perusahaan. Dengan cara ini, Jasindo Syariah berupaya menjaga keseimbangan antara imbal hasil dan risiko di tengah perubahan lingkungan ekonomi.

Wahyudi mengungkapkan bahwa pada tahun 2025, porsi investasi Jasindo Syariah di instrumen SBSN mencapai 35% dari total portofolio investasi. Angka ini menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sempat mencapai 50% pada 2024.

“Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh jatuh tempo SBSN,” jelasnya.

Meski porsi SBSN mengalami penurunan secara persentase, instrumen ini tetap menjadi bagian penting dalam portofolio investasi perusahaan, mengingat karakteristiknya yang sesuai dengan prinsip syariah dan relatif stabil.

Strategi Investasi Berbasis Risiko Terukur

Lebih lanjut, Wahyudi menegaskan bahwa seluruh penempatan investasi perusahaan, termasuk pada instrumen SBSN, merupakan bagian dari strategi pengelolaan investasi aktif dengan risiko terukur. Strategi tersebut dijalankan dengan tetap mematuhi regulasi yang berlaku serta mengedepankan prinsip keberlanjutan.

Pendekatan yang digunakan Jasindo Syariah mengacu pada Risk Based Investment (RBI). Melalui pendekatan ini, setiap keputusan investasi dilakukan dengan mempertimbangkan profil risiko aset serta dampaknya terhadap kesehatan keuangan perusahaan secara keseluruhan.

Dengan RBI, perusahaan dapat mengelola risiko investasi secara lebih sistematis, sekaligus memastikan bahwa portofolio yang dimiliki mampu mendukung kewajiban jangka panjang perusahaan terhadap para pemegang polis.

Penyesuaian Portofolio Mengacu ALM dan LDI

Ke depan, strategi penempatan portofolio investasi Jasindo Syariah akan disesuaikan dengan prinsip Asset Liability Management (ALM) dan Liability Driven Investment (LDI). Kedua pendekatan ini menekankan pentingnya keselarasan antara aset investasi dan kewajiban perusahaan.

“Artinya, penyesuaian aset investasi dilakukan dengan memperhatikan kewajiban perusahaan, agar mampu memberikan proteksi dan memenuhi pembayaran klaim,” tuturnya.

Dengan menerapkan ALM dan LDI, Jasindo Syariah berupaya memastikan bahwa arus kas dari investasi dapat sejalan dengan kebutuhan pembayaran klaim dan kewajiban lainnya. Hal ini menjadi krusial bagi perusahaan asuransi dalam menjaga kepercayaan nasabah dan stabilitas keuangan jangka panjang.

Wahyudi menambahkan bahwa SBSN diproyeksikan tetap menjadi instrumen dominan dalam portofolio investasi Jasindo Syariah pada 2026. 

Proyeksi ini didukung oleh karakteristik SBSN yang relatif aman, menawarkan imbal hasil yang menarik, serta memiliki fleksibilitas tenor yang dapat disesuaikan dengan durasi liabilitas perusahaan.

Sindi

Sindi

navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Analisis Khabib Nurmagomedov Terkait Kemenangan Angka Umar di UFC 324

Analisis Khabib Nurmagomedov Terkait Kemenangan Angka Umar di UFC 324

Real Madrid Cari Pengganti Modric-Kroos, Mac Allister Jadi Target Utama

Real Madrid Cari Pengganti Modric-Kroos, Mac Allister Jadi Target Utama

Real Madrid Hadapi Valencia, Arbeloa Soroti Masalah Konsistensi Pemain

Real Madrid Hadapi Valencia, Arbeloa Soroti Masalah Konsistensi Pemain

Investasi EBT Triliunan Buka Peluang Asuransi Energi Hijau bagi ACA

Investasi EBT Triliunan Buka Peluang Asuransi Energi Hijau bagi ACA

BI dan Bank of Korea Perpanjang Swap Mata Uang Lokal Hingga 2031

BI dan Bank of Korea Perpanjang Swap Mata Uang Lokal Hingga 2031