BMKG Ungkap Sebab Cuaca Panas 37 Derajat di Jatim hingga Sumut

BMKG Ungkap Sebab Cuaca Panas 37 Derajat di Jatim hingga Sumut
Ilustrasi Cuaca Panas di Sejumlah Daerah. (Sumber: NET)

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan mengenai kondisi cuaca di Indonesia yang dalam beberapa waktu terakhir masih menunjukkan dinamika khas masa transisi musim.

Berdasarkan informasi di laman resminya, BMKG melaporkan bahwa pada rentang waktu 11 sampai 13 Mei 2026, suhu tertinggi mencapai 36,0 derajat Celsius hingga 37,1 derajat Celsius terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia seperti Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Jawa Timur.

Situasi cuaca yang terasa lebih menyengat tersebut dipicu oleh menipisnya tutupan awan sehingga proses pemanasan permukaan terjadi secara lebih intensif.

Baca Juga

Pembangunan Wisata IKN Tetap Jalan, Bukan Cuma Pusat Administrasi

Walaupun suhu udara terasa lebih panas, BMKG menerangkan bahwa kondisi itu tidak selamanya mengindikasikan datangnya cuaca kering.

Pada daerah dengan tingkat kelembapan udara yang masih tinggi, pemanasan yang kuat justru bisa memperkukuh aktivitas konvektif yang memacu pembentukan awan hujan pada waktu sore hingga malam hari.

Keadaan tersebut terbukti dari masih turunnya hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di beberapa wilayah dalam periode waktu yang sama.

BMKG menginformasikan adanya curah hujan harian yang cukup signifikan di sejumlah titik, di antaranya Sulawesi Barat sebesar 139,0 mm per hari, Sulawesi Tenggara 81,4 mm per hari, Papua Barat 80,0 mm per hari, serta Papua Tengah 71,0 mm per hari.

Lalu Sumatera Barat tercatat 70,9 mm per hari, Kalimantan Barat 66,3 mm per hari, Papua Pegunungan 62,4 mm per hari, dan Kalimantan Tengah mencapai 57,4 mm per hari.

Pihak BMKG berpendapat bahwa naiknya potensi hujan ini dipengaruhi oleh aktifnya beberapa fenomena atmosfer yang terjadi secara simultan di wilayah Indonesia.

Sejumlah fenomena itu meliputi Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, dan juga Mixed Rossby-Gravity (MRG).

Di samping itu, adanya sirkulasi siklonik di berbagai wilayah ikut membantu proses pembentukan awan konvektif yang lebih masif sehingga memperbesar peluang munculnya hujan signifikan di aneka daerah.

BMKG memberikan imbauan kepada warga agar senantiasa waspada terhadap perubahan cuaca yang bisa berlangsung secara cepat, khususnya potensi hujan lebat yang dibarengi petir serta angin kencang pada sore hingga malam hari di masa peralihan musim ini.

Ganis Akjul Karyawati

Ganis Akjul Karyawati

navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Tiba di Saudi, Tim Amirul Hajj Kawal Layanan dan Misi Diplomasi

Tiba di Saudi, Tim Amirul Hajj Kawal Layanan dan Misi Diplomasi

UBN Minta Pemerintah Selamatkan WNI di Kapal Sumud Flotilla

UBN Minta Pemerintah Selamatkan WNI di Kapal Sumud Flotilla

Intip Replika Kursi Firaun hingga Lukisan Emas Sitaan yang Dilelang

Intip Replika Kursi Firaun hingga Lukisan Emas Sitaan yang Dilelang

Penembakan Maut di Islamic Center San Diego, 5 Orang Tewas

Penembakan Maut di Islamic Center San Diego, 5 Orang Tewas

Siasat Sindikat Narkoba Gang Langgar Samarinda Pakai Sniper

Siasat Sindikat Narkoba Gang Langgar Samarinda Pakai Sniper