Waspada Rabies pada Kucing: Kenali Gejala Klinis dan Risikonya
JEMBRANA - Seorang warga berinisial NKS (38) dikabarkan mengembuskan napas terakhirnya lewat diagnosis dugaan kuat atau suspek rabies pasca-memperoleh perawatan medis di RSU Negara.
Pihak rumah sakit lewat Kepala Bidang Pelayanan Medik RSU Negara, dr Gusti Ngurah Putu Adnyana, menerangkan bahwa pasien itu dibawa ke IGD pada Sabtu (23/5/2026) lewat keluhan medis berupa rasa takut terhadap air, amat peka tatkala terkena embusan angin, serta menderita sesak napas.
Berdasarkan data yang dihimpun dari pihak keluarga, diketahui bahwa NKS sempat menderita gigitan kucing kurang lebih satu bulan sebelum indikasi muncul.
Sangat disayangkan, luka akibat gigitan hewan itu tidak segera ditangani secara medis dan korban pun tidak memperoleh suntikan vaksin antirabies (VAR).
Dokter yang menangani lantas mendiagnosis bahwa pasien menderita inflamasi atau peradangan pada organ otak yang dibarengi lewat gejala klinis hidrofobia serta aerofobia, di mana tanda-tanda ini sangat identik lewat kasus infeksi rabies.
Meskipun tim medis telah berupaya menghadirkan penanganan dan perawatan yang optimal, kondisi kesehatan pasien ditemukan terus merosot hingga dinyatakan wafat pada Minggu (24/5/2026) dini hari.
Satwa kucing sendiri populer mempunyai keakraban yang erat dalam kehidupan sehari-hari manusia dan populasinya amat gampang dijumpai di mana-mana.
Gejala penularan ini tentu memicu rasa cemas dan kegelisahan di masyarakat, terkhusus bagi para pencinta serta pemilik kucing.
Berkaitan hal tersebut, muncul pertanyaan mengenai apa saja ciri klinis atau tanda-tanda sewaktu seekor kucing terinfeksi penyakit rabies?
Menanggapi fenomena ini, Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. drh. Slamet Raharjo, M.P, menghadirkan penjelasan bahwa kucing masuk sebagai satwa pemakan daging atau karnivora yang berpotensi menjadi agen pembawa virus rabies.
"Kucing adalah karnivora yang juga Hewan Pembawa Rabies (HPR) yang artinya secara klinis dapat menjadi pembawa dan penular rabies bagi hewan lain dan manusia," kata Slamet ketika dihubungi Kompas.com pada Senin (8/6/2026).
Jika diamati dari aspek fisiologis, Slamet menjelaskan bahwa kucing yang terjangkit virus rabies cenderung memperlihatkan tanda yang jauh lebih tenang bila dikomparasikan dengan anjing.
Pada hewan anjing, fase perkembangan penyakitnya terbagi secara bertahap meliputi masa inkubasi, fase prodromal, fase eksitasi, hingga fase paralisis yang polanya tampak sangat kontras dan berbeda bila dibandingkan lewat kasus pada kucing.
"Meskipun gejala tidak senyata anjing, kucing tetap dapat menularkan rabies ke hewan lain dan manusia melalui gigitan," kata Slamet.
Secara lebih mendetail, seekor kucing bisa tertular virus rabies dari hewan penular lainnya lewat beberapa perantara penularan layaknya bekas gigitan, luka cakaran, ataupun akibat paparan kontaminasi dari cairan liur hewan yang sakit.
"Di Jembrana, sangat mungkin tertular dari anjing penderita rabies," tambah Slamet.
Menilik pada data medis terkait gejala penyakit menular, terdapat deretan tanda klinis yang patut diwaspadai selaku indikasi bahwa seekor kucing telah terinfeksi rabies, di antaranya adalah:
Keadaan kucing yang tampak gelisah
Berlangsungnya perubahan tabiat atau perilaku yang berganti menjadi jauh lebih agresif
Adanya kecenderungan kerap menggigit benda-benda yang berada di sekelilingnya
Derajat suhu tubuh atau kondisi yang membuat kucing tampak lebih haus daripada kondisi normal biasanya
Kucing menjadi sering bersembunyi di kawasan gelap
Mempunyai kecenderungan untuk menyendiri dan menjauh
Kondisi fisik luar yang tampak lemas dan tidak bertenaga
Menjadi amat peka ketika terpapar oleh cahaya
Munculnya gejala takut terhadap air atau hidrofobia
Kucing mulai tidak mengenali lagi siapa pemiliknya
Mengalami gangguan pada sistem saraf pusat
Berlangsungnya kondisi rahang yang terkunci (lock jaw)
Serta menderita tingkat kesulitan yang tinggi untuk sekadar berdiri ataupun berjalan.