Universitas Murni Teguh dan Aptisi Sumut Dorong Inovasi Riset Berbasis AI

Jumat, 30 Januari 2026 | 08:19:48 WIB
Universitas Murni Teguh dan Aptisi Sumut Dorong Inovasi Riset Berbasis AI

JAKARTA - Akselerasi kualitas publikasi ilmiah di kancah internasional kini menjadi prioritas utama bagi perguruan tinggi swasta di Sumatera Utara. Menjawab tantangan era digital, Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Wilayah Sumut berkolaborasi dengan Universitas Murni Teguh menggelar inisiatif strategis berupa lokakarya berskala internasional. Fokus utamanya adalah membekali para akademisi dengan kemampuan mengintegrasikan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam menyusun peta jalan penelitian yang kompetitif.

Kegiatan yang berlangsung di Universitas Murni Teguh pada Kamis, 29 Januari 2026 ini, mengusung tema "Hand On AI Workshop: From Research Idea to Conceptual". Sebanyak 25 peserta yang mewakili 12 perguruan tinggi terkemuka di Sumatera Utara turut hadir, membawa misi untuk meningkatkan standar luaran riset mereka ke level dunia.

Kolaborasi Strategis Antar-Perguruan Tinggi di Sumatera Utara

Inisiatif ini merupakan wujud nyata sinergitas antar-lembaga pendidikan dalam meningkatkan daya saing regional. Partisipasi luas terlihat dari daftar institusi yang terlibat, mulai dari Unpab, USM Indonesia, Politeknik Indonesia, UMN Al-Washliyah, hingga UISU. Selain itu, hadir pula perwakilan dari Institut Teknologi dan Bisnis Indonesia, STIM Sukma, Universitas Asahan, Universitas Harapan, serta Universitas Murni Teguh sebagai tuan rumah.

Langkah kolektif ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang transfer ilmu, tetapi juga menjadi wadah pembentukan konsorsium riset yang lebih kuat di wilayah Sumatera Utara, sehingga publikasi internasional dari dosen-dosen lokal dapat bersaing dengan kampus-kampus global lainnya.

Peran AI Sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti Keahlian Dosen

Menghadirkan perspektif dari pakar mancanegara, lokakarya ini mengundang Assoc. Prof. Dr. Bahtiar Mohamad dari Universiti Utara Malaysia (UUM). Dalam paparannya, ia menggarisbawahi perubahan paradigma dalam penulisan artikel ilmiah bereputasi dengan bantuan teknologi. Namun, ia memberikan catatan penting bahwa kecanggihan teknologi tidak akan pernah menggantikan peran intelektual seorang akademisi.

"Kebanyakan dosen expert dalam bidangnya. AI hanya untuk membantu mendapatkan informasi. Tapi yang menentukan informasi itu betul atau tidak tergantung expert dosen tersebut," katanya.

Terkait validitas data yang dihasilkan oleh perangkat pintar tersebut, Assoc. Prof. Dr. Bahtiar Mohamad menegaskan informasi dari AI harus bisa di-cross check dengan data-data lainnya. Ia juga menjelaskan bahwa saat ini terdapat dua level penggunaan teknologi ini, yakni AI biasa yang tak berbayar dan AI pro yang memiliki fitur lebih mendalam.

Eksplorasi Isu SDGs dan Fenomena Regional dalam Penelitian

Lokakarya ini juga mengarahkan para peneliti untuk lebih peka terhadap isu-isu kontekstual yang relevan dengan pembangunan global. Bahtiar mengungkapkan bahwa saat ini terdapat tren penelitian yang sangat diminati jurnal bereputasi, terutama yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Isu-isu yang mencuat antara lain mengenai banjir Sumatera, isu kemapanan, hingga dinamika politik dan kemasyarakatan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan diferensiasi tujuan penelitian berdasarkan jenjang pendidikan dan kebutuhan praktis. Penelitian fundamental terutama oleh dosen bergelar S3 (doktoral) lebih banyak menghasilkan theoretical development. Di sisi lain, ada juga riset yang dirancang khusus untuk diaplikasikan kepada masyarakat guna memberikan solusi nyata atas permasalahan di lapangan.

Urgensi Dukungan Dana Riset dari Sektor Publik dan Industri

Salah satu poin krusial yang diangkat dalam diskusi adalah pentingnya keberlanjutan pendanaan. Riset berkualitas memerlukan sokongan finansial yang memadai dari para pemangku kepentingan. Bahtiar menekankan bahwa sektor industri dan pemerintah memiliki peran besar dalam hal ini.

Ia pun berharap pejabat pemerintahan dan industri haruslah menyediakan dana untuk riset. Sebagai contoh nyata, penanganan bencana di daerah memerlukan basis data yang kuat. "Seperti isu banjir dibutuhkan riset. Saat banjir bagaimana kita bisa menanganinya," tutur pakar dari Malaysia tersebut. Ia juga memuji antusiasme para peserta yang tetap fokus dan memahami bidang kepakaran mereka masing-masing.

Komitmen Aptisi dan Universitas dalam Peningkatan Mutu Publikasi

Dukungan penuh terhadap kegiatan ini juga disuarakan oleh pengurus Aptisi Sumatera Utara. Ketua Aptisi Sumut Dr. Muhammad Isa Indrawan, M.M yang diwakili oleh Sekretaris Aptisi Sumut, Supriyanto, S.P, M.Si, memberikan apresiasi atas terselenggaranya workshop ini. Menurutnya, pemanfaatan alat bantu modern adalah kunci untuk melompat lebih tinggi.

"Bagaimana mendorong dosen-dosen dapat menulis artikel yang lebih baik. AI itu salah satu alat bantu yang memungkinkan seorang dosen menulis artikel menjadi lebih baik," ungkap Supriyanto. Ia meyakini bahwa melalui bimbingan teknis seperti ini, publikasi dosen-dosen dari Sumatera Utara dapat menembus indeksasi jurnal internasional dengan level yang lebih tinggi.

Sebagai tuan rumah, Rektor Universitas Murni Teguh, Seriga Banjarnahor, Ph.D, menegaskan dukungan terhadap program pemerintah dan Aptisi untuk pengembangan dosen yang tentu akan berdampak kepada mahasiswa. Peningkatan kualitas dosen dalam hal riset secara otomatis akan meningkatkan mutu pengajaran dan reputasi institusi di mata publik.

Kegiatan ini diharapkan menjadi pemantik bagi lahirnya karya-karya ilmiah inovatif dari Sumatera Utara yang tidak hanya unggul secara teori, tetapi juga solutif bagi tantangan zaman dengan memanfaatkan potensi kecerdasan buatan secara bijak dan bertanggung jawab.

Terkini