Menikmati Ikan Asap Khas Blimbingsari yang Bertahan Puluhan Tahun

Selasa, 12 Mei 2026 | 16:14:43 WIB
Ikan Asap Blimbingsari Kuliner Legendaris Banyuwangi Sejak 1977. (Sumber: NET)

BANYUWANGI - Di pesisir selatan Banyuwangi, tepatnya di kawasan Pantai Blimbingsari, aroma asap dari deretan tungku pembakaran ikan menjadi penanda dijajakannya kuliner khas yang sudah bertahan puluhan tahun.

Di tempat ini, wisatawan bukan hanya datang menikmati pantai, tetapi juga berburu ikan asap dan ikan bakar dengan cita rasa tradisional yang sulit ditemukan di daerah lain.

Salah satu penjual legendaris di kawasan tersebut adalah Mastia (66).

Perempuan asal Desa Blimbingsari itu telah berjualan ikan asap sejak 1977 dan tetap mempertahankan resep turun-temurun khas kampung nelayan setempat.

Berbagai jenis ikan dijajakan di warung sederhananya, mulai ekor merah, banyar, slengseng, hingga kerapu.

Semua diolah menggunakan cara tradisional yang menjadi rahasia kelezatan kuliner Blimbingsari.

Proses memasaknya dimulai dari ikan segar hasil tangkapan nelayan yang dibakar terlebih dahulu.

Setelah setengah matang, ikan dilumuri racikan bumbu khas lalu kembali dibakar hingga aroma rempah meresap sempurna ke dalam daging ikan.

“Bumbu ini resep turun-temurun asli Blimbingsari. Bahannya asem, bawang merah, bawang putih, laos, kemiri, kencur, gula merah, gula putih, cabai besar dan kecil,” kata Mastia.

Perpaduan rasa gurih, manis, pedas, dan aroma asap itulah yang membuat pelanggan terus berdatangan.

Banyak wisatawan awalnya hanya mampir usai berkunjung ke Pantai Blimbingsari, namun kemudian kembali lagi karena ketagihan cita rasanya.

Tak hanya diminati warga lokal, ikan asap Blimbingsari juga sudah dipesan hingga luar daerah seperti Blitar, Yogyakarta, bahkan Sumatera.

Pemesanan biasanya dilakukan lewat telepon atau WhatsApp, lalu dikirim menggunakan kereta maupun bus antarkota.

“Kalau kirim luar kota bisa 50 sampai 150 tusuk sekali pesan. Ada yang lewat kereta, ada yang dititipkan bus. Alhamdulillah aman sampai tiga hari,” ujar Mastia.

Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau.

Ikan bakar dijual mulai Rp15.000 hingga Rp25.000 tergantung ukuran, sedangkan pepes ikan dibanderol sekitar Rp5 ribu per bungkus.

Pedagang lainnya, Ulin (45), mengatakan terdapat sekitar 15 UMKM ikan bakar di Dusun Krajan, Desa Blimbingsari.

Menurutnya, geliat wisata Pantai Blimbingsari turut mengangkat perekonomian warga pesisir.

“Wisatawan banyak yang pulang dari pantai mampir beli ikan bakar. Kalau sudah pernah ke sini biasanya balik lagi karena bumbunya khas,” terangnya.

Ia menyebut ciri khas ikan bakar Blimbingsari terletak pada penggunaan bumbu alami tanpa tambahan saus modern, sehingga rasa ikan tetap dominan namun kaya rempah.

Saat akhir pekan atau musim liburan, penjualan biasanya meningkat tajam.

Bahkan, pesanan dalam jumlah besar kerap datang dari luar kota.

“Kalau akhir pekan omzet bisa naik sampai Rp500.000 bahkan lebih. Terakhir ada pesanan dari Surabaya sampai 80 tusuk,” ujarnya.

Kuliner ikan bakar dan ikan asap Blimbingsari juga mendapat perhatian dari Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.

Saat menghadiri program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) di Kecamatan Blimbingsari, Ipuk menyempatkan diri mencicipi kuliner khas tersebut.

“Kuliner khas seperti ini menjadi kekuatan wisata Banyuwangi. Orang datang tidak hanya menikmati pantai, tetapi juga mencari pengalaman kuliner otentik yang tidak ditemukan di daerah lain,” kata Ipuk.

Menurutnya, wisata kuliner pesisir memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan karena mampu menggerakkan ekonomi warga sekaligus memperkuat identitas wisata Banyuwangi.

Dengan cita rasa tradisional yang tetap dijaga sejak puluhan tahun lalu, ikan asap Blimbingsari kini bukan sekadar makanan khas pesisir, tetapi juga bagian dari pengalaman wisata yang selalu dicari para pelancong saat datang ke Banyuwangi.

Terkini