WFH Setiap Jumat, ASN Kemenag Jatim Merasa Lebih Fleksibel Urus Anak

Ilustrasi ASN WFH. (Sumber: NET)
Selasa, 12 Mei 2026 | 16:14:43 WIB

SURABAYA - Terhitung sejak April 2026, atmosfer Jumat pagi bagi Evi Laili (38), seorang aparatur sipil negara (ASN) di Kanwil Kemenag Jawa Timur, mengalami perubahan.

Sebelumnya, ia diwajibkan segera bertolak ke kantor tiap Jumat pagi setelah merampungkan tugas domestik bagi suami serta anaknya.

Namun kini, ia bisa menunaikan kewajiban pekerjaannya lewat skema work from home (WFH) atau bekerja dari rumah.

“Kebetulan posisi sebagai humas, setiap hari di rumah juga standby karena kerja juga dari handphone. Di mana-mana kami harus siap dengan penugasan untuk membuat berita, admin media sosial, edit konten atau semacamnya,” kata Evi kepada Kompas.com, Senin (11/5/2026).

Evi mengemban amanah sebagai ASN dengan jabatan Pranata Humas pada Kanwil Kemenag Jawa Timur.

Penerapan kebijakan WFH bagi ASN setiap Jumat ini dimulai sejak April 2026 sesuai instruksi pemerintah pusat untuk meminimalkan pemakaian BBM di tengah ketidakpastian global.

Meski bekerja dari rumah, Evi menegaskan tetap harus sigap apabila mendadak diminta melakukan peliputan atau dokumentasi kegiatan Kanwil Kemenag Jawa Timur.

Setiap Jumat pagi, ia sudah bersiap di depan laptop dan ponsel yang tertata di meja kerjanya di rumah.

Sering kali, anak balitanya turut duduk menemani sambil melihat ke arah layar laptop tersebut.

“Lebih longgar, karena tidak menempuh jarak jauh. Setelah ngurus keluarga, lanjut kerja. Sambil momong balita juga, tapi masih dikondisikan dan dibilangi anaknya,” ungkapnya.

Di luar hari Jumat, Evi harus menempuh perjalanan 15 kilometer dari rumahnya di Rungkut menuju kantor di Sidoarjo dengan sepeda motor.

“Jarak segitu isi bensin Pertamax dalam seminggu bisa habis sekitar Rp 50.000-Rp 70.000 karena kalau PP (pulang pergi) bisa 30 kilometer,” ucapnya.

Bagi Evi, sistem WFH ini cukup menolong dalam memangkas biaya transportasi walaupun belum terasa signifikan.

Saat bekerja di rumah, ia lebih banyak mengandalkan laptop dan ponsel yang membutuhkan listrik serta koneksi internet untuk koordinasi tim.

Kendati demikian, ia mengaku tagihan listrik di kediamannya tidak mengalami kenaikan yang mencolok.

“Internet sudah pakai wifi, jadi bulanannya tetap. Kalau listrik sejauh ini tidak ada peningkatan signifikan, tidak banyak yang berubah. Masih sama listriknya kisaran Rp 700.000 per bulan,” pungkasnya.

Evi menilai pola WFH memberikan ruang gerak lebih luwes karena ia dapat menyeimbangkan antara beban kerja dan perhatian pada keluarga.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati