JAKARTA - Terdapat sebuah fenomena yang terjadi di Amerika Serikat (AS) di mana banyak mahasiswa dari Generasi Z dilaporkan mengalami kesulitan dalam membaca, bahkan untuk sekadar memahami kalimat pendek dalam lingkup akademik.
Di Indonesia, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyatakan terdapat dua faktor yang saling berkaitan erat dengan rendahnya skor PISA di tanah air.
Kedua hal tersebut yakni tingkat literasi serta numerasi anak-anak Indonesia yang dinilai masih sangat minim.
Sering kali persoalan matematika dipaparkan dalam bentuk narasi atau soal cerita.
Saat literasi anak rendah dan mereka enggan membaca, maka soal cerita tersebut tidak akan bisa diselesaikan.
"Banyak soal yang disebutkan dalam bentuk narasi cerita, (contohnya) 'Saya berangkat jam 6.35 dari rumah dinas, perjalanan ke SD 4 Meruya membutuhkan waktu 30 menit. Jarak dari rumah dinas ke SD 4 Meruya kira-kira 11 kilo. Maka pertanyaannya berapa kecepatan mobil dari rumah dinas ke SD 4 Meruya yang jaraknya 11 kilo?'" ucap Mendikdasmen mencontohkan soal cerita terkait numerasi.
Lantas, benarkah terdapat fenomena Generasi Z yang malas untuk membaca? Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Arys Hilman Nugraha, justru mengungkapkan fakta yang berlawanan.
Arys menekankan adanya peningkatan minat dari generasi muda terhadap buku serta perpustakaan dalam Seminar Nasional "Merawat Pustaka dan Memartabatkan Bangsa" yang dilaksanakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia secara daring melalui Zoom dan Youtube, Selasa (12/5/2026).
Menurut pendapat Arys, data riset industri perbukuan pada akhir tahun 2025 memperlihatkan bahwa anak muda di Indonesia tetap memiliki ketertarikan yang tinggi pada budaya membaca.
"Alhamdulillahnya, ini hasil survei akhir tahun 2025. Bahwa anak-anak kami itu suka membaca," ujarnya dalam penyampaian materi seminar.
Arys memberikan contoh mengenai ramainya penyelenggaraan Indonesia International Book Fair tahun 2025 di Jakarta Convention Center (JCC).
Berdasarkan pengamatannya, pameran tersebut dipenuhi oleh pengunjung berusia muda dari pagi hingga malam hari selama lima hari acara berlangsung.
"Ternyata dari pagi sampai malam, setiap hari dari hari Rabu sampai Minggu itu penuh. Dan mereka amat muda, apa yang kami sebut sebagai Gen Z," katanya.
Ia juga menambahkan bahwa generasi muda saat ini memiliki koneksi yang kuat dengan perkembangan dunia baca secara global.
Menurutnya, banyak anak muda yang sudah memahami tren buku terbaru bahkan sebelum buku tersebut resmi diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
"Mereka terhubung dengan dunia baca secara global. Mereka tahu bahwa akan ada buku yang baik hadir di bulan depan," ujarnya.
Selain gelaran pameran buku, Arys juga menyoroti tingginya antusiasme masyarakat mengunjungi perpustakaan di berbagai wilayah.
Ia menyebutkan bahwa kondisi ini membuktikan perpustakaan tetap relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
"Perpustakaan Nasional Sabtu-Minggu penuh," katanya.
Ia pun memaparkan bahwa sejumlah perpustakaan di daerah, seperti Jawa Timur dan Bandung, tetap ramai didatangi pengunjung yang mayoritas adalah anak muda.
Menurut pandangannya, situasi ini merupakan sinyal yang positif bagi kemajuan literasi serta industri penerbitan nasional.
Walaupun demikian, Arys tetap memberikan dorongan agar terjadi kolaborasi lintas sektor guna memperkuat ekosistem perpustakaan dan perbukuan di Indonesia.