Makam Syiah Kuala: Jejak Ulama Aceh yang Mendunia

Makam Teungku Syiah Kuala: Jejak Ulama Besar Aceh yang Terus Dikenang (Foto:NET)
Penulis: Tomo
Senin, 18 Mei 2026 | 13:13:27 WIB

Situs makam syiah kuala di Banda Aceh menjadi salah satu tujuan wisata religi yang sarat akan makna spiritual. Berlokasi di pesisir pantai, tepatnya di Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, area pemakaman ini rutin didatangi oleh para peziarah lokal maupun mancanegara, termasuk dari Malaysia, Thailand, hingga Turki.

Kompleks pemakaman ini menjadi tempat peristirahat terakhir dari ulama agung, Aminuddin Abdurrauf bin Ali al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili. Dikenal luas dengan nama Syiah Kuala, kawasan ini menyimpan warisan sejarah serta nilai spiritualitas yang amat mendalam.

Berdasarkan penuturan dari pengelola makam, Abdul Wahib, sosok ini bukanlah pemuka agama biasa. Beliau sangat dihormati sebagai tokoh ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang memberikan pengaruh besar di bumi Serambi Mekkah dan tersohor ke seantero Nusantara.

"Banyak sekali murid serta pengikut beliau yang di kemudian hari bertransformasi menjadi ulama besar, contohnya Syekh Yusuf Al-Makassari dari Makassar dan Syekh Burhanuddin dari Sumatera Barat," jelas Abdul Wahib saat diwawancarai, Selasa (12/11/2024).

Sepanjang masa hidupnya, tokoh ulama ini sukses mendidik banyak pemuka agama baru yang ikut menyebarkan syiar Islam ke berbagai penjuru daerah, sekaligus memperkuat fondasi keagamaan di Nusantara.

Ulama agung ini lahir di wilayah Aceh Singkil pada tahun 1001 Hijriah dan berpulang pada usia 105 tahun di tahun 1106 Hijriah. Semasa hidup, beliau memegang amanah penting sebagai Qadhi Malikul ‘Adil (Hakim Agung) pada masa pemerintahan Sultanah Safiatuddin di Kerajaan Aceh Darussalam.

Selama periode pengabdiannya, beliau tidak sekadar mengajar ilmu agama kepada para penuntut ilmu, namun juga bertindak sebagai penasihat kesultanan dalam urusan hukum dan keagamaan.

Kepribadiannya yang bersahaja, bijaksana, serta memiliki kepedulian tinggi pada umat, membuat area makam syiah tersebut sangat dihormati. Tempat ini pun sekaligus menjadi teladan bagi siapa saja yang ingin mendalami sejarah peradaban Islam di Serambi Mekkah.

Kawasan makam syiah kuala ini tidak pernah sepi dari pelancong, khususnya momen peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi Muhammad SAW. Rombongan majelis taklim, warga umum, hingga para pemuka agama kerap berkunjung untuk berzikir, berdoa, serta menggelar syukuran.

"Tiap hari selalu ada peziarah, namun eskalasi pengunjung melonjak tajam saat Maulid Nabi atau hari besar keagamaan lainnya. Banyak rombongan yang menggelar doa bersama di sini," tutur Abdul Wahib.

Guna menghadirkan kenyamanan bagi para pengunjung, area sekitar makam syiah telah difasilitasi dengan sarana yang representatif, mulai dari balai pengajian untuk diskusi agama, mushola yang bersih, hingga area parkir yang sanggup menampung kendaraan rombongan besar.

"Kami datang ke sini khusus untuk berziarah dan melakukan doa bersama. Suasana di sekitar pemakaman sangat tenang dan nyaman untuk beribadah maupun pengajian," kata Mardiah, peziarah asal Aceh Singkil.

Daya tarik dari tempat ini bukan cuma terletak pada atmosfernya yang teduh dan sarat historis, melainkan juga pada kedalaman spiritual yang dirasakan pengunjung. Selain destinasi ziarah, area ini kini bertransformasi menjadi pusat aktivitas budaya dan keagamaan.

Para pelancong yang datang bisa mengikuti agenda pengajian berkala atau beriktikaf di mushola untuk meresapi warisan kebaikan sang ulama. Di balai pertemuan, pengelola juga sering mengadakan kajian yang mengulas biografi tokoh, serta bagaimana jejak Ulama Aceh dalam menyebarkan Islam dan merawat kedamaian masyarakat.

Lebih luas dari sekadar lokasi wisata spiritual, cagar budaya ini menjadi wadah edukasi bagi generasi muda serta masyarakat umum yang ingin memelajari kontribusi besar para tokoh agama terdahulu.

Bagi para pengunjung, agenda berziarah ke lokasi ini menjadi momentum berharga untuk mempertebal keimanan sekaligus memperluas wawasan mengenai dinamika dan jejak Ulama Aceh dalam perkembangan konstelasi Islam di Nusantara.

Melalui narasi sejarah dan nilai luhur yang dikandungnya, kompleks makam syiah kuala bukan sekadar situs purbakala, melainkan representasi dari semangat perjuangan ulama yang abadi di sanubari masyarakat.

Reporter: Tomo