Andalkan Lahan Tadah Hujan, Petani Jagung di Garut Panen Melimpah

Salah seorang petani di Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut menanam jagung di area lahan tadah hujan karena dinilai lebih aman (Sumber: NET)
Selasa, 19 Mei 2026 | 15:47:32 WIB

GARUT - Wilayah perbukitan di Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Jawa Barat, merupakan kawasan tadah hujan yang terletak jauh dari sistem irigasi serta tidak mempunyai sumber mata air andalan selain dari air hujan.

Bagi para petani, kawasan tadah hujan senantiasa lekat dengan unsur ketidakpastian.

Rasa cemas akan terjadinya gagal tanam maupun gagal panen sering kali membayangi, terutama jika masa kemarau tiba lebih cepat serta berlangsung dalam waktu lama sampai-sampai kondisi tanah menjadi kering kerontang dan tidak dapat ditanami kembali.

Akan tetapi pada periode awal Mei 2026, intensitas hujan terpantau masih lumayan sering mengguyur wilayah tersebut.

Situasi tersebut menjadi penyambung asa bagi para penggarap lahan tadah hujan agar tetap mempunyai peluang untuk bercocok tanam dan menikmati hasil panen ketika kemarau melanda.

Hal inilah yang dirasakan oleh Jajang Sumpena (54), seorang petani asal Kampung Cikendal, Desa Sukalarang, Kecamatan Sukawening, Garut.

Ia merasa sangat bersyukur lantaran air hujan masih menyirami areal tanaman jagung miliknya yang tumbuh di kawasan perbukitan dengan ketinggian mencapai 1.000 mdpl.

Pada periode April yang lalu, Jajang berhasil memanen komoditas jagung dari areal garapan seluas 3 hektare dengan perolehan hasil mencapai lebih dari 20 ton.

Pencapaian tersebut tergolong amat memuaskan, mengingat rata-rata petani jagung pada umumnya cuma bisa memproduksi sekitar 5 hingga 7 ton untuk setiap hektarenya.

Saat ini, ketika memasuki periode awal Mei and mulai mendekati masa kemarau, Jajang memilih untuk kembali menanam jagung.

Sebagian dari area lahan miliknya pun tengah dipersiapkan agar bisa digunakan pada sesi penanaman berikutnya.

Berdasarkan penuturan Jajang, kondisi cuaca yang masih memicu turunnya hujan merupakan momentum yang sangat tepat untuk memulai proses penanaman, sebab tanaman jagung sejatinya hanya memerlukan pasokan air dalam jumlah banyak pada masa awal pertumbuhan saja.

Setelah melewati fase tersebut, yakni dalam kurun waktu tiga hingga empat bulan ke depan, tingkat kebutuhan tanaman terhadap air tidak lagi terlalu besar. "Jadi, kalau sekarang menanam jagung, nanti Juli atau Agustus masih bisa panen jagung, karena jagung itu hanya butuh air di awal tanam saja," kata Jajang saat meninjau lahan jagungnya pada awal Mei 2026.

Areal tanaman jagung dengan luas mencapai 3 hektare tersebut senantiasa diawasi serta dirawat saban hari demi memastikan pertumbuhan tanaman berjalan dengan optimal.

Ia pun menyiagakan beberapa ekor anjing, baik yang dilepas secara bebas maupun yang ditambatkan pada sejumlah titik tertentu, dengan tujuan untuk membentengi ladangnya dari potensi serbuan kawanan monyet liar yang kerap datang merusak dan mengambil buah jagung.

Bagi Jajang sendiri, kehadiran hewan penjaga tersebut dirasa amat memberikan bantuan yang besar.

Sebab tanpa adanya pengawasan yang ketat, tanaman jagung yang baru mulai mengeluarkan buah bisa habis dijarah oleh kawanan monyet, sebagaimana peristiwa buruk yang pernah menimpa dirinya pada waktu terdahulu. "Kalau tidak dijaga sama anjing, jagung bisa habis sama monyet," kata Jajang.

Komoditas jagung yang ditanam oleh Jajang telah memiliki jaminan pasar yang pasti.

Sejumlah pihak tengkulak pun sudah menyatakan kesiapan mereka untuk menampung seluruh hasil panennya, walaupun tingkat harga jualnya terhitung sering berfluktuasi, mulai dari kisaran Rp4 ribu hingga merangkak naik menyentuh angka Rp5 ribu untuk setiap kilogramnya.

Kendati demikian, semenjak Presiden Prabowo Subianto gencar menggalakkan program swasembada pangan serta memacu aktivitas penanaman jagung dalam kurun waktu dua tahun belakangan, gairah para petani kian terdongkrak lantaran kondisi pasar dinilai jauh lebih meyakinkan.

Apalagi, pihak Perusahaan Umum Perum Bulog juga menyatakan kesiapannya untuk menyerap hasil jagung milik petani dengan patokan harga sebesar Rp6.300 per kilogram.

Kepastian mengenai nominal harga tersebut menjadi sebuah stimulus penyemangat yang besar bagi Jajang beserta rekan sesama petani lainnya untuk terus konsisten menanam jagung.

Selaku figur Ketua Kelompok Tani Mekarjaya di wilayah Kecamatan Sukawening, Jajang berikhtiar agar bisa menyalurkan hasil panen dari kelompoknya langsung kepada pihak Bulog.

Ia pun menjalin komunikasi serta koordinasi dengan petugas penyuluh lapangan (PPL) sektor pertanian serta jajaran Kepolisian Resor Garut yang sepanjang waktu ini bersikap aktif memberikan sokongan terhadap gerakan penanaman jagung.

Hingga pada akhirnya, jalinan kerja sama dengan pihak Bulog dapat direalisasikan dengan baik.

Pihak Bulog sama sekali tidak menerapkan batasan terhadap volume kuantitas jagung yang hendak dipasarkan oleh petani, asalkan tingkat kadar air yang terkandung di dalamnya telah memenuhi standar regulasi, yaitu berada di angka 14 persen, dari yang biasanya berkisar antara 16-17 persen pada saat baru selesai dipanen.

Menurut pandangan Jajang, proses untuk menurunkan kadar air pada jagung bukanlah sebuah perkara yang menyulitkan.

Komoditas jagung tersebut hanya perlu dihamparkan di bawah terik matahari selama satu hari atau lebih sampai tingkat kadar airnya menyusut, kemudian bagian sisa-sisa kulit yang masih menempel dibersihkan memakai bantuan kipas angin sebelum akhirnya dimuat menuju ke fasilitas gudang milik Bulog. "Nilai harga Rp6.300 per kilo enggak pernah berubah. Enaknya ke Bulog itu, kalau ke tengkulak kan harganya fluktuatif mulai dari Rp5 ribu, kalau ke Bulog harganya standar," kata Jajang.

Adanya kepastian akses pasar ini ternyata turut membuka ketersediaan lapangan pekerjaan baru bagi para penduduk yang tinggal di area sekitar, mulai dari kelompok buruh tanam, para pemetik buah saat panen tiba, hingga tenaga pengangkut logistik jagung menuju ke Bulog.

Kawasan di sekitar tempat kediaman Jajang kini bertransformasi menjadi pusat dari pusaran aktivitas pemrosesan komoditas jagung.

Para warga sekitar, baik kaum perempuan maupun laki-laki, tampak ikut ambil bagian dalam rangkaian kegiatan mulai dari memipil biji jagung, menjemur, membersihkan sisa kotoran, mengemas hasil ke dalam wadah karung, hingga proses pemuatan ke armada angkutan.

Dalam kurun waktu setiap pekannya, wadah kelompok tani yang berada di bawah komando Jajang sanggup mendistribusikan pasokan jagung dengan volume rata-rata mencapai 10 ton kepada pihak Bulog.

Pasokan jagung tersebut dihimpun dari hasil panen para petani yang berstatus sebagai anggota di dalam kelompoknya.

Berdasarkan penilaian Jajang, kuantitas tersebut sejatinya masih belum mampu memenuhi total volume kebutuhan yang diperlukan oleh Bulog.

Oleh karena itu, untuk masa-masa yang akan datang, mereka berniat untuk terus melakukan perluasan serta memaksimalkan pemanfaatan area lahan yang mulanya dinilai kurang produktif agar dapat dialihfungsikan menjadi lahan tanaman jagung. "Tingkat kesejahteraan alhamdulillah sangat terpengaruh. Dulu kalau ke tengkulak harganya rendah, sekarang harganya jelas. Bahkan kalau harga tengkulak naik, Bulog juga ikut menaikkan harga," katanya.

Jajang pun mengutarakan bahwa roda usaha di sektor pertanian jagung yang tengah digelutinya secara tekun ini terbukti mampu mendongkrak derajat kesejahteraan hidup keluarganya, bahkan ia sanggup membiayai pendidikan ketiga buah hatinya hingga bisa mengenyam bangku perguruan tinggi.

Di balik adanya lonjakan geliat aktivitas pada sektor pertanian jagung tersebut, terdapat andil besar dari beragam elemen masyarakat yang ikut serta menyokong kestabilan semangat para petani, tidak terkecuali jajaran kepolisian, khususnya dari pihak Polsek Sukawening.

Aparat kepolisian tidak sekadar mengemban tugas dalam menjaga kondusivitas keamanan semata, melainkan juga turut terjun langsung memberikan pendampingan bagi para petani.

Kehadiran dari para personil polisi ini dirasa sangat membantu pergerakan petani di wilayah Sukawening, mulai dari sektor penjagaan area lahan pertanian, pengawalan armada angkutan logistik jagung menuju ke fasilitas Bulog, hingga aktivitas sosialisasi terkait beragam regulasi program penanaman jagung.

Di samping hal tersebut, peran dari petugas penyuluh lapangan (PPL) juga terus berjalan dalam mengedukasi para petani, mulai dari aspek penguasaan teknik bercocok tanam, manajemen pengolahan hasil bumi, hingga upaya peningkatan mutu kualitas jagung agar mampu lolos standar kriteria pembelian dari Bulog.

Kelompok petani jagung yang berada di bawah naungan Jajang juga memperoleh sokongan berupa stimulan benih jagung sebanyak 3 kuintal dari pihak Polres Garut yang saat ini seluruhnya telah disebarluaskan pada area lahan dengan total luas berkisar 30 hektare. "Dukungannya luar biasa. Dari polres, kelompok kami diberi bantuan pinjaman bibit yang sudah dibagikan untuk 30 hektare lahan," kata Jajang.

Jajang pun menyadari betul bahwa potret keberhasilan di bidang pertanian jagung pada wilayah tempat tinggalnya tidak dapat dipisahkan begitu saja dari kontribusi menyeluruh semua pihak.

Selain karena adanya sokongan regulasi dari pemerintah yang terus memacu geliat penanaman jagung, terdapat pula kontribusi nyata dari figur PPL, institusi Bulog, serta jajaran kepolisian yang secara berkala terus mendampingi aktivitas para petani di lapangan.

Eksistensi Perum Bulog selaku kepanjangan tangan dari pihak pemerintah kini bertransformasi menjadi sebuah tumpuan harapan yang krusial bagi para petani jagung di wilayah Garut agar jaminan harga jual tetap berada pada koridor yang jelas dan hasil bumi mereka dapat terserap secara kontinu.

Pimpinan Cabang Ciamis Bulog, Johan Wahyudi, kala melangsungkan agenda kunjungan ke fasilitas Gudang Bulog Garut beberapa waktu yang lalu menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen penuh untuk menampung hasil jagung dari para petani Garut demi menjaga kestabilan angka harga sekaligus menggaransi agar petani tetap memproleh margin keuntungan yang proporsional.

Menurut pemaparan Johan, aktivitas penyerapan komoditas jagung ini merupakan bagian integral dari implementasi tugas yang dimandatkan oleh pemerintah melalui Badan Pangan Nasional yang berkaitan dengan jalannya program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), di mana salah satu sasarannya menyasar pada komoditas jagung.

Ia pun menambahkan, kelompok petani jagung di wilayah Garut sepanjang waktu ini terhitung sangat responsif dan aktif dalam menyalurkan hasil bumi mereka ke pihak Bulog.

Sampai dengan saat ini, total volume ketersediaan stok jagung yang tersimpan di dalam fasilitas Gudang Bulog Garut dilaporkan sudah menyentuh angka berkisar 200 ton dan diproyeksikan bakal terus merangkak naik seiring dengan aktivitas penyerapan yang masih terus digulirkan di lapangan. "Sekitar 200-300 ton untuk asosiasi peternak di sini. Kalau nanti kurang, kami ambil dari daerah lain," katanya.

Pihak Pemerintah Kabupaten Garut lewat perantara Dinas Pertanian membaca adanya sebuah potensi yang sangat masif dari keberadaan area lahan tadah hujan di wilayah Garut yang total luasnya diestimasi menyentuh angka 10.301 hektare.

Sepanjang periode waktu ini, hamparan lahan tersebut memang cenderung lebih dominan dimanfaatkan untuk aktivitas penanaman komoditas padi dengan format mengandalkan pasokan air dari curah hujan semata.

Menjelang tibanya masa kemarau, pihak Dinas Pertanian Garut terus melayangkan dorongan bagi para petani agar mengalihkan pemanfaatan lahan tadah hujan tersebut untuk ditanami komoditas jagung karena dinilai membutuhkan volume pasokan air yang jauh lebih sedikit ketimbang padi, sehingga tingkat risiko kerugiannya pun relatif lebih minim.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Ardhy Firdian, mengutarakan bahwa jajarannya saat ini tengah membangun kolaborasi yang solid dengan beraneka macam instansi guna mengoptimalkan pemanfaatan lahan tanaman jagung di sejumlah titik wilayah Garut.

Menurut penilaian Ardhy, wilayah Garut sukses menempatkan diri sebagai daerah pemasok komoditas jagung yang paling masif di kawasan Jawa Barat dengan persentase kontribusi menyentuh angka sekitar 42 persen, posisi yang terhitung masih berada di atas pencapaian wilayah-wilayah lainnya.

Based on data dokumen dari Dinas Pertanian Garut, total volume produksi jagung pada periode tahun 2025 yang lalu sukses menyentuh angka 458.978 ton, atau mengalami tren kenaikan jika dikomparasikan dengan perolehan tahun 2024 yang bertengger di angka 432.252 ton dari total luas area panen mencapai 60.230 hektare.

Pada masa sekarang, pihak Dinas Pertanian bersama dengan jajaran pemangku kepentingan terkait terus menggenjot laju peningkatan angka produksi jagung dengan bidikan target yang dipatok mampu menyentuh level 521.662 ton.

Pencapaian angka produksi jagung yang bersumber dari beraneka macam wilayah di Garut ini tidak sekadar menempatkan daerah tersebut sebagai suplier terbesar di lingkungan Jawa Barat saja, melainkan turut mengalirkan dampak masif berupa keuntungan finansial bagi para petani yang jeli memaksimalkan area lahan tadah hujan sebagai sebuah pilar kekuatan baru dalam menopang ketahanan produksi pangan nasional.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati