Trans Semarang Luncurkan 27 Bus Listrik Baru Ramah Lingkungan
SEMARANG - Manajemen layanan transportasi Trans Semarang resmi meluncurkan sebanyak 27 unit armada bus listrik baru.
Langkah ini diposisikan sebagai bagian dari instrumen kebijakan untuk menekan tingkat polusi udara di kawasan perkotaan.
Program pembaruan ini sekaligus difungsikan guna mengeliminasi pengoperasian kendaraan bermotor yang memproduksi asap pekat hitam yang selama ini karib dilabeli oleh masyarakat dengan julukan “cumi-cumi darat”.
Proses pengadaan moda transportasi bus listrik bertipe low deck dengan dimensi ukuran 12 meter tersebut masuk dalam bagian agenda akselerasi elektrifikasi sarana transportasi publik di Indonesia.
Fase pelaksanaan tender bersama pihak PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk diinformasikan telah bergulir semenjak bulan April 2026 pasca-agenda uji coba operasional rampung diselenggarakan pada periode Februari hingga Maret 2026.
Selanjutnya, keputusan tersebut secara legal dipublikasikan ke hadapan publik pada periode Mei 2026.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti memaparkan bahwa agenda pengadaan armada bus berbasis listrik ini menjadi cerminan dari wujud komitmen jajaran Pemerintah Kota Semarang dalam mendongkrak mutu pelayanan transportasi massal sekaligus menciptakan lanskap kota yang jauh lebih sehat.
“Kami menyambut baik hadirnya armada bus listrik untuk layanan Trans Semarang,” kata Agustina dalam keterangan tertulis, Rabu (20/5/2026).
"Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan masyarakat dalam menggunakan transportasi umum sekaligus menjadi bagian penting dari upaya pengurangan emisi kendaraan di kawasan perkotaan."
Pada pihak lain, Komisaris Utama PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk, Anindya N Bakrie mengutarakan bahwa pelaksanaan proyek kerja sama ini merupakan wujud tindakan konkret demi menyokong pencapaian target Net Zero Emission pada sektor transportasi guna mendongkrak derajat kualitas hidup warga urban.
“Inisiatif ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan pemerintah daerah terhadap kemampuan industri kendaraan listrik nasional."
"Namun yang tidak kalah penting, transformasi ini memberi dampak langsung bagi masyarakat melalui transportasi publik yang lebih bersih, lebih senyap, dan lebih sehat,” ujar Anindya.
Melalui kehadiran unit bus listrik ini, kalangan masyarakat kini tidak lagi diwajibkan untuk berhadapan secara langsung dengan paparan polusi asap kendaraan dari cumi-cumi darat di setiap harinya.
Oleh karena sebab itu, berkah manfaat yang dilahirkan tidak semata-mata diserap oleh faktor lingkungan hidup saja, melainkan turut berdampak positif bagi sektor kesehatan warga kota.
Di samping kelebihan tersebut, moda bus listrik juga diklaim menyuguhkan impresi pengalaman perjalanan yang jauh lebih representatif lantaran sistem operasionalnya bekerja dengan lebih senyap, minim dari guncangan getaran, serta steril dari aroma bau asap sisa pembakaran bila dikomparasikan terhadap armada konvensional berbahan bakar solar atau diesel.
Dalam rantai pelaksanaannya, unit armada bus listrik dimaksud dirakit secara langsung pada fasilitas pabrik manufaktur kepunyaan VKTR yang berlokasi di wilayah Magelang, Jawa Tengah, dengan memberdayakan para tenaga kerja lokal Indonesia.
Produk bus listrik tersebut juga dilaporkan telah mengantongi persentase tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di atas angka 40 persen, di mana raihan tersebut diklaim menempati salah satu posisi paling tinggi dalam lanskap industri kendaraan elektrik nasional.
Ia pun menaruh ekspektasi agar keterlibatan industri lokal ini ikut memperkokoh ekosistem rantai pasokan sekaligus mendongkrak daya saing sektor industri otomotif di dalam negeri.