Siasat Perajin Tahu Kulon Progo Hadapi Lonjakan Harga Kedelai

Perajin Tahu Nunggal Roso di Kalurahan Tuksono, Kabupaten Kulon Progo, DIY. (Sumber: NET)
Senin, 25 Mei 2026 | 17:42:02 WIB

KULON PROGO - Pelaku usaha Tahu Nunggal Roso di Kalurahan Tuksono, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai mengubah dimensi tahu menjadi agak lebih kecil guna mengakali lonjakan harga kedelai yang menyentuh Rp10.800 sampai Rp11.000 per kilogram.

Wakil Ketua Tahu Nunggal Roso Mubari di Kulon Progo, Senin, menyebutkan bagi para pekerja di usaha Tahu Nunggal Roso, ketidakstabilan harga kedelai pada kisaran Rp10.800 hingga Rp11.000 per kilogram saat ini menghadirkan beban yang lumayan besar.

"Agar dapur Tahu Nunggal Roso tetap mengepul dan pelanggan setia di wilayah pemasaran Yogyakarta, serta sekitarnya tidak kecewa, kami menerapkan beberapa strategi bertahan dengan menyiasati ukuran dan ketebalan. Kami memilih untuk melakukan penyesuaian ukuran tahu sedikit lebih ekonomis dengan mengurangi beberapa milimeter daripada menaikkan harga," kata Mubari.

Menurut dia, taktik tersebut lebih mudah ditoleransi oleh para pembeli kelas bawah serta kalangan pedagang di pasar tradisional.

Di samping itu, para pekerja Tahu Nunggal Roso Tuksono menempuh penghematan pengerjaan produksi lewat pengetatan pemantauan dalam tahapan pembuatan guna meminimalkan risiko kerusakan produk.

"Setiap butir kedelai harus dimasak dengan maksimal. Selain itu, kami memaksimalkan efisiensi bahan bakar dalam proses perebusan tahu," katanya.

Mubari memaparkan konsekuensi nyata yang dialami para pembuat tahu, yaitu berkurangnya selisih keuntungan.

Kedelai merupakan bahan baku primer yang menyerap 60 hingga 70 persen dari keseluruhan ongkos produksi.

Saat harganya melambung, pengeluaran operasional secara otomatis melonjak, sedangkan para perajin tidak dapat begitu saja mengerek harga jual tahu kepada para pembeli secara mendadak.

"Akibatnya, keuntungan kami terpangkas jauh," katanya.

Kebingungan yang dihadapi para produsen tahu, ialah menetapkan nominal harga jual.

Oleh karena itu, ia menilai mengerek harga tahu berpotensi memicu pelanggan baik pengecer pasar maupun pembeli langsung berpindah atau membatasi jumlah belanjaan mereka.

Akan tetapi, menurut dia, andai nominal harga dibiarkan tetap, para pembuat tahu harus menutup kekurangan biaya produksi.

"?Untuk itu, kami melakukan pengelolaan arus kas yang ketat. Modal kerja yang dibutuhkan untuk membeli jumlah kedelai yang sama kini menjadi lebih besar. Kami harus memutar otak agar arus kas harian tetap aman untuk membayar tenaga kerja dan biaya lain seperti kayu bakar/gas dan plastik kemasan," katanya.

Guna menyelesaikan hambatan kenaikan harga kedelai serta penyusutan profit, menurut Mubari, para produsen tahu mengoptimalkan komoditas sampingan.

Para pelaku usaha tahu mengoptimalkan perputaran uang dari hasil sampingan pembuatan tahu, seperti limbah padat tahu untuk pakan hewan ternak atau diproses menjadi tempe gembus supaya didapat penghasilan ekstra yang dapat menyokong penutupan biaya produksi utama.

Berikutnya, para pembuat tahu merawat kesetiaan pembeli lewat aspek mutu meskipun dimensi produk diubah.

Para pekerja Tahu Nunggal Roso Tuksono memegang teguh janji untuk tidak memangkas cita rasa, higienitas, dan kelembutan yang menjadi ciri khasnya.

"Bagi kami, kepercayaan pelanggan adalah modal terbesar untuk bertahan di masa sulit seperti ini," katanya.

Pada kesempatan yang sama, produsen Tahu Nunggal Roso lainnya Suhadi mengharapkan adanya tindakan konkret dari pihak pemerintah ataupun instansi berwenang demi menstabilkan harga kedelai di pasar domestik.

"Subsidi atau jalur distribusi yang lebih pendek akan sangat membantu perajin skala rumahan seperti kami di Kaliwiru agar tetap bisa bertahan dan menyediakan sumber protein terjangkau bagi masyarakat," katanya.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati