Kisah Rozi: Penyandang Disabilitas yang Lulus S3 IPK 4.00

Dosen Disabilitas UNAIR Lulus Doktor IPK 4.00, Anak Penjual Ikan yang Tetap Produktif meski Kehilangan Kedua Kaki. (Sumber: NET)
Jumat, 29 Mei 2026 | 14:35:13 WIB

JAKARTA - Kondisi kekurangan secara fisik dinilai bukanlah menjadi sebuah faktor pembatas bagi pribadi seseorang untuk terus berkembang serta mengejar apa yang menjadi cita-citanya.

Hal tersebut telah dibuktikan secara otentik dan nyata oleh sosok Rozi.

Rozi merupakan seorang individu dengan kondisi disabilitas daksa yang baru-baru ini saja sukses merengkuh raihan gelar doktor dari kampus Universitas Airlangga (Unair).

Dirinya berhasil menyelesaikan rangkaian studi jenjang S3 dalam kurun periode waktu 3 tahun 11 bulan sekaligus sukses mengantongi raihan IPK yang sempurna yaitu 4.00.

Peta perjalanan roda hidup Rozi ini seketika bertransformasi menjadi pemantik kobaran semangat bagi para wisudawan-wisudawati lainnya.

Lantas, seperti apa sebetulnya jalinan perjuangan Rozi hingga dirinya mampu menggapai tingkat jenjang pendidikan setinggi ini?

Pemuda Asal Jambi dengan Mimpi Tinggi

Rozi merupakan seorang lelaki yang bersumber dari area kawasan pedalaman Jambi, tepatnya berada di Desa Markanding, Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi.

Dirinya merupakan anak keempat dari total keseluruhan tujuh bersaudara.

Ia memaparkan bahwa jajaran keluarganya hidup dalam kondisi kesederhanaan serta mengandalkan pasokan pendapatan dari hasil berjualan komoditas ikan secara eceran.

Kendati demikian, kondisi perekonomian tersebut yang justru memicu gelora ambisi Rozi untuk mengejar ketertinggalan pendidikan di bangku perkuliahan.

"Ayah saya mungkin tidak memahami apa itu jurnal internasional atau disertasi doktoral, tetapi beliau mengajarkan kerja keras, ketulusan, dan semangat untuk tidak menyerah," tuturnya dikutip dari situs resmi Unair, Kamis (28/5/2026).

Keterbatasan Fisik Bukan Halangan

Di dalam roda perjalanan kehidupannya, Rozi mesti melewati jalinan ujian yang tergolong cukup berat.

Kedua belah komponen kakinya terpaksa harus diamputasi, yang mengakibatkan dirinya kini menyandang status sebagai seorang penyandang disabilitas daksa.

Pada masa-masa awal, dirinya sempat merasa sangat terpukul dengan adanya ketetapan kondisi tersebut.

Namun, ia enggan untuk membuang-buang durasi waktu dalam kubangan kesedihan hingga akhirnya secara perlahan bangkit demi meneruskan roda hidup.

"Saya belajar bahwa manusia tidak selalu diuji untuk dijatuhkan, tetapi kadang diuji untuk menemukan versi terkuat dari dirinya," ucapnya.

Beruntung, sosok Rozi dikelilingi oleh jajaran keluarga yang senantiasa memberikan sokongan bantuan penuh, termasuk di sepanjang momen dirinya menempuh program doktor seperti pada saat ini.

"Kadang ketika saya merasa lelah, saya ingat bahwa mungkin ada doa ibu yang tidak pernah putus menyebut nama saya," sebut Rozi.

Tempuh Kuliah Sembari Mengajar

Rozi sendiri untuk saat ini statusnya merupakan seorang dosen aktif di salah satu instansi kampus.

Padatnya jadwal aktivitas sebagai seorang tenaga pendidik sekaligus selaku peneliti tidak menghalangi langkah kakinya untuk terus merampungkan masa kuliah S3.

Buah manis dari hasil kegigihannya tersebut sukses melahirkan dua artikel ilmiah berskala internasional yang bereputasi Scopus Q1 serta tiga buah artikel Scopus lainnya.

Bukan cuma sampai di situ saja, Rozi bahkan diberikan kepercayaan untuk mengemban tugas menjadi editor di dalam jurnal internasional bereputasi Scopus.

Dirinya merasa sangat bersyukur lantaran pencapaian besarnya pada saat ini bisa digapai lewat jalur dunia pendidikan.

Ia menaruh keyakinan bahwa setiap individu manusia, termasuk dari kaum disabilitas, dibekali hak yang sama untuk memperoleh akses pendidikan.

"Pendidikan adalah hak semua orang. Keterbatasan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti belajar dan bertumbuh," papar Rozi.

Bagi dirinya, hambatan dalam belajar untuk seorang dengan kondisi disabilitas bukan sekadar perkara ketersediaan sarana fisik belaka, melainkan juga kenyamanan untuk bisa dihargai serta disejajarkan.

"Kadang akses paling mahal bagi penyandang disabilitas bukan lift atau ramp, tetapi rasa diterima sebagai manusia yang setara," jelasnya.

Ia menitipkan pesan mendalam kepada rekan-rekan sesama penyandang disabilitas agar jangan lekas patah arang dalam memperjuangkan cita-cita meraih pendidikan yang tinggi.

Dirinya memotivasi mereka semua untuk senantiasa memelihara api semangat serta pantang untuk menyerah.

"Saya percaya setiap orang punya kesempatan untuk tumbuh dan berprestasi. Kadang yang dibutuhkan hanya ruang yang menerima mereka untuk berkembang," tutupnya.

 

Reporter: Ganis Akjul Karyawati