IHSG Anjlok Sendirian di Asia, OJK Beberkan Deretan Pemicunya
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menjadi indeks yang paling terpuruk di wilayah Asia Pasifik pada hari ini, Kamis (21/5).
Melemahnya IHSG dipicu oleh rentetan sentimen, yang salah satunya bersumber dari langkah penataan ulang (rebalancing) indeks MSCI terhadap deretan saham asal Indonesia.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa publikasi dari MSCI masih memberikan tekanan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar di tanah air.
Setidaknya, terdata ada 18 saham yang didepak dari indeks saham global kepunyaan MSCI tersebut.
"Kalau kemarin memang kami mengonfirmasi ada korelasi betul dengan dampak dari rebalancing atau pengumuman MSCI, di mana saham-saham yang terdampak, yang masuk sebelumnya di dalam konstituen atau anggota indeks Standard dan juga small cap MSCI yang keluar itu betul-betul sudah mulai mengalami tekanan akibat kewajiban rebalancing portofolio terutama dari ETF maupun reksa dana pasif yang dimiliki oleh berbagai pihak yang mengacu pada indeks tersebut," ungkap Hasan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Hasan menuturkan, penurunan harga pada beberapa saham tersebut memang sulit untuk dielakkan.
Dia menilai, tren pelemahan indeks ini masih berpeluang untuk terus terjadi sampai dengan kebijakan penghapusan 18 saham dari indeks MSCI tersebut resmi diberlakukan setelah penutupan pasar pada 29 Mei 2026.
"Nanti kami lihat apakah net-nya nanti akan ada net outflow atau net inflow dalam hal ini. Mungkin dan memang sepertinya sudah di persepsi pasar, besar kemungkinan tetap pada akhirnya akan ada sebagian net outflow dimaksud," jelasnya.
Bukan cuma akibat pengumuman dari MSCI, penurunan IHSG juga dipengaruhi oleh pergeseran regulasi di tingkat domestik maupun global.
Untuk ranah dalam negeri, Hasan membenarkan bahwa adanya revisi kebijakan terkait tata cara ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) strategis yang kini dilewatkan melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN), ikut memicu para investor untuk merombak kembali alokasi investasi mereka.
Kendati demikian, dia menilai respons pasar ini hanya bersifat sementara atau jangka pendek.
Hasan pun menaruh harapan agar pihak pemerintah dapat memaparkan perincian yang lebih gamblang mengenai arah regulasi baru tersebut guna menghadirkan kepastian bagi para pelaku pasar modal.
"Saya kira pasti ya. Artinya, itu pasti direspons secara jangka pendek dan kami confirm dan berharap tentu pada saatnya apa yang menjadi policy yang digariskan oleh pemerintah, nanti akan ada penjelasan dan penjabaran secara lebih rinci termasuk pentahapannya dan kapan katakanlah implementasinya. Nah, ini juga tentu akan baik sehingga memberikan informasi yang lebih rinci tadi dan memberikan semakin kepastian arah pengembangan ke depan," jelasnya.
Hasan mengimbuhkan, penyusutan nilai yang menimpa sejumlah saham berkapitalisasi besar tersebut dinilai masih dalam koridor yang wajar.
Menurut pandangannya, hanya saham-saham yang langsung berkaitan dengan pengumuman MSCI saja yang terperosok hingga menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB).
"Jadi, ARB-nya, ARB yang memang merespons itu juga. Nah sementara saham-saham lainnya terjadi penurunan tapi tidak sampai menyentuh batas bawah, dan yang turun pun kami pastikan memang terkait dengan reaksi langsung investor atas perkembangan kebijakan baik domestik maupun perkembangan di global," pungkasnya.
Pergerakan IHSG pada hari ini mengalami kemerosotan hingga 3,44% menuju ke posisi 6.102,63.
Indeks saham tanah air ini berbalik melemah padahal sempat menguat hingga menyentuh level 6.378,81 ketika bursa saham resmi dibuka pagi hari ini, Kamis (21/5/2026).
Saat sesi pembukaan pagi tadi, IHSG terpantau menjadi satu-satunya bursa saham di wilayah Asia yang terjerembab di zona merah.
Di sisi lain, mayoritas bursa saham utama di Asia justru merangkak naik menyusul adanya statemen dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengenai proses negosiasi tahap akhir guna meredam konflik dengan Iran.
Berdasarkan laporan dari CNBC, bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak dibuka menguat pada perdagangan Kamis ini.
Reli kenaikan indeks saham di Asia tersebut dinilai selaras dengan performa positif Wall Street setelah pernyataan Trump yang mengindikasikan bahwa perundingan bersama Iran sudah masuk ke fase final.
Kabar tersebut dinilai sukses mendongkrak rasa optimisme para investor.
Indeks Nikkei 225 di Jepang langsung melesat 3,54% di awal perdagangan yang juga didorong oleh rilis data aktivitas perdagangan internasional terbaru dari negara tersebut.
Selanjutnya, indeks Kospi di Korea Selatan turut memperlebar keuntungannya pada awal sesi perdagangan hingga mencapai 7%.
Di saat yang sama, papan perdagangan utama Korea Selatan lainnya, Kosdaq, ikut meroket sebesar 4,88%.
Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 di Australia mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,62%.
Disusul kemudian oleh indeks CSI 300 di China yang menguat 1,67%, serta Indeks Hang Seng di Hong Kong yang bergerak positif sebesar 0,24%.