Rela Mundur dari PKH, Rumah Wiji di Solo Malah Ditempeli Stiker Lagi
SOLO - Nyaringnya bunyi palang pintu beserta deru mesin kereta api terdengar begitu jelas dari balik sebuah gang sempit di wilayah Margorejo, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo.
Di lokasi itulah Wiji Hastuti (52) menjalani kehidupan di sebuah tempat tinggal sederhana, yang kini dipasangi stiker bertuliskan "Keluarga Miskin".
Dirinya merupakan sosok Penerima Bantuan Sosial Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT), serta Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK).
Label penanda tersebut tetap melekat di sana, padahal sang pemilik tempat tinggal telah memantapkan niatnya untuk keluar secara sukarela dari kepesertaan program PKH.
Sepanjang rentang waktu 11 tahun belakangan, program PKH diakui menjadi salah satu penopang utama bagi urusan roda ekonomi keluarga Wiji.
Akan tetapi di tengah lingkungan hunian padat layaknya Margorejo, di mana batas pembatas antar-bangunan rumah saling menempel ketat, tolok ukur garis kemiskinan di antara sesama tetangga kerap kali terkesan samar.
Adanya perbedaan nominal pendapatan yang terbilang tipis antar-kepala keluarga tidak jarang memicu timbulnya gesekan sosial yang kurang mengenakkan.
"Lah kan saya ya merasa bagaimana ya. Kayanya ya masa wong arep njagakke (orang mau mengandalkan) bantuan terus. Di samping itu ya ah kalau saya mendengar maksudnya kanan-kiri banyak yang kaya bantuan-bantuan ini kaya iri. Jadi kan saya ya enggak enak toh," ujar Wiji saat ditemui Kompas.com di kediamannya, Kamis (4/6/2026).
"Ya sebetule nek dibilang mampu ya masih seperti ini. Tapi harapanku cuma supaya apa ya, yang terutama anak-anak itu cari pekerjaan itu (mudah)," katanya lagi.
Adanya perasaan ewuh pekewuh atau rasa tidak enak hati terhadap masyarakat di sekeliling wilayahnya itulah yang memicu Wiji membulatkan sebuah langkah besar.
Seketika pihak pengelola program PKH melayangkan imbauan graduasi bagi para anggota yang dirasa sudah cukup lama bergabung, disertai dengan pemberian stimulus modal usaha, dirinya tanpa ragu langsung menyerahkan berkas pengunduran diri secara mandiri.
Ia beranggapan sudah tiba waktunya untuk hidup mandiri dan menyudahi ketergantungan pada uluran dana bantuan dari pihak pemerintah.
"Soale kan saya memang karena sudah lama juga ya. Dari PKH itu kan, yang merasa sudah lama monggo punya usaha. Saya kan punya usaha ini. Jadi ya memang saya itu sudah, sudah mengundurkan diri," kata dia.
Tepat di saat Wiji telah meneguhkan hatinya untuk menyudahi label penanda "Keluarga Miskin", bangunan rumahnya malah didatangi oleh jajaran petugas yang mendampingi Wali Kota Solo, Respati Ardi.
Dirinya sempat mengira, kedatangan sosok pemimpin di Kota Solo tersebut bertujuan guna mengulurkan bentuk apresiasi atau cinderamata atas keberanian moralnya menempuh langkah graduasi secara mandiri.
Namun kenyataannya, dinding rumahnya justru kembali dipasangi stiker sebagai tanda penerima bantuan sosial dari pemerintah.
Pada kesempatan tersebut, dirinya sempat diajukan sejumlah butir pertanyaan mulai dari total anak, jenjang usia, hingga tawaran fasilitasi program Rumah Siap Kerja bagi anak pertamanya yang belum memperoleh pekerjaan selepas merampungkan bangku kuliah.
Di waktu sekarang ini, fokus pikirannya seketika tertuju penuh pada masa depan kedua buah hatinya yang saat ini masih menduduki bangku sekolah serta anak sulungnya yang masih berjuang memasukkan berkas lamaran ke berbagai perusahaan demi memperoleh pekerjaan tetap.
Kondisi sang suami di waktu sekarang ini juga tengah mengidap gangguan penyakit jantung.
Alasan itulah yang memaksa dirinya harus banting tulang menjajakan dagangan sayur mayur beserta kebutuhan sembako dari satu gang ke gang lainnya di setiap waktu pagi hari.
"Suamiku itu sudah enggak kerja sudah lama, kena serangan jantung ya. Orang tua ya tanggungan saya. Mbah itu udah sakit-sakitan juga, jadi ya menghidupi orang lima," katanya.
Ketika dimintai jawaban perihal apakah dirinya bakal mengajukan nota protes ataukah tetap teguh pada niat awalnya untuk keluar dari daftar penerima dana bantuan, Wiji semata-mata hanya melempar senyuman penuh kepasrahan.
"Harapanku ya terutama anak itu nanti bisa pekerjaannya itu lebih mapan gitu, jangan sampai seperti orang tuanya, cuma gitu saja," ujarnya.