Lindungi Data dari Hacker AI, OpenAI Luncurkan Lockdown Mode
JAKARTA - OpenAI meluncurkan fitur keamanan anyar yang dinamakan Lockdown Mode pada chatbot ChatGPT pada Minggu (7/6/2026).
Fitur ini dibuat demi memproteksi pengguna dari ancaman kebocoran data yang disebabkan oleh serangan siber berbasis kecerdasan buatan (AI), termasuk lewat prompt injection.
Prompt injection sendiri merupakan cara penyerangan yang memakai instruksi rahasia di dalam dokumen, situs web, atau sumber data lain yang diolah oleh model AI.
Tindakan tersebut bisa memengaruhi performa AI, dan pada skenario tertentu berpotensi dimanfaatkan guna mengambil atau membocorkan data yang sifatnya sensitif.
Terkait sistem kerjanya, Lockdown Mode memproteksi pengguna lewat pembatasan bermacam kompetensi ChatGPT yang terkoneksi ke jaringan internet atau layanan luar.
Satu di antaranya ialah fitur berselancar web secara langsung (live web browsing).
Saat mode ini berjalan, ChatGPT cuma bisa menjangkau konten yang terekam di cache, sehingga dampak pencarian dapat lebih terbatas, tidak ada, atau tidak selalu paling baru.
Sektor visual berupa gambar pun ikut dibatasi.
ChatGPT tidak bisa memunculkan gambar dari situs web dalam jawaban reguler.
Walau begitu, para pengguna tetap bisa mengunggah berkas gambar dan memakai fitur pembuatan gambar (image generation) yang sudah tersedia di akun mereka.
Di samping itu, fitur Deep Research serta Agent Mode, termasuk Canvas dan pengunduhan berkas, bakal dimatikan total ketika Lockdown Mode dalam posisi aktif.
Lalu, apa saja fitur yang tidak terdampak oleh Lockdown Mode?
Berdasarkan keterangan OpenAI, Lockdown Mode tidak mengusik fungsi Memory, pengunggahan berkas, kompetensi membagikan obrolan, serta preferensi pemakaian data obrolan untuk edukasi model AI.
Lockdown Mode juga tidak berdampak pada jangkauan jaringan di Codex, yang merupakan alat pemrograman AI kepunyaan OpenAI.
Meskipun mempunyai fungsi untuk menghalau prompt injection, OpenAI menegaskan bahwa Lockdown Mode tidak bisa menghentikan semua serangan prompt injection yang ada. Sebab, serangan ini bisa saja tersembunyi di dalam file hingga dokumen yang diunggah, atau konten web yang sebelumnya diakses oleh pengguna dan disimpan dalam sebuah percakapan ChatGPT sebelum Lockdown Mode aktif.
Pihak OpenAI menyebutkan, Lockdown Mode mulai disebarkan untuk akun ChatGPT personal yang memenuhi kriteria, termasuk pengguna Free, Go, Plus, dan Pro, serta akun ChatGPT Business tipe self-service.
Pengguna yang sudah memperoleh akses bisa menjalankan fitur ini lewat opsi Settings > Security > Advanced Security > Lockdown Mode.
Sistem Lockdown Mode tidak bisa dipakai berbarengan dengan Developer Mode.
Saat Lockdown Mode dinyalakan, Developer Mode bakal otomatis mati, begitu juga dengan kondisi sebaliknya.
Untuk keperluan spesifik, pengguna pun bisa mematikan Lockdown Mode cuma pada satu obrolan (chat) tanpa mesti menonaktifkannya secara menyeluruh di seluruh akun.
OpenAI menjelaskan bahwa Lockdown Mode tidak ditujukan untuk semua pengguna. Fitur ini lebih ditujukan bagi individu maupun organisasi yang mengelola informasi penting dan membutuhkan tingkat keamanan lebih tinggi saat menggunakan layanan AI, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari OpenAI.