Menepis Stigma, Oma Neni Hidup Rukun dan Damai di Hunian Lansia

Anggraeni (87) seorang lansia asal Bandung (FOTO: NET)
Kamis, 11 Juni 2026 | 16:17:45 WIB

JAKARTA - Saat melangkah ke fase usia senja, Angraeni (87) tidak lagi memburu aspek kemewahan duniawi.

Pasca berpulangnya sang suami tercinta dan sempat menetap bersama buah hatinya di wilayah ibu kota, wanita yang akrab disapa Oma Neni tersebut cuma mendambakan satu perkara simpel: menjumpai rekan sejawat untuk saling bertukar cerita agar terhindar dari rasa sepi.

Keinginan luhur itulah yang akhirnya mengantarkan dirinya menuju Rumah Lansia Sasana Tresna Werdha (STW) Ria Pembangunan, Cibubur, Jakarta Timur, sekitar empat setengah tahun silam.

Di dalam lingkungan baru ini, Angraeni justru menjumpai sebuah anugerah yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam benaknya.

"Selama tinggal di sini, hal yang paling saya syukuri adalah sesuatu yang sebenarnya tidak saya cari, tetapi justru saya dapatkan, yaitu kedamaian dan ketenteraman," ujar Angraeni saat berbincang dengan Kompas.com di STW Ria Pembangunan, Cibubur, Selasa (9/6/2026).

Neni mengutarakan awalnya sempat menaruh asa agar bisa menikmati kehangatan lingkaran keluarga di hari tuanya.

Akan tetapi, dinamika pola hidup keluarga modern yang sarat akan kesibukan harian memicu impian bersangkutan tidak selamanya mudah direalisasikan.

"Anak saya baik, menantu saya baik, semuanya baik, tetapi saya tidak betah karena kesepian," kata Angraeni.

Menurut argumennya, perasaan hampa dan sepi itu muncul bukan dipicu oleh minimnya atensi maupun kepedulian dari pihak keluarga.

Sebaliknya, seluruh anggota keluarga konsisten memperlakukannya dengan sangat elok.

Kendati demikian, jurang perbedaan usia serta rekam pengalaman hidup memicu obrolan yang terbangun tidak selalu dapat mengalir dengan erat.

Bertolak dari situasi pelik tersebut, Neni mulai memikirkan alternatif untuk menetap di sebuah kawasan hunian khusus lansia.

Ketetapan tersebut diambil setelah menempuh sesi dialog bersama keluarga serta mengantongi restu dari anak-anaknya.

Pada fase awal, dirinya sebatas berharap bisa menjumpai rekan-rekan sebaya yang dapat dijadikan teman mengobrol.

Seiring berjalannya waktu, dirinya malah mendapati atmosfer kehidupan yang bernilai jauh lebih tinggi.

Berdasarkan penuturan Neni, salah satu aspek yang membuat dirinya takjub ialah kelihaian pihak pengelola dalam mengonstruksikan ekosistem yang nyaman serta selaras bagi segenap penghuni yang datang membawa latar belakang dan kebiasaan yang beraneka ragam.

"Padahal setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda. Tetapi di sini semuanya bisa hidup rukun," katanya.

Bagi pandangan Neni, rasa betah di STW Ria Pembangunan juga tercipta berkat adanya aspek kebebasan yang didelegasikan kepada tiap-tiap penghuni.

Macam-macam program kegiatan rutin disediakan di setiap harinya, namun tidak ada paksaan apa pun untuk mengikutinya.

"Kegiatan yang tersedia boleh diikuti, boleh juga tidak," ujarnya.

Dari sekian banyak variasi aktivitas yang disiapkan, agenda olahraga bertransformasi menjadi kegiatan yang paling diminati oleh dirinya.

Dalam kurun satu pekan tersedia beberapa opsi cabang olahraga yang bisa dipilih oleh para penghuni.

Namun, Neni mengaku lebih bergairah mengikuti sesi senam jasmani yang dikomandoi oleh seorang instruktur bernama Pak Parman.

Menurut penilaiannya, rutinitas bersangkutan diselenggarakan tanpa adanya unsur paksaan.

Tiap-tiap penghuni diperkenankan menyelaraskan gerakan aktivitas dengan tingkat ketahanan fisik masing-masing.

Selain rutin berolahraga, jalinan kehidupan sosial di antara para penghuni juga terbangun dengan sangat hangat.

Mereka terbiasa saling bertandang ke area kamar, membagikan porsi makanan kiriman dari kerabat, serta merawat relasi bertetangga yang baik antarsesama penghuni.

"Kami saling berbagi makanan jika mendapat kiriman dari keluarga. Terus saling berkunjung ke kamar, mengobrol, dan menjaga hubungan bertetangga yang baik," ujarnya.

Walaupun memilih tinggal di dalam kompleks rumah lansia, Neni menegaskan diri tidak pernah merasa terisolasi dari pihak keluarganya.

Dukungan aspek teknologi memicu jalinan interaksi tetap berjalan tanpa hambatan memanfaatkan fasilitas telepon ataupun panggilan video.

Buah hatinya juga mengagendakan jadwal berkala untuk datang menjenguk di setiap bulannya.

Dalam momentum kunjungan tersebut, Neni kerap kali diajak pergi makan bersama, melancong ke pusat perbelanjaan, atau menyambangi kediaman anggota kerabat yang lain.

Pada momen-momen spesial semisal hari raya Lebaran, Neni bahkan diperbolehkan pulang ke kota Bandung demi berkumpul bersama sanak saudara.

Pengalaman riil tersebut sukses membalikkan sudut pandangnya perihal rumah lansia yang selama ini kerap diidentikkan sebagai wadah bagi orang tua yang ditelantarkan oleh keluarganya.

"Dulu saya juga membayangkan panti sebagai tempat yang menyeramkan, tempat orang-orang yang telantar atau dibuang keluarganya. Namun setelah menjalaninya sendiri, ternyata tidak demikian," ujarnya.

Di usianya yang pada saat ini telah menginjak angka 87 tahun, Neni memaknai arti kebahagiaan lewat sudut pandang yang amat simpel.

Bagi dirinya, rasa nyaman, kedamaian, serta ketenteraman hati merupakan modal paling berharga yang wajib dipunyai oleh tiap orang di fase masa tua.

"Menurut saya, kenyamanan, kedamaian, dan ketenteraman hati adalah hal yang paling mahal," katanya.

Sementara itu, Ketua Badan Penyelenggara Sasana Tresna Werdha Ria Pembangunan, Sri Kusumo Amdani, memaparkan jika seluruh masyarakat yang menetap di STW Ria Pembangunan wajib masuk atas dasar keinginan personal.

"Salah satu syarat penghuni yang tinggal di sini adalah harus atas kemauan sendiri. Tapi keluarga tetap harus mengetahui dan menyetujui serta menjadi penanggung jawab penghuni tersebut," kata Sri.

Konsep dari kawasan hunian lansia pada era sekarang dinilai semakin disambut positif oleh publik luas.

Banyak pihak keluarga berdatangan demi menggali informasi detail perihal pola kehidupan serta fasilitas pelayanan yang disiapkan sebelum memantapkan diri mendaftarkan orang tua mereka.

Saat periode sekarang tercatat ada sebanyak 66 orang penghuni yang tinggal di dalam STW Ria Pembangunan.

Mereka menempati kisaran 114 unit kamar dengan total daya tampung menyentuh angka 134 ranjang tidur.

Setiap harinya, para penghuni dapat meramaikan bermacam aktivitas, mulai dari agenda jalan santai, senam kebugaran tubuh, senam stimulasi otak, senam khusus diabetes, senam pemulihan stroke, forum pengajian, kegiatan kebaktian, sampai sarana hiburan layaknya berdendang musik, bermain alat angklung, kolintang, serta aktivitas merajut.

Guna menyelaraskan rincian kebutuhan dari para penghuni, pihak STW Ria Pembangunan menyediakan lima opsi klasifikasi hunian, yaitu tipe reguler, tipe VIP Pratama, tipe VIP, tipe VVIP, serta tipe Werdha Tidak Mandiri (WTM).

Nominal biaya untuk hunian tipe reguler dipatok senilai Rp 4,5 juta per bulannya.

Sementara itu, untuk kelas VIP Pratama dibebankan tarif sebesar Rp 6 juta per bulan, kelas VIP senilai Rp 7 juta per bulan, kelas WTM sebesar Rp 8 juta per bulan, serta kelas VVIP menyentuh angka Rp 8,5 juta per bulan.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati