Program ACP Sukses Tingkatkan Kesiapan Keluarga Rawat Pasien Stroke

Cerita pasien tentang gejala awal stroke (FOTO: NET)
Kamis, 11 Juni 2026 | 16:17:45 WIB

YOGYAKARTA - Hingga saat ini, gangguan kesehatan stroke masih dikategorikan sebagai salah satu problem medis dengan tingkat beban yang amat masif karena berpeluang memicu abnormalitas fisik jangka panjang sampai mengakibatkan hilangnya nyawa.

Persoalan klinis ini dilaporkan menempati posisi kedua sebagai stimulan utama kecacatan di skala global sekaligus memicu angka kefatalan hingga menyentuh 6,5 juta jiwa.

Tantangan yang mesti dilewati oleh penyintas maupun pihak kerabat pasca-serangan stroke tidak cuma terpaku pada aspek pengobatan medis saja, tetapi juga berkaitan dengan munculnya rasa kebimbangan dalam menatap fase rehabilitasi ke depan.

Kondisi kebimbangan tersebut rentan kian memburuk bilamana penyintas atau pihak kerabat mempunyai tingkat pemahaman yang amat rendah perihal stroke, minim mendapat sokongan dalam proses pemeliharaan, menjumpai kendala interaksi yang tidak searah dengan kru medis, serta dinilai belum mandiri untuk mengasuh penyintas ketika dipulangkan dari fasilitas kesehatan.

“ACP mampu berkontribusi dalam menurunkan ketidakpastian, stres, kecemasan, dan depresi pada pasien; memperkuat keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan; menurunkan konflik keluarga; serta memperbaiki kualitas perawatan akhir kehidupan pasien,” ujar Margareta dalam ujian terbuka promosi doktor di kampus FK-KMK.

Studi ilmiah tersebut dieksekusi dalam dua tahapan pokok demi memetakan kebutuhan mendasar seputar pemulihan jangka panjang sekaligus menguji cobakan formula program ACP spesifik stroke.

Prosedur pada tahapan kedua direalisasikan melalui penerapan skema ACP stroke dengan menyalurkan stimulus ACP langsung kepada penyintas stroke serta memposisikan pihak kerabat secara aktif pada tiap fase kegiatannya.

Rangkaian riset ini bergulir di kawasan RSUP dr. Sardjito, RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono, beserta Rumah Sakit Panti Rapih dalam rentang waktu tahun 2024 hingga 2025.

Tercatat sebanyak 33 orang subjek yang ikut berpartisipasi dalam riset tersebut, yang mana sebarannya meliputi para penyintas stroke, pihak kerabat, hingga para praktisi medis.

Margareta menerangkan bahwa kumpulan data yang didapatkan lewat sesi wawancara terstruktur serta diskusi kelompok terarah (FGD) sukses mengklasifikasikan empat bahasan pokok.

Tiga bahasan awal merekam realitas yang dirasakan langsung oleh penyintas stroke beserta kerabat dekat, yakni hambatan biologis maupun mental penyintas stroke, pemenuhan kebutuhan informasi serta pembelajaran bagi penyintas dan kerabat, serta urgensi dari pasokan sokongan moral.

Sementara itu, untuk bahasan yang keempat menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan rancangan skema pemulihan jangka panjang bagi penyintas, pihak kerabat, dan juga para praktisi medis.

Berkaca pada hasil kesepakatan para ahli melalui penerapan skema metode Delphi, riset ini berhasil merumuskan 48 poin pernyataan valid yang tersebar ke dalam 19 sub-bahasan serta tiga bagian besar.

Hasil akhir inilah yang kemudian dipergunakan sebagai pondasi utama dalam menyusun buku pedoman ACP stroke yang dialokasikan bagi para praktisi medis, penyintas, maupun pihak kerabat.

Buku pedoman ACP stroke khusus untuk kalangan praktisi medis mengulas poin pemahaman dasar ACP, tata cara interaksi dalam ACP, beserta petunjuk teknis aplikasi ACP pada penderita stroke.

Di sudut lain, buku pedoman ACP stroke yang disediakan bagi penyintas dan pihak kerabat mengulas pemahaman dasar ACP, materi edukasi seputar problem stroke, teknis perawatan stroke di area tempat tinggal, pola menu makan sehat bagi penyintas stroke, panduan aktivitas fisik untuk penyintas stroke, hingga tata cara konsumsi obat-obatan.

Format intervensi ini terbukti sanggup mengakselerasi wawasan pihak kerabat dalam mengelola pemulihan stroke, memicu rasa percaya diri kerabat kala menetapkan pilihan krusial, sekaligus mematangkan kesiapan psikis kerabat untuk melakukan perawatan mandiri di rumah.

Berdasarkan paparan Margareta, skema ACP dapat membantu tiap-tiap orang dalam menegaskan segala kemauan serta skala prioritas tindakan rehabilitasi saat diperhadapkan pada kondisi yang penuh kebimbangan di masa depan.

Keterlibatan nyata dari para praktisi medis yang berasal dari bermacam sektor keilmuan juga menjembatani ruang interaksi bagi penyintas bersama kerabat untuk saling bertukar pikiran secara jauh lebih aktif serta komprehensif.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati