Gaji Pas-pasan, Warga Terimpit Kenaikan BBM Nonsubsidi dan Ban

Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Jateng (FOTO: NET)
Kamis, 11 Juni 2026 | 16:17:45 WIB

JAKARTA - Sangat berat tekanan ekonomi yang mesti ditanggung oleh warga negara Indonesia (WNI) yang menggantungkan mobilitas harian mereka pada moda transportasi privat seperti sepeda motor.

Pasalnya, di tengah kondisi pendapatan atau upah bulanan mereka yang terbilang pas-pasan, ongkos pengisian bahan bakar serta harga komponen penunjang kendaraan justru melambung sangat tinggi.

Tidak berlebihan bila disebutkan bahwa tingkat penghasilan masyarakat Indonesia terhitung masih minim.

Sebagai gambaran, produk domestik bruto (PDB) per kapita di dalam negeri hanya bertengger di angka US$ 4.900 pada tahun kemarin.

Nominal tersebut berada jauh di bawah capaian Thailand yang mencapai US$ 7.300 maupun Malaysia yang telah menembus angka US$ 12.600.

Bukan cuma itu, angka pencari kerja atau pengangguran di tanah air juga terdata masih relatif tinggi.

Merujuk pada publikasi data yang dikeluarkan BPS pada akhir tahun lalu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di persentase 4,74 persen dengan rerata upah bulanan pekerja berkisar di nominal Rp 3,3 jutaan.

Akan tetapi, di tengah himpitan kondisi finansial tersebut, WNI masih dituntut menghadapi tantangan lain yang menguras isi kantong, terutama bagi mereka yang mobilitasnya mengandalkan kendaraan pribadi.

Bagaimana tidak, harga jual untuk komoditas BBM nonsubsidi beserta suku cadang penunjang motor dan mobil mengalami lonjakan yang masif!

Terhitung sejak tanggal 10 Juni 2026, harga jual untuk varian BBM nonsubsidi produksi Pertamina mendadak merangkak naik secara signifikan.

Bahan bakar jenis Pertamax sekarang dibanderol dengan nominal Rp 16.250 per liter.

Nilai ini melonjak nyaris Rp 4 ribu apabila disandingkan dengan harga lama yang berada di angka Rp 12.300 per liter.

Bukan hanya varian Pertamax, badan usaha Pertamina juga melangsungkan penyesuaian harga jual untuk produk Pertamax Green di pasar domestik.

Jika sebelumnya jenis bahan bakar tersebut dijual senilai Rp 12.900 per liter, sekarang harganya sudah membubung tinggi hingga Rp 17.000 per liter.

Derajat kenaikannya bahkan menyentuh nominal Rp 4.100 per liter!

Pada saat yang bersamaan, harga komponen otomotif seperti cairan pelumas dan ban juga ikut merangkak naik secara tajam.

Belum lama ini, kami menyambangi salah satu bengkel umum untuk mengamati seberapa jauh pergeseran harga yang berlangsung di lapangan.

Tidak main-main, persentase lonjakannya terpantau sanggup menyentuh angka hingga 20 persen!

"Iya (selain oli) harga suku cadang motor naik semua, hampir semua (suku cadang) naik. Ban apalagi, pas bulan Mei tuh, ban bisa naik sampai 20 persen. Kalau oli naiknya rata-rata Rp 20 ribuan," kata pemilik bengkel di kawasan Kranji, Bekasi Barat.

Melambungnya harga jual BBM beserta suku cadang ini pastinya semakin menyulitkan khalayak luas yang aktivitas hariannya sangat bergantung pada kendaraan privat.

Sementara di sudut lain, fasilitas transportasi massal juga dipandang belum sepenuhnya akomodatif, khususnya bagi masyarakat yang bertempat tinggal ataupun mencari nafkah di luar wilayah Jakarta.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati