Ketidakpastian Global, UKM Singapura Pilih Defensif Soal Ekspansi

Ilustrasi Kawasan Singapore (FOTO: NET)
Jumat, 12 Juni 2026 | 16:03:15 WIB

SINGAPURA - Usaha kecil dan menengah (UKM) di Singapura menjadi sektor yang paling minim optimisme di tingkat global terkait rencana ekspansi internasional di tengah bergulirnya ketidakpastian ekonomi serta geopolitik, merujuk pada hasil survei jaringan akuntansi internasional Kreston Global yang dirilis Kamis (11/6).

Pihak penilai menjelaskan melalui pernyataan resmi bahwa para pemimpin bisnis di Singapura menetapkan angka optimisme untuk ekspansi ke luar negeri di level 7,2 dari 10, tertinggal dari rata-rata dunia yang menyentuh angka 8,2.

Walau respons yang muncul cenderung defensif, sekitar 66 persen pelaku usaha memproyeksikan situasi untuk ekspansi bisnis lintas negara akan membaik dalam kurun dua sampai tiga tahun mendatang, meski persentase ini masih berada di bawah angka 86 persen milik UKM global secara keseluruhan.

Walaupun para pebisnis internasional di Singapura terdorong oleh potensi pertumbuhan pasar serta peluang keunggulan kompetitif, sebanyak 40 persen dari mereka memprediksi proses ekspansi ke luar negeri untuk saat ini akan terasa sangat berat atau agak sulit dieksekusi.

Masalah ketidakstabilan geopolitik menjadi kecemasan nomor satu yang diutarakan oleh 52 persen responden, yang merupakan angka tertinggi dibanding seluruh pasar yang masuk dalam daftar survei.

Hambatan pada rantai pasok dikeluhkan oleh 43 persen responden, sedangkan 42 persen pelaku usaha lainnya menggarisbawahi lonjakan biaya akibat kebijakan tarif.

Helmi Talib selaku managing partner di Kreston Helmi Talib, menyebutkan ekonomi Singapura yang sangat bergantung pada perdagangan membuatnya sangat rentan terhadap gangguan global sehingga mendorong para pelaku usaha untuk mengadopsi pendekatan yang lebih selektif dalam hal pertumbuhan internasional, meskipun mereka tetap mempertahankan ambisi ekspansi.

Riset tersebut pun memaparkan bahwa korporasi di Singapura mempunyai sudut pandang yang terhitung moderat mengenai peran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam memuluskan ekspansi ke luar negeri.

Kendati 97 persen dari total responden mengakui keberadaan AI memberikan pengaruh pada strategi ekspansi mereka, cuma 52 persen yang menganggap pengaruh tersebut berada di level signifikan atau sangat signifikan.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati