Emas Kembali Berkilau: Menembus Level Psikologis US$5.000 di Tengah Gejolak Global
- Kamis, 05 Februari 2026
JAKARTA - Pasar komoditas dunia kembali dikejutkan oleh pergerakan impresif logam mulia yang berhasil merebut kembali takhtanya. Setelah sempat mengalami tekanan jual yang cukup dalam, harga emas kini memasuki fase kebangkitan dengan menembus level psikologis yang sangat krusial, yakni US$5.000 per troy ons. Fenomena "pesta pora" ini dipicu oleh akumulasi sentimen ketegangan geopolitik yang kembali memanas serta rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang memicu spekulasi terhadap kebijakan moneter masa depan. Investor yang sebelumnya sempat khawatir akan penurunan tajam kini kembali melirik emas sebagai instrumen pelindung nilai yang paling dapat diandalkan di tengah ketidakpastian ekonomi global tahun 2026.
Konsolidasi Harga dan Resiliensi Logam Mulia
Pada perdagangan Rabu, emas dunia mencatatkan kenaikan sebesar 0,33%, mendarat di level US$4.954,79 per troy ons. Menariknya, dalam perdagangan *intraday*, emas sempat melesat hingga menyentuh US$5.092,05 per troy ons sebelum akhirnya stabil di area konsolidasi. Penguatan ini bukan sekadar fluktuasi harian, melainkan perpanjangan tren positif di mana emas telah menguat hingga 6,4% hanya dalam dua hari terakhir.
Baca JugaFEB Unisma Gandeng TIU Jepang Adopsi Kurikulum Bisnis Standar Global
Memasuki hari Kamis, antusiasme pasar belum meredup. Hingga pukul 06.44 WIB, harga emas di pasar spot terus merangkak naik sebesar 1,09% ke posisi US$5.016,67 per troy ons. Para analis menilai bahwa emas tengah membentuk pondasi kuat pasca-koreksi tajam yang terjadi sebelumnya. Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities, mengamati adanya titik resistensi baru di kisaran US$5.050 hingga US$5.100 per troy ons seiring dengan fokus pasar yang terbelah antara isu geopolitik dan indikator ekonomi AS.
Geopolitik Timur Tengah dan Dampaknya terhadap Safe Haven
Sentimen utama yang menjaga stabilitas harga emas berkaitan erat dengan perkembangan suhu politik internasional. Kabar mengenai rencana pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat di Oman pada hari Jumat mendatang memberikan sedikit harapan diplomatik, namun ketegangan di lapangan tetap berada pada titik didih. Insiden militer AS yang menjatuhkan drone Iran di dekat kapal induk di Laut Arab pada Selasa lalu menjadi pengingat bagi pasar bahwa risiko konflik fisik masih sangat nyata.
Kondisi geopolitik yang tidak menentu ini secara historis selalu menjadi bahan bakar utama bagi penguatan emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil langsung, daya tarik emas justru meningkat ketika stabilitas keamanan dunia terganggu. Investor cenderung memindahkan dana mereka dari aset berisiko ke emas untuk menghindari potensi kerugian akibat eskalasi konflik di wilayah-wilayah strategis.
Indikator Ekonomi AS dan Spekulasi Suku Bunga
Selain faktor keamanan, data makroekonomi dari Negeri Paman Sam turut memainkan peran sentral. Pertumbuhan lapangan kerja swasta di AS terpantau berada di bawah ekspektasi pasar. Data ADP menunjukkan hanya ada penambahan 22.000 pekerjaan pada Januari, jauh di bawah proyeksi awal sebesar 48.000. Lemahnya data ketenagakerjaan ini memberikan indikasi bahwa tekanan inflasi dari sisi upah mungkin mereda, yang pada gilirannya membuka peluang bagi bank sentral untuk bersikap lebih longgar.
Investor saat ini memperkirakan setidaknya akan ada dua kali penurunan suku bunga pada tahun 2026. Lingkungan suku bunga rendah merupakan "karpet merah" bagi emas batangan. Hal ini dikarenakan biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas menjadi lebih rendah dibandingkan dengan menyimpan aset berbasis bunga seperti obligasi. Meskipun Presiden Donald Trump telah menandatangani RUU pengeluaran untuk mengakhiri penutupan sebagian pemerintahan, jadwal rilis data nonfarm payrolls yang belum pasti membuat pasar tetap dalam posisi waspada dan memilih emas sebagai tempat berlabuh.
Proyeksi Goldman Sachs dan Masa Depan Emas 2026
Meskipun emas sempat anjlok pada akhir Januari setelah mencapai rekor tertinggi US$5.594,82, optimisme jangka panjang tetap terjaga. Secara akumulatif, logam mulia ini masih mencatatkan kenaikan lebih dari 16% sepanjang tahun berjalan. Analis dari Goldman Sachs memproyeksikan adanya risiko kenaikan lebih lanjut, dengan target harga mencapai US$5.400 per troy ons pada Desember 2026.
Keyakinan ini didasarkan pada dua faktor utama: pembelian masif secara terus-menerus oleh bank-bank sentral dunia dan harapan akan arus masuk dana ke ETF (Exchange Traded Funds) seiring dengan langkah The Fed menurunkan suku bunga. Selain itu, diplomasi tingkat tinggi antara Presiden Trump dengan Xi Jinping, serta pertemuan virtual antara pemimpin China dan Rusia, semakin memperumit konstelasi politik global. Ketidakjelasan arah hubungan antar-kekuatan besar ini diprediksi akan terus memberikan kejutan positif bagi harga emas di masa mendatang, menjadikannya aset primadona yang sulit digoyahkan dari portofolio investor global.
David
navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Zulhas Tegaskan Operasional Kopdes Dimulai Usai Fisik Bangunan Rampung
- Kamis, 05 Februari 2026
BPS Laporkan Pekerja Bertambah dan Pengangguran Menurun Secara Nasional
- Kamis, 05 Februari 2026
Berita Lainnya
Top 11 Perusahaan Batu Bara di Indonesia 2026, Kapasitas Fantastis!
- Kamis, 05 Februari 2026
IFEX 2026 Jadi Ajang Promosi Daya Saing Industri Mebel Indonesia Global
- Kamis, 05 Februari 2026
Industri Baja Nasional Tumbuh 5,3 Persen per Tahun, Percepat Kedaulatan Ekonomi
- Kamis, 05 Februari 2026
Terpopuler
1.
Wuling Eksion Jadi SUV Keluarga Baru dengan Teknologi EV dan PHEV
- 05 Februari 2026
2.
Polda Kaltim Petakan 3.000 Truk ODOL Menuju Target Zero 2027
- 05 Februari 2026
3.
Satlantas Polres Probolinggo Gelar Ramp Check di Exit Tol Leces
- 05 Februari 2026









