Industri Baja Nasional Tumbuh 5,3 Persen per Tahun, Percepat Kedaulatan Ekonomi
- Kamis, 05 Februari 2026
JAKARTA - Industri baja Indonesia menunjukkan potensi yang cukup besar meski saat ini menghadapi tantangan yang signifikan dalam hal utilitas kapasitas produksi dan ketergantungan pada impor.
Direktur Utama Krakatau Steel, Dr. Akbar Djohan, dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, mengungkapkan bahwa konsumsi baja nasional telah tumbuh rata-rata 5,3% per tahun.
Namun, angka tersebut masih jauh dari potensi maksimal yang seharusnya dicapai. Akbar menekankan bahwa saat ini, industri baja nasional hanya memanfaatkan sekitar 53% kapasitasnya, yang seharusnya bisa lebih tinggi lagi, mencapai minimal 80%.
Baca JugaIFEX 2026 Jadi Ajang Promosi Daya Saing Industri Mebel Indonesia Global
Di sisi lain, kebutuhan baja nasional masih mengandalkan impor dalam jumlah signifikan. Sekitar 40-53% dari kebutuhan baja Indonesia dipenuhi oleh produk impor, yang sebagian besar berasal dari negara-negara seperti China dengan harga yang lebih murah.
Hal ini berisiko mengguncang keberlanjutan industri baja dalam negeri, mengingat tingginya ketergantungan terhadap produk luar.
Akbar berpendapat bahwa persaingan industri baja Indonesia saat ini bukan hanya soal kompetisi antara perusahaan, tetapi juga terkait dengan kebijakan pemerintah di setiap negara.
Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Jepang, India, dan Korea Selatan sudah menerapkan proteksi ketat untuk menjaga keberlangsungan industri baja mereka. Di sisi lain, Indonesia juga harus memperkuat regulasi dan proteksi perdagangan untuk memastikan industri baja nasional tetap kompetitif.
Meningkatkan Kinerja Krakatau Steel: Pendapatan dan Penjualan yang Meningkat
Krakatau Steel sendiri menunjukkan pencapaian yang cukup menggembirakan meskipun industri baja secara keseluruhan menghadapi berbagai tantangan. Perusahaan ini membukukan pendapatan sebesar USD955 juta, yang menunjukkan peningkatan tipis sebesar 0,4% dibandingkan tahun 2024.
Selain itu, volume penjualan baja Krakatau Steel meningkat pesat hingga 29,0%, menjadi 945.000 ton. Akibatnya, ekuitas perusahaan juga mencatatkan lonjakan signifikan hingga 99,4%, mencapai USD868 juta.
Pencapaian ini tak lepas dari transformasi besar-besaran yang dilakukan oleh Krakatau Steel, mulai dari efisiensi masif dalam berbagai lini operasional, penggabungan core bisnis baja, hingga inovasi bisnis di anak perusahaan.
Selain itu, Krakatau Steel juga mendorong implementasi lima langkah konkret untuk memperkuat industri baja nasional.
Langkah-langkah tersebut antara lain menjadikan Krakatau Steel sebagai One Stop Services pemenuhan baja untuk seluruh Proyek Strategis Nasional, percepatan pengenaan Bea Masuk Antidumping (BMAD), dan transformasi tata niaga impor baja agar lebih seimbang dan berkelanjutan.
Perlunya Proteksi Perdagangan dan Sinergi Lintas Kementerian
Wakil Ketua Komisi VI DPR, Nurdin Halid, menekankan bahwa industri baja adalah tulang punggung pembangunan nasional. Baja digunakan dalam berbagai sektor vital, mulai dari infrastruktur, perumahan, energi, pertahanan, hingga manufaktur.
Tanpa langkah cepat dan tegas untuk melindungi industri ini, Indonesia berisiko kehilangan sektor strategis ini dan semakin bergantung pada impor, yang tentunya akan berdampak buruk pada ekonomi domestik.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, mengungkapkan bahwa saat ini utilisasi kapasitas industri baja nasional baru mencapai 52,7%. Hal ini menunjukkan adanya ruang ekspansi yang sangat besar bagi industri baja di dalam negeri, dengan potensi pertumbuhan yang tinggi.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong penerapan proteksi perdagangan yang lebih ketat, modernisasi teknologi ramah lingkungan, serta peningkatan investasi di sektor hulu untuk memperkuat daya saing industri baja nasional.
Sementara itu, Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menegaskan komitmen Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk menerapkan instrumen trade remedies, seperti BMTP (Bea Masuk Tindakan Pengamanan), BMAD, dan Bea Masuk Imbalan, guna menahan lonjakan impor yang tidak sehat.
Dengan instrumen-instrumen ini, diharapkan stabilitas harga dan ketersediaan baja di pasar domestik dapat terjaga, sehingga industri baja nasional tetap dapat bertumbuh dengan sehat.
Penguatan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk Proteksi Sektor Baja
Dalam upaya memperkuat industri baja nasional, Plt. Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Yustinus Kristianto Widiwardono, mengungkapkan bahwa BSN telah menetapkan 324 Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk sektor baja dan logam.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 23 SNI telah diberlakukan secara wajib. Penguatan SNI ini diharapkan menjadi instrumen proteksi yang efektif bagi industri baja domestik.
Dengan memastikan produk baja yang beredar di pasar memenuhi standar kualitas dan keselamatan, pemerintah memberikan jaminan bagi pelaku industri baja dalam negeri untuk berkompetisi secara adil.
Upaya Penguatan Hulu Baja: Langkah Nyata Danantara
Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa Krakatau Steel kini tengah berada dalam proses menuju kondisi keuangan yang lebih sehat setelah melalui serangkaian transformasi.
Langkah-langkah perbaikan tersebut melibatkan restrukturisasi menyeluruh, yang meliputi intervensi keuangan, operasional, hingga tata kelola perusahaan. Sinergi lintas kementerian, lembaga, DPR RI, dan BPI Danantara menjadi momentum penting dalam kebangkitan industri baja nasional.
Akbar Djohan menegaskan bahwa dukungan negara melalui proteksi perdagangan, penguatan tata niaga, serta keberpihakan pada produksi dalam negeri akan menjadi fondasi bagi kebangkitan Krakatau Steel dan industri baja nasional secara keseluruhan.
"Sinergi ini bukan hanya untuk menyelamatkan perusahaan, tetapi juga untuk memastikan kedaulatan industri baja nasional tetap terjaga," ungkap Akbar. Momentum ini, menurutnya, menjadi bagian dari upaya untuk menciptakan ekonomi Indonesia yang mandiri dan berdaya saing global.
Sinergi Antara Pemerintah dan Swasta untuk Membangun Ekosistem Baja Nasional
Industri baja nasional membutuhkan kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan, baik dari pemerintah, pelaku industri, maupun lembaga terkait lainnya. Proteksi yang kuat melalui regulasi yang memadai akan memberikan perlindungan kepada sektor baja domestik.
Melalui sinergi yang kuat, industri baja nasional dapat berkembang lebih pesat, mengurangi ketergantungan pada impor, dan menciptakan ekosistem industri baja yang sehat dan berkelanjutan.
Melihat potensi dan tantangan yang ada, langkah-langkah konkret yang diambil oleh Krakatau Steel dan para pemangku kebijakan dalam memperkuat industri baja nasional diharapkan dapat menciptakan stabilitas dan kemajuan yang signifikan.
Hal ini juga menjadi momentum penting untuk mendukung pembangunan infrastruktur nasional yang membutuhkan baja sebagai bahan baku utama.
Kedaulatan Industri Baja untuk Kemandirian Ekonomi Nasional
Percepatan kedaulatan industri baja nasional tidak hanya berdampak pada penguatan ekonomi domestik tetapi juga pada kemandirian Indonesia dalam menghadapi tantangan ekonomi global.
Dengan langkah-langkah yang telah diambil oleh berbagai pihak, termasuk proteksi perdagangan yang lebih ketat dan penguatan regulasi, industri baja Indonesia akan lebih siap bersaing di pasar internasional.
Melalui sinergi lintas sektor dan komitmen dari pemerintah, industri baja nasional memiliki peluang untuk berkembang pesat dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Hal ini akan memperkuat fondasi perekonomian Indonesia dan menciptakan ekonomi yang lebih mandiri, berdaya saing, serta siap menghadapi tantangan di masa depan.
Sindi
navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Zulhas Tegaskan Operasional Kopdes Dimulai Usai Fisik Bangunan Rampung
- Kamis, 05 Februari 2026
BPS Laporkan Pekerja Bertambah dan Pengangguran Menurun Secara Nasional
- Kamis, 05 Februari 2026
Berita Lainnya
Top 11 Perusahaan Batu Bara di Indonesia 2026, Kapasitas Fantastis!
- Kamis, 05 Februari 2026
IFEX 2026 Jadi Ajang Promosi Daya Saing Industri Mebel Indonesia Global
- Kamis, 05 Februari 2026
Industri Baja Nasional Tumbuh 5,3 Persen per Tahun, Percepat Kedaulatan Ekonomi
- Kamis, 05 Februari 2026
Terpopuler
1.
Wuling Eksion Jadi SUV Keluarga Baru dengan Teknologi EV dan PHEV
- 05 Februari 2026
2.
Polda Kaltim Petakan 3.000 Truk ODOL Menuju Target Zero 2027
- 05 Februari 2026
3.
Satlantas Polres Probolinggo Gelar Ramp Check di Exit Tol Leces
- 05 Februari 2026








