Breaking

Efek Rumah Pensiun Jokowi, Harga Tanah Colomadu Melonjak Tinggi

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Senin, 08 Juni 2026
Efek Rumah Pensiun Jokowi, Harga Tanah Colomadu Melonjak Tinggi
Tanah yang akan dibangun untuk rumah pensiun Presiden Jokowi (FOTO: NET)

COLOMADU - Area di seputar lokasi rumah pensiun Presiden RI ke-7 Joko Widodo, yakni Colomadu, saat periode sekarang bukan lagi sekadar wilayah kecamatan biasa di Karanganyar.

Sektor tersebut sudah melewati fase perkembangan yang amat pesat dibarengi dengan nilai jual tanah yang melonjak sangat tinggi selama beberapa tahun belakangan.

Merujuk pada basis data Rumah123, angka median tanah di Colomadu sudah menembus Rp 3,83 juta per meter persegi pada akhir Mei 2026 dari nilai sebelumnya yang berada di angka Rp 3,58 juta per meter persegi.

"Angka ini menempatkan Colomadu sebagai kawasan dengan harga tanah tertinggi di seluruh wilayah Kabupaten Karanganyar," kata Marisa Jaya selaku Head of Research Rumah123 kepada detikcom pada Sabtu (6/6/2026).

Nilai jual tanah ini rupanya menyerupai batas median harga tanah di kawasan penyangga Jakarta.

Deretan area di Bekasi serta Cikarang saat ini juga menorehkan median harga tanah yang menembus rentang Rp 3,40-3,70 juta per meter persegi.

Berikutnya, harga median tanah di kawasan Sawangan, Depok pun sudah menyentuh Rp 3,80 juta per meter persegi dan wilayah Gunung Putri di Bogor senilai Rp 3,80 juta per meter persegi.

Aset properti tersebut barangkali masih bertengger di bawah nominal tanah di wilayah Jakarta.

Namun, menilik status Colomadu yang sekadar sebuah kecamatan, lonjakan nilai tanah ini menjelma sebagai sebuah rekor baru.

"With median harga tanah Rp 3,83 juta per meter persegi per Mei 2026, Colomadu saat ini sangat setara dengan kawasan suburban Jabodetabek kelas menengah," beber Marisa.

Kota satelit sendiri merupakan sebuah terminologi untuk wilayah penyangga dari pusat kota.

Pada umumnya, para kelompok pekerja kelas menengah yang belum sanggup membeli tempat tinggal di kota besar bakal mengalihkan pencarian mereka ke wilayah pinggiran.

Sebagai ilustrasi, Jakarta ditopang oleh sederet kota satelit seperti Depok, Bekasi, Bogor, hingga Tangerang.

Melesatnya harga tanah serta situasi di Colomadu belakangan ini dinilai oleh pihak Rumah123 berpeluang menjadikannya sebagai kota satelit bagi kota besar di dekatnya, yakni Solo.

Rumah123 mendapati bahwa bukan sekadar tanah, harga hunian di wilayah tersebut pun sudah menyentuh angka miliaran.

Marisa menguraikan terdapat beberapa klasifikasi pasar di wilayah Colomadu.

Pertama ialah segmen tempat tinggal berharga Rp 500 juta sampai Rp 1 miliaran yang mendominasi kisaran 42 persen dari total ketersediaan rumah di Colomadu.

Sedangkan untuk hunian seharga Rp 1-2 miliaran mengambil porsi sebesar 31 persen dari total ketersediaan.

Sisanya yang sebesar 27 persen merupakan hunian di bawah nominal Rp 500 juta atau di atas Rp 2 miliar.

"Jika diakumulasikan, hampir 75 persen penawaran hunian di kawasan ini berada di rentang Rp 500 juta hingga Rp 2 militar. Menariknya, hunian dengan harga di atas Rp 1 miliar berkontribusi sebesar 48 persen dari total suplai di Colomadu. Porsi ini tergolong sangat signifikan untuk ukuran wilayah tingkat kabupaten. Bahkan, untuk segmen premium di atas Rp 5 miliar, sudah tercatat ada 57 listing," ungkap Marisa.

Meroketnya pertumbuhan nilai aset properti ini menempatkan Colomadu sebagai pemasok perumahan terbesar di Kabupaten Karanganyar dengan persentase di kisaran 56 persen.

Menilik pada demografi umur konsumen perumahan di Colomadu, porsi paling dominan bersumber dari kelompok Gen Z dan milenial dengan rentang umur 25-34 tahun.

Akumulasi pembeli pada kategori umur tersebut berada di angka kisaran 38 persen.

"Kelompok terbesar yang merupakan first-time home buyers (pembeli rumah pertama). Kelompok inilah yang menggerakkan tingginya enquiry (permintaan) pada hunian di bawah Rp 1 miliar," beber Marisa.

Generasi Z yang berumur 18-24 tahun turut menempati urutan ketiga sebagai kelompok usia pembeli perumahan terbesar, yakni di kisaran 30 persen.

Selanjutnya, kelompok umur mapan berkisar 45-54 tahun juga banyak yang bertransaksi properti di area ini, namun bukan untuk dijadikan hunian pertama.

Mereka membeli aset properti bertindak sebagai investor yang membidik produk tempat tinggal premium di atas nominal Rp 1 giliun.

Mengenai daya pikat Colomadu, poin paling utama ialah Bandara Adi Soemarmo.

Akses menuju Bandara Adi Soemarmo dari wilayah Colomadu kini terbilang kian mudah.

Keberadaan bandara ini turut memicu perkembangan yang pesat pada area komersial dan menjadi motor penggerak utama aktivitas logistik, perhotelan, serta perputaran bisnis.

Poin kedua ialah Tol Trans-Jawa Ruas Solo-Ngawi.

Prasarana jalan ini membuka akses distribusi yang terhubung secara langsung dengan kawasan barat Karanganyar.

Poin ketiga yaitu Tol Solo-Yogyakarta.

Jalan bebas hambatan yang sedang dikerjakan ini nantinya bakal terintegrasi ke Colomadu sekaligus membuka akses menuju Yogyakarta agar durasi tempuh kian singkat dan mudah.

"Colomadu pun sukses bertransformasi menjadi hub atau titik simpul strategis antara Solo, Yogyakarta, dan Semarang (Joglosemar)," jelasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua