Breaking

JMA Deklarasikan Fenomena El Nino, Suhu Jepang Diprediksi Melonjak

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Kamis, 11 Juni 2026
JMA Deklarasikan Fenomena El Nino, Suhu Jepang Diprediksi Melonjak
Ilustrasi anomali suhu muka laut global (FOTO: NET)

TOKYO - Badan Meteorologi Jepang (JMA) mempublikasikan bahwa fenomena El Nino diyakini telah mulai terbentuk sepanjang periode musim semi 2026.

Langkah rilis tersebut memposisikan JMA sebagai salah satu otoritas meteorologi raksasa pertama yang secara sah memaklumkan bahwa situasi El Nino telah hadir tahun ini, melansir data dari News on Japan, Kamis (11/6/2026).

Merujuk pada maklumat resmi JMA, teritori Jepang saat ini sedang bersiap menghadapi lonjakan suhu udara di atas ambang batas normal di seluruh wilayah negeri.

Situasi tersebut dipicu oleh adanya eskalasi temperatur pada permukaan laut kawasan Pasifik yang berada di atas rata-rata berkala.

Kebijakan JMA ini mendahului kalkulasi global lainnya, yang mana para pengamat cuaca di bermacam belahan dunia sebetulnya juga kian meyakini bahwa anomali Super El Nino sedang mengancam di depan mata.

Untuk periode musim panas kali ini, JMA memaparkan situasi atmosfer memperlihatkan kemiripan dengan kondisi yang sempat terjadi pada tahun 2023 silam.

Bahkan sewaktu estimasi cuaca memperhitungkan fase perkembangan El Niño, pergerakan arus jet barat diproyeksikan bakal konsisten berada lebih jauh ke sisi utara dari ukuran lumrah, sehingga memberi ruang bagi sistem tekanan tinggi Pasifik untuk menebal dan meluas ke Jepang.

Dampaknya, tingkat suhu udara diperkirakan akan bertahan di atas batas normal pada seluruh penjuru negeri.

Pihak JMA mengimbau masyarakat luas untuk mengeksekusi langkah mitigasi terhadap potensi serangan sengatan panas (heat stroke) serta gangguan kesehatan lain yang berkorelasi dengan temperatur tinggi.

Di sisi lain, Badan Administrasi Atmosfer dan Kelautan Nasional Amerika Serikat (NOAA) sebetulnya telah mengeluarkan taksiran pada hari Senin (8/6/2026) bahwa peluang kemunculan El Nino pada bulan Juni menyentuh angka 82 persen.

Walaupun NOAA dijadwalkan mengeluarkan pembaruan estimasi cuaca pada Kamis ini, kubu AS tampaknya tidak mau tergesa-gesa menyamai langkah Jepang, melansir dari Gizmodo, Rabu (10/6/2026).

Menurut pandangan mantan pakar meteorologi NOAA, Alan Gerard, pihak AS masih memerlukan rentang waktu beberapa pekan ke depan sebelum bisa mengeluarkan maklumat resmi terkait El Nino.

Kendati maklumat sah di sejumlah negara belum diterbitkan, Gerard melaporkan bahwa lapisan atmosfer Bumi sejatinya telah memperlihatkan indikasi konkret dari eksistensi El Nino.

Salah satu petunjuk kuatnya ialah kemunculan tiga siklon badai di area Pasifik Timur hanya dalam kurun waktu 10 hari belakangan.

Kondisi tersebut menandai dimulainya siklus musim badai yang terhitung sangat aktif dan berjalan lebih awal di cekungan tersebut.

Berikut merupakan data rincian dari tiga badai tropis yang telah terbentuk: Badai Tropis Amanda: Terbentuk perdana pada 3 Juni 2026 dan saat ini terpantau telah melemah serta punah (disipasi).

Badai Tropis Boris: Terbentuk pada hari Senin berikutnya dan langsung menghantam daratan di pesisir Pantai Pasifik Meksiko pada hari Selasa, dengan membawa curah hujan tinggi serta ancaman banjir bandang.

Badai Tropis Cristina: Saat ini tengah dipantau secara intensif oleh Pusat Badai Nasional (NHC) sewaktu melaju ke arah barat di sisi selatan pesisir El Salvador, serta mengancam kawasan Amerika Tengah dengan risiko hujan lebat, banjir, hingga tanah longsor.

Meningkatnya intensitas aktivitas badai di area cekungan Pasifik ini merupakan tanda spesifik dari kehadiran El Nino.

Suhu pada permukaan laut yang berada di atas batas rata-rata mengakibatkan samudra melepaskan lebih banyak pasokan energi panas ke lapisan atmosfer.

Mekanisme inilah yang mendorong badai menjadi lebih terstruktur sekaligus menguat dalam waktu singkat.

Selain dari aktivitas badai, NOAA dalam pembaruan datanya pada hari Senin juga mengutarakan adanya ketidaknormalan atmosfer lain yang mulai terekam dan selaras dengan fase transisi menuju El Nino.

Indikator-indikator tersebut mencakup: Melemahnya hembusan angin pasat timur. Berkurangnya intensitas tutupan awan beserta curah hujan di teritori Indonesia.

Meningkatnya kuantitas tutupan awan serta curah hujan di area Pasifik bagian tengah ataupun timur.

Data kepunyaan NOAA memperlihatkan terjadinya pergeseran pola curah hujan dan sebaran awan yang selaras dengan peningkatan konveksi di Pasifik tengah dan timur, sedangkan aktivitas konveksi di sebagian area Pasifik barat malah mengalami hambatan tekanan.

Melangkah ke musim panas, permodelan estimasi cuaca untuk El Nino justru memperlihatkan tren penguatan yang cukup mencemaskan.

Catatan paling mutakhir dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) memproyeksikan bahwa temperatur permukaan laut Pasifik berpeluang melonjak hingga 3,8 derajat Celsius di atas rata-rata pada bulan Desember mendatang.

Bilamana prediksi tersebut menjadi kenyataan, fenomena pada tahun ini bakal melampaui catatan rekor El Nino yang pernah terdokumentasikan sebelumnya dalam sejarah.

Para pengamat cuaca pun telah melayangkan peringatan yang serius.

Jika fenomena "El Nino Godzilla" ini benar-benar mewujud, dunia dituntut bersiap menghadapi rentetan dampak destruktif, mulai dari cuaca ekstrem yang lebih sering terjadi dan intens, lonjakan rekor suhu global, hingga krisis pangan masal di pelbagai belahan dunia.

Hingga saat ini, memang terhitung masih terlalu dini untuk memastikan seberapa parah tingkat fatalitas dari El Nino periode kali ini.

Namun, fakta bahwa satu otoritas cuaca utama dunia seperti halnya JMA telah mengambil langkah untuk memaklumkannya secara sah, menjadi sinyal kuat bahwa lembaga-lembaga global lainnya akan segera menyusul dalam waktu dekat.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua