Breaking

Impitan Ekonomi Picu Lonjakan Pasien Gangguan Jiwa di Tasikmalaya

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Kamis, 11 Juni 2026
Impitan Ekonomi Picu Lonjakan Pasien Gangguan Jiwa di Tasikmalaya
Ruangan rawat inap Mitra Batik RSUD Soekardjo Tasikmalaya (FOTO: NET)

TASIKMALAYA - Jumlah penderita yang mengalami kendala kesehatan mental di wilayah Kota Tasikmalaya, Jawa Barat yang datang melakukan pengobatan ke RSUD Soekardjo mencatatkan peningkatan yang lumayan drastis belakangan ini.

Situasi tersebut berlangsung secara simultan dengan adanya tekanan finansial yang sedang mendera lapisan masyarakat kelas menengah ke bawah di tanah air.

Mulai dari merangkaknya harga komoditas pokok harian yang bertransformasi menjadi beban pengeluaran masyarakat dalam kurun waktu beberapa saat ke belakang.

Keadaan warga makin terdesak lantaran perolehan upah mereka tidak mengalami kenaikan, melainkan bertahan di tempat atau justru menyusut di tengah melemahnya nilai tukar mata uang rupiah.

"Jujur saja, kami belum memiliki bangsal khusus untuk perawatan pasien gangguan kejiwaan. Dalam dua tahun terakhir, pasien itu rata-rata per hari bisa mencapai 60 orang," jelas Wakil Direktur Pelayanan RSUD Soekardjo Dokter Titie Purwaninsari, Rabu (10/6/2026).

Titie menjabarkan bahwa sebagian besar dari penderita tersebut didominasi oleh kelompok masyarakat yang berada dalam rentang umur produktif.

Kehadiran area isolasi perawatan spesifik dipandang amat krusial lantaran fase rehabilitasi kesehatan psikologis memerlukan waktu yang tidak singkat.

"Jika masuk dalam kategori depresi akut, dikhawatirkan dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Makanya membutuhkan bangsal khusus. Kami sudah komunikasikan ke Kemenkes dan Dinkes Provinsi Jabar. Mudah-mudahan fasilitas tersebut mendapat respon dan segera terealisasi," katanya.

Titie menambahkan, terdapat bermacam-macam faktor yang melatarbelakangan fenomena ini, mulai dari tingginya derajat stres akibat problem keuangan, konflik internal keluarga, sampai persoalan asmara yang memicu individu gegabah mengakhiri hidupnya.

Selama ini, tingkat ketahanan masing-masing orang dalam menghadapi sebuah beban psikis memang berbeda-beda dan terikat kuat pada kondisi mental individu tersebut.

"Untuk itu screening, preventif sangat penting. Cirinya yang mengalami depresi bagaimana, paling simpel seperti yang sedih dan perilaku di luar kebiasaan," kata dia.

Bersamaan dengan hal itu, kawasan Kabupaten dan Kota Tasikmalaya digegerkan oleh rangkaian insiden bunuh diri dalam kurun beberapa minggu terakhir, mulai dari kejadian di Mangkubumi, aksi nekat terjun di Jembatan Cirahong Manonjaya, sampai yang paling terkini di Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya pada Rabu (10/6/2026).

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua