BI Rate Naik 5,50 Persen: Saham Bank Melejit, Analis Beri Catatan
JAKARTA - Lini saham di sektor perbankan terpantau meroket setelah Bank Indonesia (BI) mempublikasikan kebijakan untuk mendongkrak kembali suku bunga acuan (BI Rate) sebanyak 25 basis poin hingga menyentuh angka 5,50 persen pada Selasa (9/6/2026).
Akan tetapi, tren penguatan tersebut dinilai belum memadai untuk merepresentasikan selesainya tekanan ekonomi terhadap industri perbankan.
Pengamat pasar modal sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menjelaskan, lonjakan saham perbankan merefleksikan tanggapan positif dari pelaku pasar terhadap kebijakan BI guna mengawal stabilitas kurs rupiah serta menekan gempuran modal keluar (capital outflow).
"Namun menurut saya masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa tekanan pada saham perbankan sudah benar-benar selesai," kata Elandry kepada Kompas.com, Rabu (10/6/2026).
Mengacu pada data statistik RTI Business saat penutupan sesi perdagangan Rabu kemarin, saham-saham perbankan raksasa serempak merangkak naik.
Saham kepunyaan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terdata melejit hingga 9,71 persen menuju level 5.650.
Di waktu yang sama, saham milik PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terkerek naik 5,50 persen menuju posisi 3.450.
Tren positif juga melanda saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang menanjak sebesar 4,16 persen ke level 4.260 serta saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang tumbuh 3,23 persen menuju tempat 2.880.
Walau begitu, Elandry memperkirakan pasar masih akan dihadapkan pada rentetan agenda krusial yang berpeluang besar menyetir arah pergerakan saham finansial dalam periode dekat.
Berdasarkan pandangannya, konsentrasi para penanam modal saat ini tertuju penuh pada konklusi rapat Komite Pasar Terbuka Federal Reserve (FOMC) Amerika Serikat per tanggal 16-17 Juni nanti yang bakal mengarahkan proyeksi suku bunga global sekaligus perputaran modal asing.
Bukan cuma itu, pasar juga bersiap melewati siklus penataan ulang indeks global MSCI pada pengujung Juni yang kerap memicu migrasi modal asing secara teknis, baik yang merapat masuk maupun keluar dari pasar dalam negeri sehingga berpotensi memperlebar fluktuasi pasar.
"Jadi pandangan saya belum banyak berubah. Penguatan saat ini lebih mencerminkan perbaikan market sentiment dan relief rally setelah koreksi yang cukup dalam," ucapnya.
Menurut Elandry, kans untuk melanjutkan tren penguatan masih terbuka lebar dengan catatan nilai tukar rupiah tetap kokoh, modal asing mengalir masuk kembali ke bursa saham domestik, serta hasil koordinasi The Fed tidak melempar sinyal moneter yang terlalu restriktif (hawkish).
"Jika rupiah terus stabil, foreign flow mulai kembali masuk, dan hasil FOMC tidak terlalu hawkish, maka peluang rebound berlanjut akan semakin besar," ujarnya.
Kendati demikian, dalam kurun beberapa pekan ke depan ia memproyeksikan saham-saham perbankan masih akan melaju dalam tren mendatar atau sideways diiringi tingkat fluktuasi yang lumayan tinggi.
Sebelumnya, Elandry sempat memberikan peringatan jika hantaman terhadap saham perbankan berpeluang tetap berlanjut sepanjang investor asing konsisten mengeksekusi aksi jual bersih (net sell), rupiah bergerak labil, serta sentimen pasar atas kondisi anggaran fiskal nasional belum menunjukkan perbaikan.
Berdasarkan analisisnya, kemerosotan yang terjadi pada beberapa waktu ke belakang lebih didominasi oleh faktor persepsi pasar serta arus perputaran modal ketimbang penurunan kualitas fundamental dari kinerja emiten bank itu sendiri.
"Jadi ketika sentimen mulai stabil positif and dana asing kembali masuk, biasanya saham-saham bank juga jadi salah satu sektor yang paling cepat pulih," tuturnya.
Sebagai informasi pelengkap, BI mengerek suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin hingga berada di angka 5,50 persen di luar agenda RDG Bulanan BI.
Melalui ketetapan tersebut, suku bunga deposit facility ikut terdongkrak 25 basis poin ke level 4,50 persen dan suku bunga lending facility juga terkerek 25 basis poin menuju angka 6,25 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo memaparkan, penaikan BI rate dieksekusi demi menjaga ketahanan nilai tukar rupiah yang sedang terdepresiasi akibat besarnya gejolak pasar global sebagai imbas konflik di Timur Tengah.
"RDG Mingguan Bank Indonesia pada hari ini, tanggal 9 Juni 2026 memutuskan untuk kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6/2026).