Energy Watch Indonesia Selidiki Dugaan Rekayasa di Balik Kasus Pertalite di Jawa Timur

Energy Watch Indonesia Selidiki Dugaan Rekayasa di Balik Kasus Pertalite di Jawa Timur
Foto: SPBU Pertamina

Jakarta - Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia (EWI), Ferdinand Hutahaean, menilai perlu dilakukan penyelidikan mendalam terkait laporan masyarakat mengenai dugaan bahan bakar jenis Pertalite yang disebut bercampur air di sejumlah daerah di Jawa Timur, termasuk Surabaya.

Ferdinand menegaskan bahwa persoalan ini tidak dapat serta-merta disimpulkan sebagai kesalahan teknis semata. Menurutnya, terdapat indikasi kuat bahwa isu tersebut berpotensi digerakkan oleh pihak tertentu untuk menggiring opini publik secara negatif terhadap Pertamina.

“Saya melihat ada upaya sistematis membangun persepsi publik seolah-olah BBM Pertamina bermasalah,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (2/11).

Baca Juga

Hutama Karya ukur dampak serapan karbon dari 17.000 pohon di koridor JTTS

Ia menambahkan, kecurigaan ini muncul karena dalam beberapa waktu terakhir banyak beredar narasi di media sosial yang mengaitkan kualitas bahan bakar Pertamina dengan isu BBM impor dan kompetisi antar-SPBU.

“Isu seperti ini sering muncul beriringan dengan pembahasan soal BBM impor dan kompetisi bisnis. Karena itu, penting untuk diusut secara menyeluruh,” tegas Ferdinand.

Kasus ini berawal dari beredarnya video dan laporan sejumlah kendaraan yang mengalami kendala mesin setelah mengisi Pertalite di beberapa SPBU di Jawa Timur. Bahkan, beberapa pejabat daerah sempat melakukan inspeksi mendadak untuk memastikan kondisi di lapangan. Namun, menurut Ferdinand, sebagian besar sampel BBM yang beredar di media sosial tidak diambil dengan prosedur yang benar.

“Banyak sampel diambil dengan botol air mineral bekas, padahal cara itu tidak sesuai standar pengujian. Sisa air di dalam botol bisa menimbulkan kesan seolah BBM bercampur air,” jelasnya.

EWI meminta aparat penegak hukum untuk melakukan penelusuran komprehensif, termasuk memeriksa konsumen yang kendaraannya terdampak, bengkel tempat kendaraan diperiksa, dan pengambilan sampel langsung dari SPBU Pertamina.

“Polisi perlu menelusuri semua pihak yang terlibat agar jelas sumber persoalannya,” kata Ferdinand.

Ferdinand juga menegaskan keyakinannya terhadap kualitas produk Pertamina yang selama ini terbukti andal dan memenuhi standar nasional.

“Saya sudah puluhan tahun menggunakan BBM Pertamina, kendaraan saya tidak pernah bermasalah. Kenapa baru sekarang ramai? Bisa jadi ini bagian dari strategi persaingan bisnis,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mendorong Pertamina untuk mengambil langkah hukum terhadap pihak-pihak yang terbukti menyebarkan isu tanpa dasar.

“Sebaiknya dibawa ke ranah hukum agar terang benderang siapa yang bermain, dan publik tidak disesatkan oleh opini yang menyesatkan,” tutup Ferdinand.

Redaksi

Redaksi

navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Hutama Karya ukur dampak serapan karbon dari 17.000 pohon di koridor JTTS

Hutama Karya ukur dampak serapan karbon dari 17.000 pohon di koridor JTTS

MSCI Depak BREN, TPIA, dan CUAN Milik Prajogo dari Indeks Utama

MSCI Depak BREN, TPIA, dan CUAN Milik Prajogo dari Indeks Utama

Yamal Bawa Bendera Palestina Saat Parade Juara, Ini Kata Hansi Flick

Yamal Bawa Bendera Palestina Saat Parade Juara, Ini Kata Hansi Flick

Warga Tigaraksa Geruduk Warung Miras, Polisi Siap Bongkar Paksa

Warga Tigaraksa Geruduk Warung Miras, Polisi Siap Bongkar Paksa

Blunder Kiper Tunda Gelar Juara Cristiano Ronaldo di Al Nassr

Blunder Kiper Tunda Gelar Juara Cristiano Ronaldo di Al Nassr