JAKARTA - Sektor hilirisasi nikel Indonesia terus menjadi sorotan para pelaku pasar modal di awal tahun 2026. Fokus utama investor kini tertuju pada PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), emiten yang menavigasi tantangan pasar dengan strategi efisiensi biaya yang agresif. Meskipun pendapatan sempat terkoreksi akibat dinamika operasional, kemampuan perseroan dalam menjaga margin laba bersih di tengah fluktuasi harga komoditas global menjadi indikator ketahanan fundamental yang menarik untuk dicermati.
Langkah strategis perusahaan dalam mengatur ritme produksi dan optimalisasi rantai pasok terintegrasi menjadi fondasi kuat menghadapi ketidakpastian ekonomi. Di tahun 2026, efisiensi operasional dan dukungan kebijakan pemerintah akan menjadi variabel penentu bagi performa saham MBMA di lantai bursa.
Analisis Kinerja Keuangan dan Efisiensi Strategis
Berdasarkan laporan keuangan periode Januari – September 2025, MBMA mengantongi pendapatan US$ 934,99 juta per kuartal III – 2025, turun 32% secara year on year (yoy). Meski begitu laba bersih MBMA naik 37,05% yoy menjadi sebesar US$ 25,3 juta. Anomali antara penurunan pendapatan dan kenaikan laba ini merupakan hasil dari keputusan manajerial yang berani dalam memangkas lini produk dengan margin rendah.
Tim Riset Phintraco Sekuritas menyampaikan bahwa pendapatan MBMA yang menurun sebesar 32% yoy karena penghentian sementara produksi High-Grade Nickel Matte (HGNM) sebagai bagian dari strategi pelestarian margin perusahaan, yang mengakibatkan penurunan penjualan segmen HGNM sebesar 73% yoy menjadi US$ 144 juta. Kebijakan ini terbukti efektif dalam menyehatkan struktur biaya. “Penurunan pendapatan menyebabkan penurunan biaya pendapatan sebesar 38% yoy, sehingga mendorong EBITDA MBMA naik 22% yoy menjadi US$ 140 juta,” ujar Tim Riset Phintraco Sekuritas dalam risetnya pada 23 Desember 2025.
Stabilitas Proyeksi Kuartal I-2026 dan Tantangan Global
Memasuki tahun 2026, para analis melihat adanya tren perbaikan yang berkelanjutan. Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer memperkirakan prospek kinerja MBMA pada kuartal I – 2026 relatif stabil dengan kecenderungan membaik secara bertahap. Hal ini didukung oleh integrasi vertikal perusahaan dari tambang hingga produk hilir.
Namun, investor tetap harus mewaspadai faktor eksternal. “Tantangan utama yang dihadapi MBMA pada periode ini berasal dari volatilitas harga nikel global, penyesuaian kebijakan produksi nikel nasional, serta potensi kenaikan biaya operasional dan logistik yang bisa menekan margin dalam jangka pendek,” jelas Miftahul kepada Kontan, Kamis (29/1/2026). Selain itu, arah kebijakan kuota produksi (RKAB) dan dinamika permintaan baterai kendaraan listrik (EV) dari China menjadi sentimen yang sangat krusial.
Keunggulan Model Bisnis Terintegrasi PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM)
Kekuatan utama MBMA terletak pada penguasaan bahan baku melalui anak usahanya. Pasokan bijih yang stabil dari tambang PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM), yang menyediakan sekitar 80% bahan baku, akan menjaga produksi saprolit dan limonit dalam target masing-masing 6 juta – 7 juta dan 12,5 juta – 15 juta wet metrik ton (wmt).
Arief Machrus, Kepala Riset Ina Sekuritas, mencatat bahwa stabilitas pasokan ini memungkinkan perusahaan mempertahankan biaya tunai saprolit pada atau di bawah US$ 23,3/wmt dan limonit pada US$ 7,9/wmt. “Ke depan, pendapatan MBMA diperkirakan akan tetap didukung oleh strategi nikel hilir berbiaya rendahnya, dengan NPI tetap menjadi kontributor EBITDA utama,” ujar Arief dalam risetnya. Strategi ini sangat vital untuk mengimbangi fluktuasi harga jual rata-rata (ASP) yang masih dibayangi tren penurunan tahunan.
Mitigasi Dampak Kebijakan Kuota dan Faktor Cuaca
Terkait kebijakan kuota produksi nasional, analis menilai MBMA memiliki posisi yang relatif aman. Devi Praharsa, Equity Research Analyst OCBC Sekuritas menilai kinerja MBMA kuartal I – 2026 seharusnya aman meski pemerintah melakukan penyesuaian produksi nikel tahun 2026. Aturan yang memperbolehkan produksi hingga 25% hingga Maret 2026 bagi perusahaan yang sedang dalam proses pengajuan RKAB memberikan kepastian operasional.
Selain kebijakan, faktor alam juga menjadi variabel yang patut diperhatikan. Devi mengingatkan bahwa potensi tantangan yang dihadapi MBMA pada awal tahun adalah cuaca yang dapat mempengaruhi produksi nikel. Meski demikian, secara fundamental, kinerja awal tahun tetap diprediksi positif. “Prospek kinerja MBMA pada kuartal I – 2026 cerah, kalau dari segi fundamental, terbantu dari kenaikan harga LME nickel,” ujar Devi kepada Kontan, Kamis (29/1/2026).
Proyeksi Pertumbuhan Laba dan Rekomendasi Analis
Secara keseluruhan, tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun lompatan bagi laba bersih MBMA. Arief Machrus memproyeksikan pendapatan dan laba bersih MBMA tahun 2025 masing – masing sebesar US$ 1,49 miliar dan US$ 32,9 juta. Melompat jauh ke depan, pendapatan dan laba bersih MBMA tahun 2026 diproyeksi mencapai US$ 2,44 miliar dan US$ 140,7 juta. Sebagai pembanding, pada tahun 2024 MBMA membukukan pendapatan US$ 1,84 miliar dan laba bersih US$ 22,8 juta.
Berdasarkan optimisme tersebut, mayoritas analis memberikan pandangan positif terhadap pergerakan harga sahamnya. Arief, Tim Riset Phintraco Sekuritas, dan Devi merekomendasikan buy saham MBMA dengan target harga masing – masing Rp 760 per saham, Rp 670 per saham, dan Rp 900 per saham. Di sisi lain, Miftahul memberikan strategi yang lebih konservatif dengan rekomendasi buy on weakness pada target harga Rp 820 per saham. Miftahul menyimpulkan bahwa meskipun tren masih bullish, ketidakpastian pasar global tetap menjadi catatan bagi investor dalam mengambil keputusan.