JAKARTA - Peta komoditas energi global menunjukkan fenomena yang jarang terjadi di awal tahun 2026. Tiga kekuatan besar dunia—China, Rusia, dan Amerika Serikat—secara tidak langsung bekerja sama dalam menciptakan momentum "terbangnya" harga batu bara di pasar internasional. Kombinasi antara kebijakan domestik di Asia, ketatnya pasokan di Eropa Timur, hingga anomali cuaca ekstrem di Amerika Utara menjadi bahan bakar utama yang melambungkan harga komoditas hitam ini ke level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis ditutup di posisi US$ 111,75 per ton atau melonjak 2,5%. Penguatan ini memperpanjang tren positif harga batu bara dengan akumulasi kenaikan sebesar 2,6% hanya dalam dua hari perdagangan.
Dinamika Pasar Domestik China Menjelang Imlek
Tiongkok sebagai konsumen batu bara terbesar di dunia memberikan sinyal pemulihan harga yang signifikan. Beberapa penambang batubara termal utama di China mulai menaikkan harga jual batu bara di pasar domestik karena perubahan kondisi pasokan dan permintaan di dalam negeri. Pergerakan harga ini menunjukkan adanya tanda pertumbuhan harga batu bara termal di beberapa wilayah kunci produksi di China, menandakan sentimen pasar mulai bergerak ke arah yang lebih positif dibanding tren pelemahan sebelumnya.
Kenaikan harga ini terutama dipicu oleh perubahan relatif ketatnya pasokan dan permintaan yang stabil atau meningkat dari utilitas pembangkit listrik, sehingga mengurangi tekanan kelebihan pasokan. Meskipun aktivitas perdagangan cenderung lebih berhati-hati menjelang liburan Tahun Baru Imlek, harga di pelabuhan utara China tetap merangkak naik didukung oleh aktivitas stock-piling oleh pembangkit listrik untuk mengamankan cadangan energi selama masa libur panjang.
Loncatan Harga Kelas Premium dari Rusia
Di belahan bumi lain, Rusia juga memberikan kontribusi besar terhadap reli harga global. Fokus kenaikan terjadi pada sektor industri berat melalui batu bara kokas. Harga batu bara kokas Rusia mengalami kenaikan pada minggu-minggu pertama 2026, dengan peningkatan berkisar antara 4,5% hingga 12% dari awal Januari hingga pertengahan bulan, tergantung pada basis pengiriman.
Tren kenaikan ini terlihat paling jelas pada produk kelas premium, yang didorong oleh semakin ketatnya kondisi pasokan global serta permintaan yang stabil dari pembeli utama di Asia. Kondisi pasokan global yang terbatas membuat produk Rusia menjadi incaran, meskipun tantangan logistik di wilayah tersebut masih menjadi variabel yang diwaspadai pasar.
Badai Fern dan Lonjakan Konsumsi Energi di Amerika Serikat
Faktor yang paling mengejutkan datang dari Amerika Serikat, di mana cuaca ekstrem memaksa operator jaringan listrik untuk kembali bergantung sepenuhnya pada bahan bakar fosil. Selama terjangan Badai Musim Dingin Fern, penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara khususnya melonjak 31% pada pekan lalu. Fenomena ini membuktikan bahwa di tengah agenda transisi energi, batu bara masih menjadi benteng utama dalam menghadapi situasi darurat.
Badai Fern membawa salju, es, dan suhu arktik ke wilayah luas di AS, mulai dari Texas hingga New England. Menurut data U.S. Energy Information Administration (EIA), pembangkitan listrik dari batu bara meningkat tajam pada paruh kedua Januari, dari titik terendah sekitar 70 GWh per hari di pertengahan bulan menjadi sekitar 130 GWh per hari. Lonjakan ini terjadi saat output dari tenaga surya, angin, dan air justru menurun akibat kondisi cuaca yang buruk.
Intervensi Darurat Departemen Energi AS
Kritisnya kondisi jaringan listrik di Amerika Serikat memaksa pemerintah turun tangan. Departemen Energi AS (DOE) pada Sabtu dan Minggu mengeluarkan perintah darurat untuk menjaga beberapa sumber pembangkit tetap beroperasi selama Badai Musim Dingin Fern. Hal ini dilakukan karena operator jaringan listrik harus memastikan ketersediaan pasokan saat permintaan melonjak atau output dari sumber pembangkit lain menurun—pola yang sebelumnya juga terlihat pada gelombang dingin ekstrem pada Februari 2021 dan Januari 2025.
Bahkan, pengecualian tambahan Pasal 202(c) dikeluarkan pada Senin seiring suhu dingin yang bertahan dan prospek cuaca yang semakin arktik. ISO New England, PJM Interconnection, dan New York ISO mendapatkan otorisasi khusus untuk tetap mengoperasikan pembangkit mereka guna menghindari pemadaman massal di tengah suhu yang membeku.
Proyeksi Ketatnya Margin Energi Global
Meski harga telah melonjak, tantangan ke depan masih cukup berat. Operator jaringan listrik New England menyatakan bahwa mereka memperkirakan kondisi operasi akan terus mengetat dalam beberapa hari ke depan. Prakiraan 21 hari terbaru menunjukkan margin energi yang sempit dari Jumat, 30 Januari, hingga Minggu, 1 Februari. Walaupun kawasan tersebut diperkirakan masih dapat memenuhi permintaan konsumen, cuaca dingin yang berkepanjangan telah memicu lonjakan permintaan puncak dan konsumsi energi total yang sangat tinggi.
Fenomena "kompaknya" China, Rusia, dan AS dalam menaikkan harga batu bara ini memberikan gambaran bahwa ketergantungan dunia terhadap energi fosil masih sangat kuat, terutama saat berhadapan dengan anomali iklim dan kebutuhan stok jangka pendek menjelang hari raya besar. Investor dan pelaku industri kini menanti apakah level US$ 111 per ton ini akan menjadi titik tolak baru atau sekadar fluktuasi sementara akibat cuaca musim dingin.