Kisah ASN Jatim Nikmati WFH Tiap Rabu Sambil Pantau Ayah yang Sakit

Ilustrasi Seorang Wanita saat melakukan kegiatan di kantornya (Sumber: NET)
Senin, 11 Mei 2026 | 11:54:35 WIB

SURABAYA - Kebijakan work from home (WFH) yang diterapkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur sejak April 2026 menghadirkan pengalaman baru bagi ribuan aparatur sipil negara (ASN).

Setiap Rabu, sebagian pegawai kini bekerja dari rumah sebagai bagian dari upaya efisiensi energi dan penghematan bahan bakar di tengah situasi global yang belum stabil.

Bagi sebagian pegawai, kebijakan ini bukan sekadar bekerja dari rumah.

Ada perubahan ritme hidup, pekerjaan domestik yang hadir di sela jam kerja, hingga kesempatan lebih dekat dengan keluarga.

Salah satunya dirasakan Dewi Ariyanti, pegawai Dinas Pendidikan Pemprov Jatim yang sudah lebih dari satu bulan menjalani pola kerja hybrid tersebut.

Menurut Dewi, bekerja dari rumah tetap memungkinkan pekerjaan berjalan efektif karena berbagai tugas kantor kini dapat dilakukan secara digital.

“Ya setiap Rabu. Sebenarnya kalau berbicara efektif atau tidak ya. Efektif di kantor cuma kalau kerja dari rumah bisa dibilang istilahnya bisa efektif juga tapi kadang ke-distract sebentar sama pekerjaan rumah,” ujar Dewi kepada Kompas.com.

“Sama-sama efektifnya kerja bisa melalui aplikasi, kerja tinggal kirim email atau PDF,” imbuhnya.

Namun, di balik fleksibilitas itu, ia mengaku fokus kerja kerap terbagi dengan urusan rumah tangga yang biasanya tidak muncul saat bekerja di kantor.

“Ya kan kalau di kantor bisa fokus dengan kerjaan kantor nah kalau di rumah kan misal kelihatan ada yang belum diberesin jadi break dulu beresin, ada piring kotor yang biasanya dikerjakan saat sore hari dicuci dulu,” kata Dewi sambil tertawa.

“Terus lihat cucian numpuk ya nyempatkan untuk masukkan ke mesin cuci ditunggu sambil ngerjain kerjaan kantor,” sambungnya.

Menurut dia, suasana WFH terasa lebih santai karena bisa mengerjakan banyak hal sekaligus.

Meski demikian, fokus kerja memang tidak sepenuhnya sama seperti saat berada di kantor.

“Jadi kayak gitu, lebih enak sih sambil nyambi-nyambi tapi enggak fokus juga,” katanya.

Pemprov Jawa Timur menetapkan hari Rabu sebagai jadwal WFH ASN.

Kebijakan itu berlaku mulai 1 April hingga 1 Juni 2026 untuk sekitar 81.700 ASN di lingkungan Pemprov Jatim.

“Menurutku kalau di hari Jumat malah enggak enak, kelamaan libur kayaknya semakin tidak produktif kalau libur kepanjangan. Lumayan enak sih di hari Rabu,” ujar Dewi.

Ia mengatakan, perbedaan paling terasa saat WFH adalah ritme pagi hari yang menjadi lebih santai dibanding ketika harus berangkat ke kantor.

“Selama WFH bedanya sama WFO saat masak pagi hari untuk orang-orang di rumah. Kalau masuk kantor harus ngebut jadi jam 6 sudah harus selesai karena prepare untuk ke kantor,” ujarnya.

“Nah kalau ada WFH kali ini agak molor. Gitu aja sih perbedaannya jadi tidak ada perubahan signifikan,” sambungnya.

Di balik segala tantangan WFH, Dewi mengaku bersyukur karena kini memiliki lebih banyak waktu memantau kondisi ayahnya yang sedang sakit.

“Bisa ngontrol seharian sekarang tiap Rabu, bisa merawat langsung, bisa makan bersama, lihat minum obatnya tepat waktu,” ujar dia.

Meski mulai terbiasa bekerja dari rumah, Dewi tetap menilai suasana kerja di kantor memiliki nilai berbeda dibanding bekerja daring.

Menurut dia, interaksi langsung antarkaryawan tetap penting untuk membangun sinergi kerja.

“Kalau pandemi dulu kan sulit banget untuk komunikasi semuanya menggunakan via Zoom dan harus ready on jam berapa-berapa, apalagi dengan jangka waktu yang lama kan boring banget ya,” tutur perempuan berusia 40 tahun itu.

“Kalau saat ini cuma sehari, ada meeting juga sehari sekali. Kalau waktu pandemi sehari bisa sampai berkali-kali,” sambungnya.

Dewi mengatakan, pelayanan publik di lingkungan Pemprov Jatim tetap berjalan normal meski ada kebijakan WFH.

Pegawai yang berkaitan langsung dengan pelayanan tetap masuk kantor secara bergiliran.

“Jadi tidak semua orang tidak masuk, ada satu-dua orang bergiliran setiap minggunya. Kalau di kantor saya hanya ada kepala kantor dan kepala bidang saja yang di kantor. Untuk staf tidak ada, itu kebijakan dari bidang masing-masing,” ujar perempuan asal Bojonegoro yang kini menetap di Surabaya itu.

Ia berharap kebijakan efisiensi tersebut benar-benar memberi dampak positif tanpa mengurangi produktivitas ASN.

“Kalau ini berimbas pada efisiensi dan lain sebagainya atau kebijakan lain yang bisa efisien di kantor. Menjalankan seperti ini beda vibes-nya kerja di rumah dan kantor,” kata Dewi.

“Sama-sama produktifnya tapi kan mungkin ada yang butuh ketemu untuk merealisasikan ini. Di waktu WFH semuanya juga sebenarnya bisa komunikasi melalui WA atau yang lain,” pungkasnya.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati