Hindari Bahaya Setrum, Petani Blora Gunakan Alat Tradisional Bleng-Blengan
BLORA - Suara dentuman keras yang terdengar dari kawasan persawahan di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada malam hari ternyata bukan berasal dari petasan.
Bunyi tersebut bersumber dari alat tradisional bernama bleng-blengan yang masih diandalkan sejumlah petani untuk menghalau hama tikus.
Di tengah tren penggunaan jebakan modern maupun setrum listrik, sebagian petani di wilayah tersebut memilih mempertahankan metode tradisional yang lebih aman dan terjangkau.
Alat ini biasanya dioperasikan pada malam hari ketika tikus mulai keluar menyerang tanaman.
Bleng-blengan menghasilkan suara ledakan kecil secara rutin yang diyakini efektif membuat tikus menjauh dari lahan pertanian.
Salah satu petani yang setia menggunakan alat ini adalah Rofiq, warga Kecamatan Todanan, yang juga berprofesi sebagai guru sekolah dasar.
Rofiq mengungkapkan bahwa perangkat tersebut dirakit sendiri memakai bahan-bahan sederhana yang tersedia di lingkungan rumah.
"Bleng-blengan rakitan dewe (Bleng-blengan rakitan sendiri)," kata Rofiq kepada Liputan6.com, Senin 11 Mei 2026.
Menurut pengakuan Rofiq, penggunaan alat tradisional tersebut sangat membantu para petani dalam menekan serangan tikus yang meresahkan.
"Nggurak tikus (Mengusir tikus)," ujarnya singkat saat ditanya mengenai fungsi dari alat tersebut.
Ia memaparkan bahwa bleng-blengan disusun dari kaleng susu bekas serta platina kompor gas dengan bahan bakar berupa spiritus.
"Kaleng susu karo platina kompor gas, bahan bakare pirtus (Kaleng susu dan platina kompor gas, bahan bakarnya spiritus)," ucap Rofiq.
Mekanisme kerjanya tergolong simpel karena api dari spiritus memicu tekanan di dalam tabung hingga muncul suara dentuman keras.
Penggunaan bleng-blengan bukan merupakan hal baru bagi warga desa di Blora karena sudah dipraktikkan sejak lama untuk menghalau hama.
Selain hemat biaya, alat ini dinilai jauh lebih aman dibandingkan jebakan beraliran listrik yang sering kali memakan korban jiwa di kalangan petani.
Warga lainnya bernama Sulis menilai bahwa metode bleng-blengan adalah pilihan yang jauh lebih bijak daripada penggunaan setrum yang membahayakan nyawa manusia.
"Alat tradisional bleng-blengan lebih aman, dan kalau bisa jangan pakai setrum listrik," kata Sulis.
Sulis menyebutkan bahwa kasus petani yang meninggal dunia akibat tersengat listrik dari jebakan tikus sudah berulang kali terjadi di Kabupaten Blora.
"Belajar dari kasus-kasus di Blora, setiap tahun selalu ada petani yang tewas gara-gara jebakan tikus pakai setrum listrik," ucap Sulis.
Kerapnya insiden maut tersebut mendorong para petani untuk beralih ke cara-cara yang lebih aman meskipun sifatnya masih sangat tradisional.
Bleng-blengan juga dianggap lebih ramah lingkungan karena tidak melibatkan penggunaan racun kimia berbahaya maupun arus listrik tegangan tinggi.
Walaupun demikian, petani tetap dihimbau untuk waspada saat mengoperasikan alat ini karena melibatkan penggunaan api dan bahan bakar mudah terbakar.
Keberadaan alat ini di tengah kemajuan teknologi menunjukkan bahwa sebagian petani tetap memegang teguh cara sederhana demi melindungi lahan mereka.
Bagi para penggarap sawah, dentuman keras tersebut merupakan bagian dari upaya keras mereka dalam memastikan hasil panen tetap aman dari serangan tikus.