Dedi Mulyadi Luncurkan Sekolah Maung Jabar pada Tahun Ajaran Baru
BANDUNG - Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan program Sekolah Manusia Unggul (Maung) akan mulai diterapkan pada tahun ajaran 2026/2027.
Program ini disiapkan sebagai upaya menghadirkan layanan pendidikan yang lebih spesifik sesuai potensi siswa, baik di bidang akademik maupun non-akademik.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan bahwa saat ini telah disiapkan puluhan sekolah untuk menjadi bagian dari program tersebut.
Tercatat sebanyak 28 SMA Negeri dan 13 SMK Negeri di berbagai daerah di Jawa Barat akan bertransformasi menjadi Sekolah Maung.
Menurut Dedi, program ini akan mulai berjalan pada tahun ajaran 2026/2027 dengan sistem penerimaan murid baru yang menitikberatkan pada jalur prestasi.
“Prestasi itu ada dua loh, prestasi akademik dan non-akademik. Artinya dia olahragawan, seniman, ya boleh dong di sekolah Maung,” ujar Dedi, Senin (11/5/2026).
Dedi menjelaskan bahwa secara umum proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) akan tetap mengikuti mekanisme yang berlaku di sekolah lain.
Namun, terdapat perbedaan pada aspek zonasi.
Ia menyebutkan bahwa kebijakan zonasi untuk Sekolah Maung masih dalam tahap konsultasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
“Nanti zonasinya lagi dikonsulkan dengan kementerian, tapi saya ngomong dengan Pak Wamen kelihatannya menyetujui. Tinggal nanti besarannya kami hitung,” katanya.
Fokus utama penerimaan siswa di Sekolah Maung akan bertumpu pada prestasi, baik akademik maupun non-akademik, seperti olahraga dan seni.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga tengah mempertimbangkan dampak kebijakan ini terhadap sekolah swasta di sekitar lokasi Sekolah Maung.
Dedi mengungkapkan bahwa pihaknya sedang melakukan pendataan untuk memastikan akses pendidikan tetap terjaga.
“Kami lagi menghitung sekolah swasta yang ada di sekitar sekolah Maung, agar warga yang terdampak zonasi bisa sekolah swasta gratis,” ucapnya.
Langkah ini diharapkan dapat menjaga pemerataan akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu petunjuk teknis (juknis) resmi terkait pelaksanaan SPMB Sekolah Maung.
Ia mengatakan bahwa rencana pelaksanaan SPMB akan dimulai pada akhir Mei 2026, namun hingga kini masih menunggu surat keputusan gubernur.
"Kami masih menunggu SK dari Pak Gubernur untuk juknisnya. Saya belum bisa menyampaikan teknisnya seperti apa, karena Pak Gubernur belum menandatanganinya," ujar Purwanto.
Menurutnya, Sekolah Maung memiliki perbedaan mendasar dengan sekolah reguler, terutama dalam sistem seleksi siswa yang lebih menekankan pada prestasi.
"Ya, jadi Sekolah Maung ini fokus jalur prestasi akademik dan non-akademik. Itu yang di Purwakarta, kalau yang existing bertransformasi dari jurusan yang ada," katanya.
Terkait kekhawatiran adanya kesenjangan kualitas pendidikan, Purwanto menegaskan bahwa layanan pendidikan di sekolah reguler tetap berjalan sesuai standar nasional.
Ia menekankan bahwa Sekolah Maung bukan untuk menciptakan disparitas, melainkan memberikan alternatif pendidikan yang lebih sesuai dengan bakat dan minat siswa.
"Layanan pendidikan tetap sama, sekolah lain dengan model SPMB reguler. Kami hanya ingin memberikan layanan yang khusus sesuai dengan potensi mereka di sekolah-sekolah tertentu," ucapnya.