Produksi Massal Baterai Ion Natrium Dimulai, Mobil Listrik Bisa Murah

Baterai Ion Natrium Mulai Diproduksi Massal. (Sumber: NET)
Jumat, 15 Mei 2026 | 09:30:43 WIB

JAKARTA - Baterai ion natrium yang selama ini hanya menjadi subjek penelitian di laboratorium kini telah memasuki tahap komersialisasi yang lebih cepat dari perkiraan dan resmi dimulai.

Mengutip dari ArenaEV, perusahaan baterai bernama Pret mengonfirmasi bahwa produksi massal untuk berbagai produk ion natrium miliknya sudah dijalankan.

Saat ini, baterai ion natrium dimanfaatkan sebagai penyimpanan energi, daya cadangan, sistem start-stop pada kendaraan, hingga kendaraan khusus.

Seiring meningkatnya permintaan, perusahaan tersebut telah menanamkan investasi pada lini produksi baru berkapasitas 2 GWh yang dijadwalkan beroperasi menjelang akhir tahun ini.

Di sisi lain, CATL juga telah menjalin kesepakatan pasokan selama tiga tahun dengan HyperStrong yang mencakup penyediaan 60 GWh baterai ion natrium.

Anak usaha CATL, Fuding Times, turut mengumumkan proyek ekspansi baterai baru senilai US$ 735 juta guna menambah kapasitas total sebesar 40 GWh.

Meski pada fase ini kinerjanya belum mampu menandingi baterai lithium iron phosphate (LFP), namun biaya pembuatan baterai ion natrium jauh lebih ekonomis.

Selain itu, material dasar yang diperlukan lebih mudah diperoleh dibandingkan lithium serta tidak terpengaruh oleh volatilitas harga yang tinggi.

Hal tersebut menjadikan sel ion natrium sebagai solusi ideal bagi kendaraan listrik berukuran kecil yang lebih terjangkau bagi konsumen.

Kepastian harga bahan baku memudahkan perusahaan dalam merencanakan serta mengoptimalkan biaya produksi untuk kendaraan kompak yang hemat biaya.

Baterai LFP diprediksi tetap menjadi pilihan utama bagi kendaraan kelas atas dan besar karena memiliki kepadatan energi yang lebih unggul.

Kendati demikian, para analis meyakini bahwa kehadiran baterai ion natrium akan memberikan perubahan besar pada segmen kendaraan listrik berbiaya rendah.

Penggunaan baterai ini memungkinkan stabilitas biaya produksi, fleksibilitas harga yang lebih baik, serta membuka peluang keuntungan lebih tinggi pada segmen tersebut.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati