Penataan Trotoar Cicadas: Dedi Mulyadi Tawari Kerja PKL

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi (KDM). (Sumber: NET)
Rabu, 20 Mei 2026 | 04:51:01 WIB

BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menawarkan pekerjaan sebagai petugas penyapu jalan kepada salah satu pedagang kaki lima (PKL) di daerah Cicadas, Kota Bandung, setelah tempat usahanya dibongkar.

Tawaran pekerjaan itu diberikan kepada Hartoyo atau Abah Hartoyo, seorang pedagang yang sudah menjual kopi, rokok, minuman ringan, dan gorengan di sekitar Pasar Cicadas selama 23 tahun.

Dedi memberikan tawaran pekerjaan baru tersebut setelah kegiatan sterilisasi dan penertiban PKL dilakukan di sepanjang trotoar wilayah Cicadas.

Menurut pandangan Dedi, pilihan pekerjaan sebagai petugas kebersihan lapangan bisa menjadi solusi atau alternatif terbaik bagi para pedagang yang lapak berjualannya sudah dirobohkan.

"Kan ieu (kios) dibongkar. Bapak jadi petugas kebersihan di dieu (di sini). Si pedagang di sini berubah asalnya dagang rokok dapat Rp 40 ribu, jadi tukang sapu dapat Rp 130 ribu. Kota jadi bersih, rakyat dapat kerja," ujar Dedi Mulyadi.

Hartoyo langsung menyambut baik tawaran pekerjaan yang diberikan oleh pemimpin Jawa Barat tersebut tanpa ragu-ragu.

"Mau Pak, Siap," ujar Hartoyo.

Selain memberikan alternatif pekerjaan baru, Dedi juga terlihat memberikan sejumlah uang kompensasi tunai kepada Hartoyo.

Sebelumnya, fasilitas trotoar di sepanjang kawasan Cicadas dilaporkan selalu dipadati oleh deretan lapak PKL selama bertahun-tahun.

Tepat pada Senin (18/5/2026), puluhan bangunan kios PKL ditertibkan oleh petugas gabungan dari Satpol PP Jawa Barat, Satpol PP Kota Bandung, serta aparat kewilayahan setempat.

Kegiatan pembersihan ruang publik itu dipimpin langsung oleh Dedi Mulyadi.

Satu hari setelah operasi penertiban tersebut, yaitu pada Rabu (19/5/2026), beberapa pedagang kaki lima lainnya di sekitar kawasan Cicadas Market berinisiatif meruntuhkan kios dagang mereka sendiri.

Setelah kegiatan penertiban berjalan, bentangan trotoar di sepanjang jalur itu kini terlihat jauh lebih rapi dan sudah bisa digunakan kembali oleh para pejalan kaki.

Deretan bangunan toko permanen yang sebelumnya tertutup rapat oleh lapak PKL kini mulai terlihat kembali dengan jelas dari arah jalan raya.

Kehadiran kelompok PKL di area trotoar Cicadas dilaporkan sudah memadati kawasan pejalan kaki tersebut sejak puluhan tahun yang lalu.

Jumlah pedagang semakin melonjak drastis setelah terjadinya krisis moneter pada periode tahun 1997.

Sejak momen sejarah itu, hampir seluruh area trotoar di sepanjang kawasan Cicadas menjadi sesak oleh keberadaan tempat berjualan para pedagang.

Kondisi tersebut berdampak pada citra kawasan Cicadas yang selalu terkesan padat, kumuh, dan semrawut.

Para pelaku usaha di sana menjual bermacam-macam barang dagangan, mulai dari makanan hingga mainan anak-anak.

Pada masa kepemimpinan Wali Kota Bandung Oded M Danial, kelompok PKL di kawasan tersebut sebenarnya sempat diberikan fasilitas tempat berjualan khusus yang dibuat berbentuk kubus.

Fasilitas lapak semi permanen itu didirikan berjejer mulai dari area Gang Tekstil hingga menyentuh kawasan pertigaan Jalan Cikutra.

Namun, keberadaan lapak-lapak tersebut ternyata tidak langsung membuat tata ruang kawasan menjadi lebih teratur.

Sebaliknya, wajah wilayah Cicadas dinilai semakin tertutup dan terkesan kumuh karena keberadaan deretan toko di sepanjang jalan menjadi terhalang oleh struktur lapak PKL.

Penerapan kebijakan penataan serupa kemudian dilanjutkan pada masa kepemimpinan Wali Kota Bandung Yana Mulyana.

Fasilitas lapak berbentuk kubus tersebut tetap dipertahankan keberadaannya sehingga membuat beberapa toko di area Cicadas semakin sulit dilihat oleh calon pembeli.

Keberadaan struktur lapak PKL yang menutupi area depan toko pada akhirnya memberikan dampak negatif bagi kelancaran bisnis beberapa pemilik toko permanen.

Satu per satu pelaku usaha toko di sepanjang Cicadas terpaksa gulung tikar karena tidak bisa lagi menjalankan aktivitas perdagangan secara normal.

Para pelanggan juga dikabarkan semakin enggan datang berbelanja karena akses masuk serta tampilan fisik toko yang terhalang oleh lapak pedagang.

Padahal, pada masa lalu, wilayah Cicadas sangat terkenal sebagai pusat dari beberapa toko legendaris.

Beberapa di antaranya meliputi Toko Hen yang berada di sekitar Gang Tekstil, Toko Hajar penyedia buku di dekat Pasar Jembar, Toko King sebagai penjual alat tulis, Toko Setia Kawan sebagai penyedia alat listrik, serta Toko Timur yang berada di dekat Gang Asep Berlian.

Kini, pelaksanaan sterilisasi PKL di kawasan tersebut dijadikan sebagai bagian dari keseriusan pemerintah dalam menata ulang prasarana trotoar agar kembali pada fungsi asalnya untuk pejalan kaki.

Dedi memperhitungkan, kegiatan penataan ruang ini bukan hanya bertujuan untuk menciptakan pemandangan kota yang lebih bersih, tetapi juga ikut membuka peluang penyerapan lapangan kerja baru bagi warga masyarakat yang terdampak.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati