Di Forum Global, Prof Rina Ungkap Strategi Kesehatan Ibu di RI

Senior Neonatal Consultant dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Prof. Rinawati Rohsiswatmo. (Sumber: NET)
Kamis, 21 Mei 2026 | 13:28:52 WIB

JAKARTA - Konsultan Senior Neonatal dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Prof. Rinawati Rohsiswatmo mengutarakan dalam sebuah forum dunia bahwa Indonesia mengandalkan kekuatan dari komunitas serta pelayanan primer yang berkelanjutan demi memelihara kesehatan ibu.

“Kesinambungan program dari rumah sakit sampai masyarakat menjadi kunci. Setiap daerah memiliki tantangan inequity yang berbeda sehingga pendekatan harus kontekstual,” kata Prof Rina dalam forum internasional yang digelar Business Council for International Understanding (BCIU) di sela-sela pertemuan tahunan World Health Assembly ke-79 di Geneva, Swiss.

Melalui penjelasan yang telah diverifikasi di Jakarta, Kamis, Prof Rina memaparkan rekam jejak Indonesia dalam merancang jaringan maternal-neonatal yang bertumpu pada basis komunitas mempunyai keterkaitan global, mulai dari posyandu, puskesmas, sampai unit rumah sakit rujukan.

Aspek itu memperlihatkan langkah nyata penyediaan akses pelayanan kesehatan yang berkesinambungan di tengah kendala bentang alam geografis serta kesenjangan sosial.

Berdasarkan penilaiannya, kesehatan bagi kaum ibu tidak semata-mata diwujudkan melalui kecanggihan aspek teknologi serta keberadaan gedung rumah sakit berskala besar.

Keberhasilan kesehatan ibu tidak hanya diukur dari jumlah fasilitas kesehatan, katanya, tetapi dari kemampuan sistem menjaga kesinambungan pelayanan sejak deteksi dini di komunitas, proses rujukan, hingga layanan neonatal di rumah sakit.

Ia berpandangan bahwa argumentasi tersebut selaras dengan kiblat baru dalam perbincangan kesehatan dunia yang mulai beralih dari pola pendekatan yang berpusat pada rumah sakit (hospital-centered) menuju ke arah pelayanan kesehatan yang berbasis komunitas (community-centered healthcare).

Menurut pandangannya, keikutsertaan Indonesia pada ajang pertemuan ini menunjukkan bahwa rekam jejak yang dimiliki oleh negara berkembang kini kedudukannya kian krusial dalam ruang diskusi kesehatan dunia.

Negara-negara berkembang seperti Indonesia, sambung dia, dipandang mempunyai rekam jejak yang konkret dalam menjumpai kerumitan kesenjangan, keterbatasan ketersediaan sumber daya, serta kendala untuk menjangkau akses kesehatan di tengah publik.

Di dalam forum yang mengusung tema “Measuring What Matters, Doing What Works: PHC & Community Entry Points to Accelerate Maternal Health” tersebut, dikaji secara mendalam mengenai bermacam hambatan yang memicu masih tingginya angka mortalitas atau kematian pada ibu dan bayi di berbagai belahan negara berkembang, kendati alokasi investasi kesehatan dunia terus merangkak naik dalam kurun waktu puluhan tahun terakhir.

 

Reporter: Ganis Akjul Karyawati