Bareskrim dan PLN Selidiki Putusnya SUTET Pemicu Blackout Sumatera

Polda Jambi, Bareskrim dan PLN Investigasi Penyebab Blackout Massal di Sumatera.(Sumber:NET)
Senin, 25 Mei 2026 | 14:52:15 WIB

JAKARTA - Insiden pemadaman listrik secara massal yang menerpa beberapa daerah di Pulau Sumatera pada Jumat (22/5/2026) malam, tidak hanya menghambat rutinitas masyarakat, melainkan juga memperoleh atensi dari aparat penegak hukum.

Menyusul peristiwa "blackout" di sejumlah provinsi tersebut, Bareskrim Polri segera turun tangan demi mengusut faktor gangguan pada sistem kelistrikan itu.

Laporan pemadaman listrik mulai mencuat sekitar pukul 18.44 WIB di beberapa wilayah Provinsi Riau.

Pada waktu yang hampir bersamaan, kendala sejenis juga menerpa daerah lain di Sumatera, termasuk Sumatera Utara, Aceh, Jambi, Sumatera Barat, Lampung, hingga sebagian Sumatera Selatan.

Padamnya aliran listrik secara meluas ini mengakibatkan rutinitas masyarakat terganggu.

Beberapa kawasan bahkan sempat lumpuh total lantaran pasokan daya listrik terhenti.

Kejadian yang terpusat ini pun memicu pertanyaan di tengah publik perihal penyebab utamanya.

Pada awalnya, PT PLN (Persero) memberikan rincian bahwa gangguan bersumber dari sistem transmisi serta pembangkitan listrik pada jaringan Sumatera.

“Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Info sementara pukul 18.44 WIB sistem Sumatera Bagian Utara-Sumatera Bagian Tengah terpisah dan Sumatera Bagian Utara padam total,” demikian pernyataan PLN, dikutip dari Antara.

Pihak PLN memaparkan bahwa sistem kelistrikan di Sumatera Bagian Utara dan Sumatera Bagian Tengah mendapati pemisahan jaringan atau split system.

Keadaan inilah yang mengganggu distribusi daya listrik dan memicu pemadaman di bermacam daerah.

Bareskrim Polri telah memulai proses penyelidikan demi memastikan faktor primer blackout tersebut.

Personel dari Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Bareskrim Polri langsung dikerahkan ke lokasi putusnya sambungan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 175-176 di Desa Tempino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muara Jambi, Jambi.

Direktur Tipidter Bareskrim Polri Brigjen Moh Irhamni menyampaikan bahwa proses pengecekan lapangan ini dikerjakan bersama Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Polri serta pihak PLN.

“Tim Direktorat Tipidter Bareskrim Polri didampingi oleh Puslabfor Bareskrim Polri dan PLN melakukan pengecekan lokasi pada Minggu, 24 Mei 2026," kata Irhamni, dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).

Lewat pemeriksaan awal di tempat kejadian, petugas mengamankan barang bukti berupa komponen konduktor yang terputus.

Bahan material tersebut berikutnya dibawa ke Puslabfor Bareskrim dan pihak Litbang PLN untuk diteliti secara lebih mendalam.

Kendati proses penyelidikan masih berjalan, aparat kepolisian hingga kini belum mendapati petunjuk yang mengarah pada unsur sabotase atau kesengajaan manusia di balik peristiwa ini.

“Sejauh ini belum ditemukan indikasi kesengajaan manusia dalam putusnya konduktor itu,” ujar dia.

Pihak PLN memaparkan indikasi awal bahwa blackout dipicu oleh kendala yang terjadi pada jalur transmisi 275 kilovolt (kV) yang menghubungkan Muara Bungo dan Sungai Rumbai di Jambi.

Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyebutkan, faktor cuaca buruk ditengarai menjadi pemicu awal runtuhnya sistem kelistrikan Sumatera.

“Ini sebagai indikasi awal, ada ruas transmisi 275 kV antara Muara Bungo and Sungai Rumbai di Jambi yang indikasi awalnya karena gangguan cuaca," ujar Darmawan, dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Darmawan menjabarkan, kendala pada jalur transmisi tersebut mengakibatkan sebagian sistem terlepas dari jaringan kelistrikan utama Sumatera.

Kondisi ini kemudian mengganggu keseimbangan antara pasokan daya dan beban listrik.

Dampaknya, sejumlah pembangkit menderita kelebihan pasokan listrik atau oversupply lantaran aliran dayanya terputus secara mendadak.

Masalah tersebut memicu lonjakan frekuensi serta tegangan listrik hingga mengaktifkan sistem proteksi otomatis.

“Pembangkitnya langsung secara otomatis keluar dari sistem, atau dalam istilah publik pembangkitnya otomatis padam,” kata Darmawan.

Sebaliknya, kawasan yang kehilangan pasokan dari pembangkit justru menderita defisit daya yang parah.

Hal ini membuat frekuensi dan voltase merosot tajam hingga memaksa pembangkit lain ikut terlepas dari sistem.

Menurut penjelasan PLN, situasi tersebut memicu dampak beruntun yang menyebar luas ke berbagai area di Sumatera.

“Gangguan pada ruas transmisi berdampak meluas pada sebagian sistem transmisi Sumatera, mengakibatkan penurunan frekuensi akibat beban berat pembangkit dan memicu efek domino gangguan di sejumlah wilayah," papar Darmawan.

Akibat hambatan sistemik ini, pasokan listrik di wilayah Jambi, Riau, Sumatera Utara, hingga Aceh mendapati dampak yang sangat signifikan.

Sebagian wilayah di Sumatera Barat, Lampung, serta Sumatera Selatan juga turut merasakan pemadaman.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati