Pendapatan MRT Jakarta Tembus Rp1,5 Triliun Sepanjang Tahun 2025

Penumpang berjalan setelah turun dari MRT Jakarta di Stasiun Bundaran HI, Jakarta. (Sumber: NET)
Kamis, 04 Juni 2026 | 11:33:58 WIB

JAKARTA - PT MRT Jakarta mencatatkan perolehan pendapatan menyentuh Rp1,5 triliun di sepanjang tahun 2025 atau mengalami kenaikan kisaran tujuh persen bila disandingkan dengan tahun terdahulu.

"Pendapatan pada 2025 mencapai Rp1,5 triliun dengan pertumbuhan sekitar tujuh persen dibandingkan tahun sebelumnya," kata Direktur Keuangan dan Manajemen PT MRT Jakarta (Perseroda) Risa Olivia saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Ia menyebutkan bahwa kenaikan perolehan tersebut dipicu oleh pertambahan jumlah penumpang serta sumbangsih dari sektor bisnis non-tiket.

Menurut dia, keuntungan dari sektor tiket atau farebox terus memperlihatkan grafik yang baik lewat kenaikan tahunan yang berbobot semenjak tahun 2021.

Secara menyeluruh, pemasukan MRT Jakarta naik lewat tingkatan kenaikan tahunan rata-rata suatu investasi atau tolok ukur bisnis sepanjang rentang waktu tertentu atau compound annual growth rate (CAGR) menyentuh 2,3 persen di kurun waktu 2021-2025.

Kenaikan itu disokong oleh perluasan asal pemasukan korporasi yang bersumber dari tiket (farebox), subsidi dari pihak pemerintah, serta pemasukan non-farebox.

Di samping itu, sumbangsih pemasukan farebox membukukan CAGR positif menyentuh 50,4 persen sepanjang rentang waktu itu.

Hasil ini memperlihatkan kian meningkatnya gairah masyarakat dalam memakai moda transportasi umum, terkhusus MRT Jakarta.

"Semakin banyak yang menggunakan MRT, nantinya pendapatan tiket bisa semakin meningkat," ujar Risa.

Di sudut lain, sokongan dari pihak pemerintah lewat pola subsidi masih menjadi salah satu bagian krusial dalam mengawal kinerja korporasi sekaligus meyakinkan pelayanan transportasi umum tetap bergulir lewat mutu yang tinggi serta harga yang ekonomis bagi publik.

Risa memaparkan kecakapan korporasi dalam mengawal kinerja operasional berkaca dari alat ukur keuangan yang menghitung laba operasional sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) margin yang berada di rentang 35 sampai 51 persen sepanjang beberapa tahun belakangan.

"Kinerja operasional perusahaan relatif terjaga dan cukup stabil dalam jangka panjang," tutur Risa.

Bukan hanya itu, jumlah aset milik MRT Jakarta hingga tahun 2025 sudah menyentuh kisaran Rp32 triliun, yang mana sebagian besar bersumber dari pengerjaan infrastruktur transportasi, layaknya perlintasan serta stasiun MRT.

Ia membeberkan kiblat kenaikan jangka panjang korporasi masih aman, berkaca dari pola pemasukan yang terus menanjak serta kecakapan MRT Jakarta mempertahankan margin EBITDA di atas angka 35 persen walau menjumpai bermacam kendala dari luar.

Sementara itu, Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta Farchad Mahfud menuturkan korporasi terus memperkokoh asal pemasukan non-farebox lewat pengelolaan kawasan transit.

Salah satunya, dijalankan lewat pengelolaan kawasan Blok M Hub yang kini menampung kisaran 375 tenant.

"Kami terus mengoptimalkan area komersial dan pengembangan kawasan transit untuk memperkuat pendapatan non-tiket," ungkap Farchad.

MRT Jakarta menaruh harapan agar perluasan pemasukan itu mampu memangkas ketergantungan korporasi terhadap dana subsidi sekaligus menyokong keberlangsungan operasional jangka panjang.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati