Peluru Nyasar di UNP Padang, TNI Bentuk Tim Investigasi Khusus

Dua mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) dilaporkan mengalami luka-luka akibat diduga terkena peluru nyasar di kawasan depan Rektorat UNP. (Sumber: NET)
Kamis, 04 Juni 2026 | 14:41:57 WIB

PADANG - Sebanyak dua orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat diduga kuat terkena hantaman peluru nyasar di area depan gedung Rektorat Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatera Barat, pada hari Selasa (2/6/2026) sore hari.

Peristiwa menegangkan tersebut berlangsung di kawasan Jalan Prof Dr Hamka, Kelurahan Air Tawar Barat, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, bertepatan sekitar pukul 17.00 WIB.

Dua orang yang menjadi korban dalam insiden tersebut yakni Nova Wirantika (25), seorang mahasiswi dari Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNP, beserta Guruh Guino, seorang warga sipil yang kebetulan sedang berada di tempat kejadian perkara (TKP).

Sekretaris Universitas Negeri Padang, Erianjoni, memberikan konfirmasi resmi mengenai kebenaran adanya peristiwa dugaan peluru nyasar yang melukai manusia tersebut.

"From both victims, one of them is an UNP student named Nova Wirantika (25), a student of the Sociology Education Study Program, FIS UNP," kata Erianjoni kepada TribunPadang.com.

Erianjoni memaparkan bahwa untuk satu korban lainnya dipastikan bukan bagian dari civitas akademika atau mahasiswa UNP.

"Another victim is named Guruh Guino. He is not an UNP student, but a friend of one of the UNP students," ujarnya.

Erianjoni memberikan penjelasan lebih dalam bahwa kedua korban tersebut sebenarnya tengah berada di area alun-alun depan Rektorat UNP saat peristiwa itu mendadak terjadi.

Kala itu, Nova bersama Guruh sedang asyik duduk santai berkumpul dengan sejumlah rekan mereka sebelum akhirnya tiba-tiba saja terluka yang disinyalir akibat terjangan peluru nyasar.

"At that time they were sitting with their friends before the incident occurred," jelasnya.

Lantaran luka serius yang dideritanya, Nova terpaksa harus menjalani tindakan operasi medis di Rumah Sakit Hermina Padang.

Langkah operasi tersebut wajib ditempuh lantaran komponen proyektil peluru diketahui masih tertanam di dalam bagian paha sebelah kirinya.

"Nova had to undergo surgery last night because the bullet projectile was still lodged in her left thigh at Hermina Hospital," ungkap Erianjoni.

Di sisi lain, korban bernama Guruh Guino juga sudah mendapatkan tindakan penanganan medis dari tim dokter.

Guruh selanjutnya dipindahkan menuju Rumah Sakit Tentara Rekso Sudiryo Ganting Padang guna menjalani tahapan pemulihan kondisi kesehatan.

"Meanwhile, the victim Guruh Guino has been treated by the medical team and transferred for the recovery process at Rekso Sudiryo Ganting Army Hospital Padang," katanya.

Erianjoni mengutarakan bahwa pada awalnya pihak birokrasi kampus UNP sempat menaruh dugaan bahwa proyektil peluru yang melukai kedua korban itu melesat dari area tempat latihan menembak milik TNI di daerah Lapai.

Zona latihan menembak tersebut diketahui mempunyai jarak bentang sekitar 800 meter dari kawasan Kampus Induk UNP Air Tawar.

Sesaat pasca-kejadian, Rektor UNP Krismadinata yang kebetulan posisinya berada di sekitar TKP langsung bergerak cepat membangun koordinasi dengan rentetan pihak-pihak terkait.

Langkah koordinasi tersebut dijalin bersama Pangdam XX/Tuanku Imam Bonjol, Komandan Batalyon 133/Yudha Sakti, Kepala Badan Intelijen Daerah, hingga jajaran Polsek Padang Utara.

Dalam waktu yang bersamaan, tim petugas medis dari UNP langsung mengevakuasi kedua korban menuju ke rumah sakit terdekat dengan memanfaatkan fasilitas mobil ambulans milik kampus.

"The Rector immediately coordinated with related parties, while the UNP medical team immediately took the victim to Hermina Hospital Padang using the UNP ambulance to get immediate treatment," tutupnya.

Pihak Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol memberikan pernyataan bahwa objek proyektil peluru yang berhasil diangkat dari tubuh korban rupanya mengantongi spesifikasi ukuran yang berbeda dengan jenis amunisi yang dipakai dalam agenda latihan menembak pada hari itu.

Proyektil peluru yang berhasil dikeluarkan dari dalam paha kiri milik korban Nova Wirantika dipastikan memiliki kaliber berukuran 9 milimeter.

Kepala Penerangan Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol, Letkol Kav Taufiq, menyebutkan bahwa jenis kaliber tersebut sangat kontras dengan peluru yang dipergunakan dalam agenda latihan peningkatan kemampuan prajurit di lapangan tembak.

"It is known that during training we used long-barreled weapons with a caliber of 5.56 mm. This means it is slightly different from what was used during training," ujar Taufiq.

Berdasarkan penuturan dari Taufiq, proyektil peluru dengan kaliber berukuran 9 milimeter pada umumnya dioperasikan untuk jenis senjata api genggam atau pistol yang kerap dipakai oleh jajaran aparat penegak hukum, termasuk di dalamnya institusi TNI.

Walaupun kondisinya demikian, pihak Kodam masih enggan untuk terburu-buru menarik kesimpulan terkait dari mana asal muasal proyektil peluru tersebut ditembakkan.

Taufiq memberikan penegasan kembali bahwa segala bentuk kemungkinan dinilai masih terbuka lebar sampai seluruh proses investigasi mendalam serta pengujian balistik rampung dilaksanakan secara menyeluruh.

Institusi Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol kini telah resmi mengesahkan pembentukan tim investigasi khusus guna mengusut tuntas penyebab utama di balik kasus peluru nyasar yang mencederai dua orang di lingkungan kampus UNP tersebut.

Tim investigasi ini juga tengah melakukan pemeriksaan mendalam seputar adanya indikasi atau potensi penggunaan senjata api jenis pistol sewaktu agenda latihan menembak itu berlangsung di lapangan.

"The investigation team is also gathering information from the training committee whether there was a pistol during training," tuturnya.

Bukan hanya itu, proyektil peluru yang telah berhasil dikeluarkan dari bagian tubuh korban nantinya bakal segera diboyong menuju ke laboratorium demi menjalani proses uji balistik ilmiah.

Langkah uji balistik tersebut teramat diperlukan guna memperoleh kepastian hukum apakah proyektil peluru itu murni berasal dari area lapangan latihan tembak atau justru bersumber dari tempat luar lainnya.

"We hope the results of this ballistic test can also help confirm whether this projectile did indeed originate from the training location," kata Taufiq.

Kasus dugaan peluru nyasar tersebut memang meletus di saat jajaran Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol sedang melangsungkan agenda latihan peningkatan kemampuan prajurit di area lapangan tembak yang posisinya berjarak berkisar 800 meter dari TKP korban berada.

Ketika peristiwa itu terjadi, sejumlah kelompok mahasiswa, termasuk di dalamnya pihak korban, dikabarkan tengah mengadakan kegiatan perayaan selebrasi setelah mereka merampungkan agenda ujian seminar kampus.

Taufiq membenarkan perihal adanya pelaksanaan aktivitas latihan menembak oleh prajurit pada waktu tersebut.

Menurut argumennya, latihan di dalam area lapangan tembak tersebut sejatinya merupakan agenda rutin yang digelar setiap triwulan serta semesteran guna memenuhi kebutuhan internal dari satuan.

Akan tetapi, jalannya latihan yang bertepatan dengan momen insiden kemarin merupakan sebuah aktivitas tambahan yang sengaja diadakan demi mendongkrak kemampuan personel sebelum terjun dalam kompetisi menembak internal TNI.

"Therefore, the activity was carried out outside the training calendar. The goal was for the internal TNI shooting competition," ujarnya.

Meskipun secara dimensi waktu dan titik lokasi kejadian tergolong sangat berdekatan dengan aktivitas latihan menembak prajurit, pihak Kodam menegaskan belum bisa memastikan secara sepihak bahwa proyektil peluru yang melukai korban tersebut bersumber dari area dalam latihan.

"We have also examined a number of witnesses to gather information from this incident," katanya.

Pihak Komando Polisi Militer Kodam (Pomdam) XX/Tuanku Imam Bonjol pun dilaporkan telah memeriksa sedikitnya 10 orang saksi demi menyingkap tabir penyebab pasti di balik insiden dugaan peluru nyasar ini.

Komandan Polisi Militer Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol, Kolonel CPM Laksono Puji Lisdianto, menuturkan bahwa jalannya proses pemeriksaan terhadap para saksi hingga kini masih terus bergulir.

"The ones we have questioned are about 10 people," kata Kolonel CPM Laksono Puji Lisdianto saat konferensi pers dengan awak media, Rabu (3/6/2026).

Laksono menguraikan bahwa barisan saksi yang dimintai keterangan tersebut berasal dari beraneka macam pihak.

Mereka di antaranya terdiri dari rekan-rekan dekat korban, jajaran petugas satuan pengamanan (satpam) internal UNP, hingga para prajurit dari kesatuan Batalyon DTP Singgalang yang pada saat kejadian sedang mengoperasikan latihan menembak di kawasan Lapangan Tembak Lapai.

"Indeed, there are already several witnesses we have examined and questioned. That includes the victim's friends, UNP security, as well as personnel who were conducting shooting practice at that time," ujarnya.

Laksono memberikan penekanan bahwa proses investigasi perkara ini masih terus berjalan secara intensif di internal pihak TNI serta dijalankan lewat skema koordinasi melekat bersama jajaran Polda Sumbar.

"Currently, the investigation is still ongoing and being conducted internally by our side as well as in coordination with the West Sumatra Regional Police," tegasnya.

Di samping menginterogasi barisan saksi, pihak TNI juga mengambil langkah tegas dengan menutup sementara waktu operasional dari lokasi latihan menembak di daerah Lapai tersebut.

Taufiq memaparkan bahwa keputusan penutupan tempat tersebut merupakan bagian dari langkah evaluasi total menyusul terjadinya insiden berdarah itu.

"The closure of this shooting location is part of the evaluation. It needs to be understood that our current shooting range conditions are still limited. Nevertheless, from the security aspect such as embankments and other supporting facilities, it remains in a safe condition," kata Taufiq.

Merujuk pada penjelasan Taufiq, area lapangan tembak tersebut dipastikan tidak akan dioperasikan terlebih dahulu sampai seluruh rangkaian investigasi lanjutan dinyatakan selesai secara tuntas.

"Temporarily, this shooting range cannot be used until the follow-up investigation is completed," jelasnya.

Taufiq menambahkan kembali bahwa jalannya proses penyelidikan hukum masih terus diupayakan perkembangannya.

Sementara itu, untuk perkembangan kondisi kesehatan dari kedua korban kini dilaporkan sudah mulai berangsur-angsur membaik dan pulih.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati